;

Selasa, 23 Desember 2008

PERKEMBANGAN TERKINI PENATAAN VARIETAS TEBU DI INDONESIA


Program akselerasi peningkatan produksi dan produktivitas gula Nasional diarahkan untuk memperbaiki komposisi perbandingan tanaman pertama (plant cane) dan tanaman keprasan (ratoon) menjadi seimbang, yaitu ratoon tidak lebih dari 3-4 kali. Untuk itu diluncurkan program rehabilitasi tanaman ratoon panjang dengan istilah bongkar ratoon dengan dukungan penyediaan bibit tebu varietas unggul dalam jumlah yang cukup dan terjamin mutunya. Bantuan program melalui dana APBN disalurkan dalam pola Penguatan Modal Usaha Kelompok (PMUK) dengan model guliran yang diharapkan akan membantu petani merehabilitasi tanaman tebunya, serta pada saatnya terjadi penumpukan modal usaha dalam membangun kelembagaan usaha tani tebu rakyat yang lebih kokoh.

Secara teknis, strategi yang ditempuh adalah pelaksanaan bongkar ratoon dengan menggunakan bibit bermutu dari varietas unggul yang direkomendasi. Fasilitasi pendanaan APBN diarahkan untuk mengatasi kesulitan petani tebu dalam pembongkaran tanaman ratoon, pembangunan kebun bibit dan bantuan pengairan sederhana.

Pada tahun 2008 telah dilaksanakan pembangunan kebun bibit berjenjang KBP, KBN, KBI dan KBD. Sementara itu dari hasil monitoring dan evaluasi kegiatan di lapangan pada tahun 2008 diperoleh hasil sebagai berikut:

Jawa Timur
Lebih dari 95% tanaman tebu di Jawa Timur dikelola oleh rakyat dan program pembangunan kebun bibit telah mampu ditangani pada tingkat benih sebar (KBD) yang dilaksanakan oleh kelompok tani tebu rakyat. Pada tahun 2008 melalui koperasi Primer (Koperasi Usaha Bersama Rosan Kencana) telah diuji coba pengelolaan bibit sejak KBN dengan pengawalan dari P3GI Pasuruan. Komposisi varietas yang ditanam lebih dari 99% merupakan varietas bina dengan dinamika perubahan varietas yang sangat cepat, khususnya di wilayah Kediri dan Sidoarjo. Sementara itu di wilayah Jember, Lumajang, Malang dan Blitar masih didominasi BL, dan wilayah Jombang dan Mojokerto didominasi PS 864.

Varietas yang banyak berkembang di Jawa Timur adalah BL, PS 864, PS 862. Varietas baru PSJT 941, Kidang Kencana/KK, PS 881, PS 882 dan Kentung/KT mulai banyak diminati petani. Kendala utama bahwa ketersediaan bibit varietas baru masih dalam jenjang bibit di Pusat Penelitian yang setara benih penjenis (KBPU). Oleh karena itu apabila harus menunggu proses penjenjangan, maka ketersediaan bibit untuk petani (KBD) akan sangat terlambat. Dengan pola pemuliaan partisipatif dimana adaptasi dan demo varietas telah dilaksanakan di kebun petani, sehingga sumber bibit varietas baru justru telah tersedia di petani. Namun karena tidak dilakukan penjenjangan yang benar, maka antar petani tejadi penjualan bibit varietas baru eks kebun percobaan tanpa adanya penilaian kelayakannya. Oleh karena itu perlu regulasi terbatas agar sasaran peredaran bibit di tingkat petani tetap terawasi dengan mutu, kemurnian dan kesehatan yang baik.

Kelompok tani pembenih tebu profesional banyak berkembang di wilayah Kediri, Jombang, Mojokerto dan Sidoarjo yang mampu melayani kebutuhan bibit di wilayah Jawa Timur lainnya, tetapi juga melayani wilayah Jawa Tengah selatan dan timur, atau sampai ke wilayah Yogyakarta. Pada tahun 2008 bahkan juga melayani kebutuhan di wilayah Jawa Barat. Oleh karena itu pembinaan di tingkat petani pembenih perlu diperkuat dengan regulasi yang mampu memberikan ruang gerak pembenih lebih tepat sasasaran untuk menyediakan bibit bersertifikat. Perlu dipikirkan adanya perubahan konsep penjenjangan benih tebu menjadi klas benih untuk kesetaraan benih pokok dan benih sebar.

Besarnya kebutuhan pelayanan bibit atas varietas unggul yang baru dilepas (PSJT 941, KK, KT, PS 881 dan PS 882), dimana sebagian besar berada pada posisi tanaman tebu giling (PC) yang bibit awalnya dari demo varietas P3GI (yang menerapkan konsep pengujian pemuliaan partisipatif di kebun rakyat), maka regulasi pemeriksaan untuk sertifikasi tidak diperoleh jenjang kebun bibit sebelumnya. Untuk itu perlu dirumuskan aturan terbatas pada kebutuhan varietas tersebut agar sasaran pengawasan peredaran bibit bermutu tetap berjalan sebagaimana tugas pokok dan fungsi BP2MB/Direktorat Teknis Perbenihan Perkebunan.

Kasus yang menonjol adalah kebutuhan varietas masak awal (PS 862, KT, PS 881) dan masak tengah (PSJT 941, KK dan PS 882) yang begitu besar saat ini di wilayah kerja PTPN X dan PTPN XI untuk menggantikan BL dan PS 864, maka P3GI bersama pengawas peredaran BBP2TP mensikapi untuk melakukan monitoring dan evaluasi tanaman PC di kebun rakyat yang layak digunakan sebagai bibit. Kriteria tanaman tersebut layak digunakan sebagai bibit apabila pertumbuhan normal, murni dan sehat, bebas dari penyakit luka api. Sementara itu untuk keperluan bibit KBN, sumber bibitnya harus dilakukan perawatan air panas 50oC selama 2 jam untuk membebaskan penyakit kerdil ratoon.

Jawa Tengah
Jawa Tengah secara tipologi terbagi wilayah pantura barat (Pekalongan, Pemalang, Tegal dan Brebes) yang sebagian besar pengelolaan tanaman tebu pada tanaman pertama (PC) dilaksanakan oleh PG, kemudian dilanjutkan keprasannya oleh petani; sementara itu tanaman tebu di wilayah selatan dan timur (Sragen, Tasikmadu, Klaten, Rembang, Pati, Kudus) hampir seluruhnya dikelola sebagai tanaman tebu rakyat.

Pembangunan kebun bibit di Jawa Tengah umumnya masih terbatas untuk memenuhi kebutuhan tebu sendiri (TS) PG, dan kebutuhan bibit bagi tebu rakyat masih tersedia secara terbatas. Di wilayah Sragen, Tasikmadu, Rembang, Pati dan Kudus dimana sebagian besar tanaman tebu dikelola oleh rakyat sering hanya mengandalkan sumber bibit yang didatangkan dari Jawa Timur (Kediri, Jombang dan Mojokerto). Dana APBN untuk pembangunan kebun bibit di wilayah ini sering tidak terselenggara dengan baik dan digunakan untuk pembelian bibit yang tersedia di Jawa Timur. Oleh karena itu pengaturan penataan varietas melalui penjenjangan kebun bibit tidak berjalan secara baik. Sedangkan di wilayah pantura barat, pembangunan kebun bibit dapat berjalan baik untuk kebutuhan PC PG yang bersangkutan.

Penggunaan varietas bina umumnya mencapai lebih dari 90% okupasi lahan, dimana di wilayah pantura barat terdapat PS 851 (dominan), PS 861, PS 921, PS 951, PS 862 dan PSJT 941. Sedangkan di wilayah selatan dan timur terdapat BL, PS 864 dan PSJT 941 (dominan), PS 851, PS 951 dan PS 862 yang terbatas jumlahnya. Dari kondisi umum tampaknya wilayah pantura barat lebih banyak komposisi varietas masak awal sehingga pada awal hingga pertengahan giling memberikan konstribusi rendemen yang tinggi, tetapi ketika memasuki Agustus hingga akhir giling umumnya tebu sudah banyak kelewat masak dan sebagian mati yang berakibat rendemen turun dan bobot tebu turun. Sementara itu kondisi di wilayah selatan dan timur dominasi masak lambat sehingga rendemen awal giling kurang memuaskan.

Dari komposisi varietas yang ada, wilayah pantura barat perlu segera mengurangi dominasi PS 851 (umumnya >50%) hingga tinggal 30% dan menggantikannya dengan varietas masak lambat (PS 864 untuk tipologi tekstur berat, BL untuk tipologi tekstur ringan), sedangkan wilayah selatan untuk lahan yang mendapatkan pengairan cukup, perlu menanam varietas masak awal (PS 851 dan PS 862). Oleh karena itu secara prinsip komposisi varietas di wilayah Jawa Tengah sudah cukup baik, namun keseimbangan di tingkat wilayah yang kurang tertata varietasnya.

Untuk memperbaiki mutu sumber bibit di Jawa Tengah, kelompok tani dengan KPTR yang ada didorong untuk menyelenggarakan pembenihan sendiri, karena secara pasti kebutuhan bibit (yang setiap tahun harus mengadakan pembelian dari Jawa Timur) dapat dipenuhi oleh kelompoknya. Peran dinas, PG bersama P3GI dapat diperkuat untuk melakukan pembinaan terbentuknya kelompok tani pembenih tebu di Jawa Tengah, sekaligus penataan komposisi yang seimbang untuk memenuhi penataan varietas tebu dapat berjalan dengan baik.

Daerah Istimewa Yogyakarta

Secara umum tanaman tebu di Yogyakarta berada di wilayah Bantul, Sleman, Kulon Progo dan sedikit di Gunung Kidul. Terdapat 9 varietas yang berkebang di wilayah tersebut yang seluruhnya merupakan varietas bina, tetap yang menonjol adalah PS 851, PS 862, PS 864, PS 921, PS 951 dan BL. Pada tahun 2008 perkembangan PS 862 di wilayah cukup air sepert Bantul dan Sleman Barat demikian pesat, dan PSJT 941 serta PS 864 berkembang di lahan kering Kulon Progo dan Gunung Kidul.

Dilihat dari komposisi yang ada pada prinsipnya penataan varietas di Yogyakarta sudah cukup baik, namun jumlah bahan baku tebu untuk memasok PG Madukismo masih sangat kurang, sehingga harus mendatangkan tebu dari wilayah lain dari Jawa Tengah seperti Purworwjo, Temanggung, Magelang dan Sragen. Jumlah kebutuhan bahan baku tebu yang berasal dari luar wilayah inilah yang menjadi kendala utama, dimana penataannya tidak dapat dikendalikan. Oleh karena itu koordinasi yang lebih baik antar wilayah diperlukan agar sasaran peningkatan rendemen dari sumber bahan baku tebu dapat diatur berdasarkan konsep penataan varietas dan prestasi rendemen individu. Dengan demikian pasok untuk awal, tengah dan akhir giling dapat lebih dikendalikan.

Jawa Barat
Sebagian besar wilayah Jawa Barat yang melaksanakan penanaman tebu berada di Kabupaten Cirebon, Majalengka, Subang dan Kuningan. Di wilayah pantura dominasi lahan bertekstur berat, dan hanya sebagian kecil bertekstur ringan. Tipologi lahan umumnya tegalan, dan sebagian kecil berpengairan. Karena daerahnya cenderung datar, maka pada musim penghujan umumnya termasuk kategori tipologi yang rentan gangguan drainasi kebun. Oleh karena itu masalah utama tanaman tebu di Jawa Barat adalah kekurangan air di musim kemarau dan kebanjiran di musim hujan.
Beberapa varietas yang berkembang di wilayah tersebut antara lain PS 851, Kidang Kencana, PSJT 941 dan BL. Melihat kondisi tipologi lahan tersebut, dan berdasarkan kajian adaptasi varietas oleh P3GI, tampaknya PS 864 dan PSJT 941 mempunyai sebaran kesesuaian yang paling luas. Namun PS 864 masih sangat terbatas tersedia, yaitu hasil penangkaran dari kebun petani yang bekas digunakan sebagai percobaan adaptasi dan demo varietas oleh P3GI (pemuliaan partisipatif. Oleh karena itu untuk mempercepat perbaikan komposisi varietas yang ada di Jawa Barat, perlu segera memperbanyak pengadaan PS 864 dan PSJT 941.

Jawa Barat merukan daerah endemik penyakit luka api (Smut). Oleh karena itu dalam adaptasi untuk penataan varietas di wilayah tersebut perhatian yang utama adalah ketahanan terhadap penyakit tersebut. PSJT 941 dan seri yang lain yang dilakukan seleksi awal di Jatitujuh merupakan calon varietas yang tahan terhadap penyakit luka api. Oleh karena itu dorongan untuk pemuliaan ketahanan penyakit luka api pada varietas tebu perlu diperkuat untuk mengatasi masalah di wilayah tersebut.

Sulawesi Selatan
Identifikasi terhadap beberapa varietas yang berkembang di PG Takalar, tampaknya beberapa varietas bina telah tertanam di kebun bibit, antara lain PS 851, PS 862, PS 864, PS 891, BL dan KK. Beberapa varietas non-bina yang banyak berkembang di PG Takalar, antara lain Q 81, TK 163, TK 386 dan Triton. Untuk pengembangan tebu rakyat dengan konsentrasi pada lahan perbukitan sebaiknya hanya disarankan menggunakan varietas PS 864 dan PSJT 941. Sementara itu untuk pengembangan tebu rakyat dengan konsentrasi pada lahan alluvial dengan sumber pengairan yang cukup, disarankan untuk dapat mengembangkan varietas masak awal (PS 862 dan KK) dengan masa tanam Mei-Juli dan ditebang awal giling. Sementara itu PG Camming masih dalam pembenahan, dimana rehabilitasi tanaman lama dengan varietas PS 83-1477, Q 81 dan Triton yang tidak murni. Sambil melaksanakan adaptasi varietas, sementara itu varietas CM 22 (ROC), CM 2021 dan SR 02 mulai dikembangkan di HGU.

Beberapa varietas bina yang jumlah bibitnya masih terbatas, antara lain PS 851, PS 862, PS 864, PSBM 901 dan Kidang Kencana (KK) segera diperbanyak dengan penjenjangan yang baik.

Sumatera Utara
Secara umum varietas yang berkembang di Sumatera Utara adalah F 156 (BZ 134). Beberapa varietas bina yang telah ditanam dalam jumlah terbatas antara lain BL, PS 891 dan PSBM 901. Sementara itu melihat tipologi wilayah dan curah hujan di Sumatera Utara, beberapa varietas bina yang direkomendasi segera dilakukan kajian adaptasi adalah PS 862, PS 881 dan KK, bersama-sama PS 891 dan PSBM 901 segera dipeluas penangkarannya. BL tampaknya sangat rentan terhadap penyakit hangus daun yang telah berkembang di Sumatera Utara, dan F 156 yang telah banyak terserang penyakit kerdil ratoon segera dibongkar diganti varietas baru. Sumber bibit F 156 yang masih sehat dalam jumlah terbatas masih dipertahankan untuk komposisi di pertanaman tebu rakyat.

Penyakit hangus daun dan luka api yang telah tampak di wilayah Sumatera Utara akan menjadi kendala besar dalam pengelolaan varietas tebu di wilayah tersebut. Oleh karena itu adaptasi varietas baru mulai memperhatikan sifat ketahanan terhadap ke dua penyakit tersebut. PSJT 941 yang tahan penyakit luka api dan PSBM 901, KK dan PS 881 yang tahan penyakit hangus daun dapat dipertimbangkan sebagai calon varietas yang segera diperluas apabila adaptasinya cukup baik.

Lampung
Tanaman tebu rakyat di Lampung berkembang luas di wilayah kerja PG Bungamayang, dan dimulai di wilayah kerja PT Gunung Madu Plantation (GMP). Alokasi dana pembangunan kebun bibit dan rehabilitasi tanaman di wilayah tersebut dikelola oleh KPTR Ratu Manis di Bungamayang. Penyelenggaraan kebun bibit dilaksanakan oleh PG, dengan mengingat sebagian besar tebu rakyat di lahan tadah hujan maka varietas yang disediakan adalah PS 864 dan KK. Tampaknya kedua varietas bina tersebut sangat cocok dan diminati petani untuk menggantikan varietas BL yang terserang penyakit hangus daun yang sangat parah di wilayah Lampung. Varietas KK dapat ditebang untuk awal sampai tengah giling, dan PS 864 ditebang pada tengah sampai akhir giling.

Pola kemitraan rintisan tanaman tebu rakyat dilakukan oleh PT GMP. Untuk memenuhi aturan peredaran benih, maka pada tahun 2008 R&D PT GMP telah mengusulkan varietas hasil pemuliaannya yang berkembang di HGU, yaitu RGM 97-8752 dan RGM 97-10120 untuk dilepas menjadi varietas bina menjadi GMP 1 dan GMP 2. Dengan demikian setidaknya terdapat 5 varietas bina yang dapat dikembangkan di Lampung. Sementara itu PSJT 941 yang tampaknya cocok berkembang di HGU PG Bungamayang juga mulai diadaptasikan dan diperbanyak bibitnya untuk tebu rakyat di Bungamayang.

Lampung merupakan daerah endemik penyakit hangus daun (Leaf Scorch). Pengembangan varietas di wilayah tersebut diharapkan memperhatiakan ketahanannya terhadap penyakit tersebut. PSBM 901, PS 881, GMP 1 dan GMP 2 merupakan varietas yang tehan penyakit hangus daun. Hal utama yang perlu diperhatikan agar sumber bibit tebu dari wilayah Lampung tidak diedarkan ke wilayah lain. Apabila terpaksa harus didatangkan dari Lampung, jumlahnya terbatas dan bebar dari daun klaras yang membawa spora penyakit hangus daun, yang mampu menyebar kepada varietas lain yang tidak teruji di wilayah yang lain.

Gorontalo
Beberapa varietas di PG Gorontalo masih didominasi PS 58 dan BZ 148. Sementara itu beberapa varietas lainnya seperti PS 80-1649, PS 862 dan varietas ex RNI masih sedikit. Untuk tahap pertama langkah yang dapat ditempuh adalah mengoptimalkan sumber bibit yang telah tersedia di PG, antara lain PS 58, PS 80-1649 dan PS 862.

Mengingat masih terbatasnya jumlah varietas tebu yang ada, maka segera dilakukan percepatan perbanyakan varietas dari koleksi Litbang PG yang menunjukkan kesesuaian dengan tipologi lahan tebu di Gorontalo. Beberapa varietas bina yang sudah tersedia di koleksi Litbang antara lain PS 851 PS 862, PS 864, BL dan KK. Disamping itu sedang dilakukan kajian adaptasi varietas harapan dengan kode Lakeya (LK) 01, LK 04, LK 06 dan LK 12. Rekomendasi terbatas diberikan untuk varietas harapan selama 2 tahun agar diikuti data adaptasinya untuk proses pengusulan pelepasan.

Kalimantan Barat
Kalimantan Barat, khususnya di Teluk Keramat, Kab. Sambas merupakan daerah rintisan tanaman tebu untuk gula merah.Terdapat dua varietas yang bertahan sampai saat ini yang digunakan sebagai varietas tebu yang cocok untuk pembuatan gula merah, yaitu CP 52-21 dan NCo 376. Melihat potensi rendemen gula merah yang dihasilkan dan kesesuaian pertumbuhan, tampaknya CP 51-21 lebih disukai dan dikembangkan lebih luas oleh masyarakat. Sejak tahun 2007, varietas unggul baru PS 862, PS 864 dan PSJT 941 telah didatangkan dari Pasuruan. Untuk mengetahui daya adaptasi varietas unggul baru segera dilakukan kajian adaptasi atas varietas-varietas tersebut. Untuk itu adaptasi varietas unggul baru di wilayah Sambas segera dilakukan agar terdapat alternatif pendamping CP 51-21 yang telah lama berkembang, dalam memperbaiki komposisi varietas komersial untuk gula merah rakyat di Kalimantan Barat.

Sumatera Barat
Budidaya tanaman tebu di Sumatera Barat masih sangat awam. Terbukti dari sekitar 3.000 ha tanaman tebu di Kabupaten Agam masih sangat sederhana dikelola dengan teknik budidaya masyarakat sebagaimana tanaman tahunan. POJ 2878 dan POJ 100 tampaknya cukup berkembang di wilayah terebut, dikelola untuk bahan baku industri gula merah. Evaluasi yang ada di wilayah tersebut belum ditemukan hama penggerek batang dan penggerek pucuk yang dapat mengganggu varietas tersebut. Oleh karena itu sangat dianjurkan agar tidak mendatangkan bibit tebu dari wilayah lain tanpa dilakukan proses perawatan air panas, agar sumber hama penggerek tidak terbawa ke wilayah Agam.

Rintisan tanaman tebu Kabupaten Dhamasraya oleh swasta (PT Semesta Sejahtera), yang telah mendatangkan bibit dari P3GI, membawa dari Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara sudah mulai diadaptasikan. Beberapa varietas yang tampaknya cocok dikembangkan di wilayah tersebut antara lain PS 862, PS 864, PSJT 941 dan Kidang Kencana. Dari pengamatan kebun telah tampak beberapa penyakit daun (noda kuning, karat daun) dan hama penggerek batang dan penggerek pucuk di wilayah tersebut. Hal ini dimungkinkan karena metode untuk mendatangkan bibit tebu tidak melalui prosedur perawatan air panas, kecuali yang didatangkan dari P3GI (dalam bentuk budset). Perusahaan swasta telah menerapkan teknologi budidaya yang sesuai standar. Oleh karena itu untuk pembelajaran petani tebu di wilayah lain (Kab. Agam) dapat diajak studi banding ke Dhamasraya untuk memperbaiki teknik budidaya tebu di wilayah tersebut (Ir. Eka Sugiyarta, MS, Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia).

Sumber: Direktorat Perbenihan dan Sarana Produksi

BIOFUEL MINYAK JELANTAH TERKENDALA BAHAN BAKU


Prospek bahan bakar nabati (BBN) menurut Nassar Sarkis Senior Manager PT Bumi Energi Ekuator sangat cerah. Hal ini dibuktikan oleh perusahaanya yang mengolah minyak jelantah (eks minyak goreng yang sudah tidak layak lagi digunakan karena sudah digunakan 3-4 kali) menjadi biodiesel. Permintaanya cukup tinggi tetapi tidak bisa dipenuhi karena kendala dibahan baku. Dari kapasitas produksi 1 ton/hari karena ketersediaan bahan baku hanya mampu dipenuhi 300-400 kg/hari.

Dari segi harga BBN minyak jelantah ini mampu bersaing dengan harga solar untuk industri yang tidak disubsidi. Harga jual BBN minyak jelantah mencapai Rp7900/liter sedang solar industri Rp8500/liter. Penggunaan bisa 100% seperti pada bis Pakuan Ekspres di Bogor bisa juga 25% ; 75% atau 50% : 50%. Pemkot Bogor sering diundang meghadiri event-event lingkungan karena penggunaan BBN minyak jelantah ini pada bis Trans Pakuan.

Kesulitan yang dihadapi untuk mendapatkan WCO (Waste Coconut Oil) ini adalah karena persaingan dengan pihak lain juga yang ikut mengumpulkan entah untuk tujuan apa. Dari segi kesehatan untuk orang yang mengerti minyak jelantah ini lebih baik digunakan kembali untuk biodiesel karena tidak dikonsumsi lagi. Sedang bila ada orang menampung untuk digunakan kembali sebagai minyak makan sangat berbahaya bagi kesehatan. Masalahnya harga yang ditawarkan pihak lain ini sering lebih tinggi ketimbang untuk penggunaan biodiesel.

BEE selama ini bekerjasama dengan beberapa restoran untuk menampung minyak jelantah yang sudah tidak digunakan lagi. Selain itu dengan keluaran Cikaret bekerjasamajuga dimana masyarakat mengumpulkan minyak jelantahnya di kelurahan kemudian disetorkan ke BEE. BEE masih membuka kerjasama dengan semua pihak untuk menerima minyak jelantah.

Proses produksi yang digunakan BEE ini relatif sederhana dan tidak memerlukan banyak tenaga kerja dan biaya investasi yang tinggi. Selain untuk mengolah minyak jelantah alat yang dibuat BEE ini bisa mengolah minyak nabati lain seperti CPO, minyak dari jarak, minyak biji karet dll.

Ditawarkan mesin processing bio-diesel dari minyak jelantah dengan kapasitas hingga 30 ton/hari, seharga 70 juta, untuk informasi lebih lanjut hubungi pengelola blog ini di 085925077652

Rabu, 17 Desember 2008

VARIETAS UNGGUN SERAI WANGI

Di bawah ini adalah deskripsi beberapa varietas unggul Serai Wangi milik Balittro

Kamis, 11 Desember 2008

OPTIMISME DI TENGAH GELOMBANG KETIDAKPASTIAN


Kondisi perekonomian Indonesia pasca kuartal kedua diwarnai oleh inflasi setahun terakhir (year-on-year / y.o.y) sebesar 12,14% untuk bulan September, dan 10,47% sepanjang tahun (Januari-September) 2008. Sementara itu nilai suku bunga acuan Bank Indonesia (SBI) ditingkatkan menjadi 9,50%, SBI terus ditingkatkan secara bertahap oleh BI sepanjang tahun ini. Setidaknya paling tidak telah terjadi lima kali peningkatan SBI dalam tahun ini. Di sisi lain, permasalahan ketatnya likuiditas perbankan nasional juga memberikan sentuhan tersendiri bagi perekonomian saat ini, ekpansi kredit perbankan yang meningkat pesat namun kurang diimbangi dengan penghimpunan dana masyarakat yang memadai.

Dari dunia internasional, sektor keuangan internasional yang mengalami krisis hebat memberikan memberikan efek pada semakin tingginya volatilitas (gejolak) sektor keuangan, perlambatan ekonomi dunia dan permasalahan inflasi global yang merata di hampir seluruh negara. Di tengah gonjang-ganjing pasar keuangan global dan perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia, perekonomian Indonesia ternyata masih mengalami pertumbuhan yang tinggi. Tercatat pada kuartal kedua 2008 produk domestik bruto (PDB) Indonesia mengalami pertumbuhan sebesar 6,3% y.o.y.

Sementara itu untuk kuartal ketiga di prediksi akan tumbuh sebesar 6,4% y.o.y. Namun di sisi lain, harga penurunan harga minyak mentah dunia yang cukup drastis dalam beberapa minggu terakhir memberikan sedikit kelonggaran terhadap tekanan yang dihadapi oleh perekonomian dunia. Pada saat tertingginya, harga minyak mentah dunia sempat menyentuh US $ 147 / barel, namun saat ini bergerak di sekitar US $ 70 / barel. Penurunan harga minyak mentah dunia juga diikuti oleh penurunan beberapa komoditas, terumata komoditas yang berkaitan erat dengan minyak mentah, seperti crude palm oil.

Nilai tukar mata uang rupiah masih dapat dikatakan relatif tahan terhadap tekanan krisis, walaupun pada beberpa minggu terakhir sempat mengalami tekanan hebat. Krisis dunia pada sektor perbankan dan pasar modal yang telah menelan korban bank-bank besar dunia yang ada di Amerika dan Eropa telah merembet ke berbagai negara, termasuk Indonesia, dan menyebabkan kepanikan global bagi iklim investasi dan keuangan. Beberapa langkah penanganan krisis telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia, termasuk penyiapan berbagai perangkat untuk mengatasinya. Termasuk oleh Bank Indonesia yang selalu memonitor pergerakan nilai tukar mata uang Rupiah, sehingga tidak terdevaluasi terlalu tajam yang dapat memberikan efek negatif bagi sektor usaha di Indonesia.

Bila menengok perkembangan pasar modal Indonesia, awal Oktober 2008, Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat menghentikan aktivitas perdagangannya selama beberapa hari menyusul kejatuhan indeks harga saham gabungan (IHSG) sebesar lebih dari 10% hanya dalam waktu beberapa jam setelah perdagangan di buka. Saat tulisan ini dibuat IHSG berada di sekitar level 1400-an, paling tidak telah terjadi penurunan nilai lebih dari 50% sejak nilai tertingginya (di atas 2800) pada minggu kedua Januari 2008. Demikian pula nilai transaksi di Bursa Efek Indonesia yang dalam per hari secara rata-rata sempat mencapai 4-5 trilyun rupiah, namun saat ini hanya di sekitar 2-3 trilyun rupiah.

Kinerja Saham Sektor Perkebunan
Gejolak pasar keuangan dunia dan dalam negeri juga memberikan efek bagi sektor perkebunan. Beberapa emiten perkebunan besar yang tercatat dalam bursa seperti PT. Astra Argo Lestari Tbk (AALI), PT London Sumatera Tbk (LSIP), dan PT Bakrie Sumatera Plantation (UNSP) juga terkena imbasnya. Bila dibandingkan dengan awal tahun 2008, hingga harga terakhir pada tanggal 6 Oktober 2008, masing-masing saham tersebut telah mengalami penyusutan harga sebesar 68,33% (AALI), 78,93% (LSIP), dan 81.78% (UNSP).

Bila diperhatikan angka-angka tersebut, ternyata penurunan saham-saham perkebunan jauh lebih besar dibandingkan dengan penurunan IHSG. Kondisi ini sangat kontras jika dibandingkan pada tahun 2006 dan 2007, ketiga saham tersebut mengalami peningkatan harga yang tinggi, dengan sepanjang dua tahun tren harganya selalu meningkat. Namun semenjak Februari 2008 harga saham mereka mengalami tren menurun dari waktu ke waktu.

Penurunan harga-harga saham sektor perkebunan semakin diperparah oleh penurunan harga minyak dunia dan harga-harga komoditas perkebunan, seperti harga CPO. Harga minyak dunia mulai menunjukkan tanda-tanda penurunan paling tidak semenjak bulan Juli 2008. Sementara itu harga CPO sudah mulai menurun semenjak bulan Maret 2008. Berdasarkan data average spot month settlement price of CPO Futures di Bursa Malaysia, semenjak bulan Maret 2008 hingga Oktober 2008 telah terjadi penurunan harga lebih dari 50% .

Secara fundamental, berdasarkan data laporan keuangan kuartal kedua, ketiga perusahaan tersebut memiliki kinerja keuangan yang baik. Masing-masing perusahaan mampu menghasilkan net profit margin (NPM) di atas 20%, sementara ROE itu ROE ketiganya masih lumayan. Bahkan AALI dan LSIP mampu memberikan ROE di atas 25% untuk kuartal kedua tahun 2008. Namun, jika diperhatikan harga saham mereka, hanya AALI yang masih memiliki harga masih cukup jauh dibandingkan dengan nilai buku perusahaan. Sementara harga saham LSIP sudah mendekati nilai bukunya, sedangkan UNSP bahkan telah berada di bawah nilai bukunya.

Prospek Sektor Perkebunan
Sejalan dengan pertumbuhan PDB. subsektor perkebunan mempunyai peran srategis terhadap pertumbuhan ekonomi. Ketika Indonesia mengalami krisis ekonomi yang dimulai tahun 1997, subsektor perkebunan kembali menujukkan peran strategisnya. Pada saat itu, kebanyakan sektor ekonomi mengalami kemunduran bahkan kelumpuhan dimana ekonomi Indonesia mengalami krisis dengan laju pertumbuhan –13% pada tahun 1998. Dalam situasi tersebut, subsektor perkebunan kembali menunjukkan kontribusinya dengan laju pertumbuhan antara 4%-6% per tahun. Jika menengok kembali pada masa krisis ekonomi yang dihadapi Indonesia, sektor perkebunan memberikan kontribusi strategis bagi pertumbuhan perekonomian. Di tengah-tengah kontraksi perekonomian hingga -13% pada tahun 1998, sektor perkebunan malah bertumbuh sebesar 4%-6% per tahun. Demikian pula pada awal tahun ketika perekonomian Indonesia mulai membaik, laju pertumbuhan sektor perkebunan terus bertumbuh berada di atas pertumbuhan perekonomian negara.

Pertumbuhan perekonomian Indonesia yang terjadi pada kuartal I dan II tahun ini di tengah-tengah pelemahan perekonomian dunia salah satunya didorong oleh peningkatan harga ekspor berbagai komoditas perkebunan, seperti CPO dan turunannya, karet dan produk karet, kopi, the, dan kakao. Ekspor Indonesia secara total pada periode Januari-Juni 2008 mencapai nilai US $ 70,45 milyar, dengan demikian hingga kuartal II tahun 2008 Indonesia mengalami surplus sebesar US $ 5,4 milyar.

Surplus perdagangan ini banyak disebabkan oleh kinerja ekspor produk komoditas, terutama CPO yang mengalami peningkatan harga yang tinggi. Nilai ekspor CPO dan turunannya mencapai US $ 9,16 milyar, nilai ini sama dengan 16,9% nilai total ekspor non-migas Indonesia. Kondisi ini sepertinya akan berubah pada kuartal berikutnya karena telah terjadi penurunan harga yang tajam produk-produk komoditas, demikian pula produk komoditas perkebunan. Namun, dengan memperhatikan perkembangan historis sektor pertanian di Indonesia, hal ini tidak perlu terlalu dikhawatirkan, mengingat produk komoditas pertanian merupakan bagian dari produk yang berkontribusi langsung bagi ketahanan pangan dunia.

Berbagai peluang ekspor produk komoditas sektor pertanian masih terbuka sangat lebar. Dengan semakin majunya perekonomian China dan India, paling tidak kedua negara ini memiliki tingkat kebutuhan atas produk komoditas perkebunan yang tinggi. Demikian pula adanya kecenderungan kebutuhan energi terbarukan untuk menggantikan energi fosil, memberikan potensi produk komoditas perkebunan Indonesia akan banyak diminati. Hal ini seperti yang telah ditunjukkan oleh beberapa komoditas perkebunan, seperti CPO yang dapat digunakan sebagai bioenergi. Demikian pula pasar Afrika juga memberikan potensi yang luar biasa besar dan belum banyak tergali bagi ekspor produk komoditas perkebunan Indonesia.

Prospek produk komoditas Indonesia akan terus semakin meningkat jika kita mampu untuk meningkatkan nilai tambah produk. Dengan demikian produk yang dihasilkan tidak hanya diekspor mentah-mentah namun sudah diolah menjadi produk jadi yang bernilai tambah tinggi. Bila satu komoditas dapat dijadikan ratusan bahkan ribuan produk turunan yang memiliki nilai tambah tinggi, maka penghasilan yang diperoleh akan semakin tinggi. Selain itu pengaruh volatilitas harga komoditas mentah terhadap pendapatan perusahaan menjadi semakin dapat direduksi. Produk yang memiliki nilai tambah tinggi cenderung tahan terhadap perubahan harga dalam jangka pendek.

Faktor lainnya yang dapat mendukung prospek sektor perkebunan Indonesia tersedianya alternatif pembiayaan non-bank bagi sektor perkebunan, seperti tersedianya bursa berjangka bagi produk komoditas perkebunan. Kabar gembiranya, Bursa Berjangka Jakarta sudah memberikan angin segar untuk menyelenggarakan perdagangan fisik sejumlah komoditas andalan sektor pertanian dan pertambangan Indonesia, di antaranya adalah kopi, karet, kakao, beras dan CPO. Diharapkan ke depannya hal tersebut dapat menjadi pasar berjangka yang maju yang dapat mendorong perkembangan sektor perkebunan Indonesia. Dengan demikian modal dari masyarakat dapat mengalir lebih efisien dan tepat guna bagi perkembangan sektor perkebunan Indonesia, dan sebaliknya pertumbuhan sektor perkebunan Indonesia akan memberikan dampak signifikan bagi perkembangan perekonomian masyarakat.

Maju terus perkebunan Indonesia!

Tulisan ini ditulis oleh Prof Prof. Roy Sembel, Chief Research Officer CAPITAL PRICE, bersama Guntur Tri Harijanto, MSi Peneliti di CAPITAL PRICE (Research Center for Capital Market, Portfolio Investment, Corporate Finance, and Economics)

(Sumber: Media Perkebunan)

Kamis, 04 Desember 2008

PRODUKTIVITAS RATA-RATA BEBERAPA KOMODITAS PERKEBUNAN

Tabel di bawah menunjukkan produktivitas rata-rata dari beberapa komoditas perkebunan. Data ini bisa digunakan untuk evaluasi mengevaluasi. Jika produktivitas pertanaman Anda untuk salah satu komoditas di bawah masih rendah, bisa jadi benih yang Anda gunakan tidak unggul, atau teknik budidaya yang Anda lakukan kurang tepat.


Sumber : Hasil penelitian Puslit lingkup perkebunan

Minggu, 30 November 2008

BISNIS WARALABA BENIH YANG MENGIURKAN


Tidak hanya restoran siap saji yang memiliki waralaba tapi juga perbenihan. Waralaba benih tanaman perkebunan dibangun dengan melibatkan peneliti sebagai pemilik benih sekaligus supervisior dan pihak pengelola usaha, petani maupun swasta. Jadi melalui waralaba benih, seseorang bisa membibitkan dan menjual benih unggul milik peneliti/pusat peneliti.

Tapi pertanyaan selanjutnya, apa bisnis ini menguntungkan? Saya coba menjawab melalui ilustrasi bagaimana usaha ini dijalankan. Misalnya saja benih yang diwaralabakan adalah benih sawit.

Katakanlah sebagai pewaralaba maka saya akan mendapatkan benih unggul milik seorang peneliti/Pusat penelitian. Dan harga benih sawit saat ini adalah sekitar Rp. 6.000,-/kecambah milik Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan. Kecambah ini kemudian saya bibitkan hingga 9 atau 12 bulan. Berdasarkan pengalaman sejumlah penangkar biaya pemeliharaan akan menghabiskan sekitar Rp. 10.000/kecambah selama 9 bulan.

Kemudian saya memutuskan menjual bibit saya setelah berumur 9 bulan. Disinilah keajaiban dari bisnis ini mulai terlihat. Konon pasaran harga bibit umur 9 bulan adalah sekitar Rp. 28.000,- s/d Rp. 30.000,-. Bahkan berdasarkan pengalaman seorang penangkar yang berwaralaba dengan Pusat Penelitian Kelapa Sawit Medan (PPKS), seluruhnya bibitnya pernah dipesan oleh Pemda dengan bandrol 35.000,- untuk bibit umur 9 bulan.

Anda pasti sudah bisa menebak bahwa saya untung besar. Saya mendapatkan 12.000/kecambah. Hebatnya lagi ini terjadi hanya dalam waktu 9 bulan. Seandainya saya memiliki bibit sebanyak 1000 batang, maka dengan modal 16 juta saya bisa mendapatkan keuntungan sampai dengan 12 juta. Setelah membayar biaya royaliti kepada peneliti (kewajiban pewaralaba umumnya dalam bentuk proporsi), maka sisa keuntungan langsung masuk ke kocek saya. Luar biasa bukan?

Menariknya lagi data-data di atas bukanlah informasi yang saya ciptakan sendiri. Melainkan berdasarkan referensi rekan-rekan pewaralaba yang sudah menikmati hasil dari bisnis ini. Jadi jika mau mencoba bisa jadi Andapun bisa mengalami hal yang sama.

Disamping itu potensi pasarnya juga jelas. Barangkali yang cukup mengejutkan, saat ini sejumlah pemerintah daerah telah menganggarkan dana untuk penyediaan benih.Jumlah anggarannya juga cukup besar. Bahkan di sejumlah program daerah harga bibit dibandrol di atas harga pasar. Tentu ini akan menjadi nasib baik dari seorang pewaralaba yang kebetulan mengikat kerja sama dengan pemda tersebut. Apalagi saat ini bibit yang bermutu masih cukup terbatas.

Namun permintaan tidak hanya datang dari pemerintah daerah namun juga dari petani maupun swasta. Konon saat ini penggunaan benih bermutu di Indonesia masih cukup rendah, yakni 30 % dari luas areal yang perkebunan. Namun dengan semakin tingginya kesadaran masyarakat menggunakan benih bermutu diperkirakan kedepannya permintaan untuk bibit tanaman perkebunan yang unggul dan bermutu akan meningkat pesat.

Menarik juga, tapi kemudian Anda bertanya-tanya, bagaimana caranya untuk dapat berwaralaba? Pada dasarnya tidak sulit. Tentunya, syarat awalnya, Anda harus memiliki lahan. Setelah itu Anda harus mengurus Tanda Registrasi Usaha Pembenihan (TRUP), agar bisa berbisnis di bidang penangkar bibit. Setelah itu Anda dapat menghubungi Pusat Penelitian asal atau pemilik bibit yang ingin Anda waralabakan, dengan terlebih dahulu meminta rekomendasi dari Dinas Perkebunan dimana anda berada.

Oleh sebab itu jika Anda memiliki rencana memiliki usaha waralaba tentu waralaba benih merupakan salah satu pilihan yang menarik. Modalnya tidak terlalu besar tapi untungnya mengejutkan.

(Untuk informasi lebih lanjut tentang waralaba benih silahkan menghubungi pengelola blog ini di nomor 085925077652)

Sabtu, 29 November 2008

SULAWESI 1 DAN 2 VARIETAS KAKAO UNGGUL KHAS CELEBES


Jika Sumatera terkenal dengan kelapa sawit maka Sulawesi terkenal dengan Kakaonya. Bahkan pulau yang punya nama lain Celebes ini, saat ini memiliki varietas kakaonya sendiri yakni Sulawesi 1 dan Sulawesi 2. Konon kedua jenis varietas ini sudah dikenal petani lebih dari 30 tahun.

Berdasarkan data yang dilansir Mars Symbioscience potensi buah untuk Sulawesi 1 bisa mencapai 1,8 – 2,5 ton/ha pada tahun ke 5, nilai buah 23, kadar lemak 53 persen. Sedangkan Sulawesi 2 potensi produksi buahnya bisa mencapai 1,8 – 2,7 ton/ha pada tahun ke-5, nilai buah 2 dan kadar lemak 45 – 47 persen. Untuk ketahanan hama Sulawesi 1 memiliki keunggulan istimewa karena relatif tahan dengan hama VSD yang meresahkan petani kakao di Indonesia namun sulawesi 2 agak rentan.

Konon kedua varietas ini sudah menyebar secara luas di kalangan petani di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Barat. Kualitas biji kakao yang dihasilkan varietas tersebut juga cukup mengembirakan. Menurut Gubernur Sulawesi Barat, dalam presentasinya di depan Sidang pelepasan varietas di Jakarta (27/11), biji kakao Sulawesi paling diminati importir Malaysia.

Agar tidak menjadi benih ilegal maka empat Pemerintah Daerah dari Sulawesi mengusulkan varietas Sulawesi 1 dan 2 untuk ditetapkan menjadi benih bina dalam sidang pelepasan varietas. Pada sidang yang dilaksanakan tangga 27 Nopember 2008 bertempat di Ruang Rapat Lt 1, Gadung C, Kantor Pusat Deptan-ragunan, Tim peninjau memutuskan melepas kedua varietas tersebut. Dan akan sah menjadi benih bina setelah mendapatkan SK dari Menteri Pertanian.

Setelah menjadi benih bina kedua varietas tersebut dapat disebarluaskan secara komersial sebagai bahan tanam. Pemerintah Daerah Sulsel, Sulbar, Sultra dan Sulteng menjadi pemilik varietas Sulawesi 1 dan 2 tersebut yang rencananya akan membangun kebun induk di wilayah masing-masing.

Minggu, 23 November 2008

PENYEBARAN DAN KESUAIAN LAHAN UNTUK SAWIT

Gambar di bawah menunjukkan wilayah penyebaran sawit di Indonesia. Serta kesesuaian lahan untuk pengembangan sawit yang dibedakan berdasarkan klas tanah.


(Sumber: PPKS Medan)

PERBANDINGAN PRODUKSI KLON-KLON KARET PENGHASIL LATEX ANJURAN

Grafik di bawah ini mengambarkan perbedaan potensi produksi karet kering dari klon-klon anjuran penghasil latex .


(Sumber: Balai Penelitian Karet Getas)

Kamis, 20 November 2008

JASA PENGURUSAN IZIN PUPUK DAN PESTISIDA

Setiap pupuk dan pestisida yang beredar harus memiliki izin dari Pemerintah. Tujuannya agar setiap produk teregister dan terdata dengan baik.

Keuntungan adanya izin bagi produsen adalah :
1. Dapat memasarkan produk tersebut untuk umum maupun penawaran di berbagai perusahaan besar.
2. Memperoleh rekomendasi oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah untuk digukan oleh petani
3. Produsen terbebas dari adanya sanksi hukum dan denda karena mengedarkan pupuk atau pestisida tanpa izin sama saja mengendarkan barang yang ilegal.

Bagi rekan-rekan yang ingin mendapatkan izin dengan mudah tanpa bersusah payah maka BROTHER KONSULTAN, siap menbantu. BROTHER KONSULTAN telah berpengalaman dalam pengurusan izin dan telah membantu perusahaan pupuk dan pestisida di Indonesia.

Bagi Anda yang ingin mendapatkan jasa BROTHER KONSULTAN silahkan hubungi ke no 085925077652, 08176342426 atau 081351703535

KRITERIA KESESUAIAN LAHAN DAN IKLIM TANAMAN NILAM


Sumber: Balittro.

PEDOMAN PEMASUKAN DAN PENGELUARAN BENIH TANAMAN PERKEBUNAN

Bagi Anda yang tertarik melakukan impor atau ekspor bibit/benih tanaman perkebunan, silahkan download pedoman pemasukan dan pengeluaran tanaman perkebunan. [Download]

DITAWARKAN TANAH SELUAS 2 HA DI DAERAH CINERE

Sebuah tawaran menarik bagi rekan-rekan yang bergelut di bisnis properti. Dijual tanah di wilayah Cinere seluas 2 ha, lokasi strategis. Dengan perincian sebagai berikuti:

A. Lokasi Tanah
Property atas nama Tuan Johanes LSJ terletak di
Jalan : Jl. Cinere Mas
Kelurahan : Lebak Bulus
Kecamatan : Cilandak
Wilayah : Jakarta Selatan

Batas-batas lokasi
Sebelah utara : Pemukiman penduduk
Sebelah selatan : Jl. Cinere Mas
Sebelah barat : Tanah Kosong
Sebelah timur : Rumah tinggal

B. Kondisi Tanah
Penggunaan Tanah : Tanah kosong & Kebun Palawija
Luas Tanah : 20.495 M2
Bentuk Tanah : Tidak beraturan
Kontur Tanah : Berombak
Kemunkinan Banjir : Tidak ada
Daya Dukung Tanah : Baik
Pagar Keliling : Beton Fabrikasi

Bagi Anda yang berminat silahkan menghubungi pengelola blog ini di no 085925077652. Penjualan akan dilakukan secara langsung tanpa perantara.

Minggu, 16 November 2008

SUPERGENE MENYERBU INDONESIA

Benih sawit “supergene” mulai merambah luas pada wilayah pengembangan sawit di Indonesia. Meski pemerintah belum mengeluarkan izin beredar, namun benih ilegal ini sudah menyebar. Diduga tidak hanya petani yang telah menggunakan “supergene” namun juga perusahaan swasta, dan diperkirakan masuk ke wilayah Indonesia sejak 9 tahun yang lalu.

Dari investigasi Tim dari Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBP2TP) Medan terhadap peredaran benih supergene pada bulan Oktober yang lalu (2008) di beberapa Propinsi di Sumatera diperoleh hasil yang cukup mengejutkan. Tim tersebut menemukan sejumlah kebun produksi yang menanam “supergene” di wilayah Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan dan Lampung (wilayah investigasi) dengan luas areal temuan hingga 4.000-an ha.

Di Kabupaten Deli, Sumatera Utara, Tim mejumpai kebun sawit menggunakan “supergene” seluas 33,6 Ha. Di Propinsi Riau tim menemukan kebun serupa dengan luas lebih dari 400 ha. Namun yang lebih fantastis adalah hasil temuan di propinsi Sumatera Selatan dan Lampung, masing-masing seluas 600 ha dan 2.700 ha. Sebagian besar kebun-kebun tersebut milik perusahaan swasta.

Selain kebun produksi dengan “supergene”, tim juga menemukan pembibitan supergene di kabupaten Langkat Propinsi Sumatera Utara, Kabupaten Palalawan Propinsi Riau, Kabupaten Sorolangun Propinsi Jambi. Hasil di atas membuktikan bahwa peredaran benih ilegal cukup luas dan memerlukan tanggapan serius dari pemerintah.

“Supergene” merupakan jenis kelapa sawit hibrida D x P temuan seorang ahli agronomi asal Malaysia bernama Dr. Fang. Benih ini kemudian dikembangkan oleh IRHO Supergene Development, Ltd sebuah perusahaan asal Malaysia. Namun “supergene” hingga saat ini belum mendapatkan legalitas untuk dapat diedarkan dari pemerintah Negara Malaysia, sehingga otomatis tidak dapat didistribusikan di Indonesia. Masuknya benih “supergene” ke wilayah Indonesia dipastikan dengan jalur tak resmi melalui laut. Sehingga status benih “supergene” di Indonesia sama dengan benih asalan lainnya atau dapat dikategorikan sebagai benih palsu.

Tanaman jenis “supergene” diklaim memiliki keunggulan antara lain memiliki tingkat produksi hingga 50 ton per hektar, memiliki kandungan randemen (oil extraction ratio) yang tinggi mencapai 26%-28%. Selain itu, kandungan beta carotene 1.000 ppm ke atas, randemen iInformasi tentang supergene. Informasi inilah yang kemudian menyebar dari mulut ke mulut maupun jaringan internet hingga menarik minat banyak pihak untuk membeli.

Namun tanpa adanya bukti legalitas, maka tidak ada jaminan "supergene" bakal menghasilkan tingkat produksi yang memuaskan. Bisa jadi hasil yang bakal diperoleh tidak seperti yang diiming-imingkan atau malah jauh lebih rendah dari yang diklaim. Jika hal tersebut terjadi maka konsumen yang akhirnya dirugikan. Oleh sebab itu para calon pengguna benih sebaiknya menggunakan kecambah asal sumber benih legal baik yang berada di Indonesia maupun luar negeri, yang sudah terjamin kualitasnya.

Kamis, 13 November 2008

KLON ANJURAN DAN HARAPAN


Berdasarkan hasil rumusan Lokakarya Nasional Pemuliaan Tanaman Karet tanggal 22-23 Nopember 2005 yang diadakan oleh Pusat Penelitian Karet, klon-klon karet yang direkomendasikan untuk periode 2006-2010 adalah sebagai berikut:

Klon Anjuran Komersial
Klon penghasil lateks
BPM 24, BPM107, BPM 109, IRR 104,PB 217 dan PB 260
Klon penghasil lateks-kayu
BPM 1, PB 330, PB 340, RRIC 100, AVROS 2037, IRR 5, IRR 32, IRR 39, 1RR 42, 1RR 112, 1RR 118
Klon penghasil kayu
IRR 70, IRR 71, IRR 72, IRR 78

Klon Harapan
IRR 24, IRR 33, IRR 41, IRR 54 , IRR 64, IRR 105, IRR 107, IRR 111, IRR 119, IRR 141, IRR 208, IRR 211, IRR220

(Pesan segera bibit bermutu, dan bersertifikat dan menggunakan klon-klon anjuran pada Asosiasi Penangkar Benih Perkebunan Sumatera Selatan)

GAMBAR MENARIK


Apakah yang sedang dilakukan si Ibu?
Percayakan Anda ini adalah gambaran bagaimana CPO diproduksi di Angola. Menggunakan peralatan seadanya layaknya membuat gulai ayam. Angola merupakan memiliki kekayaan genetis kelapa sawit, namun komoditas tersebut belum terindustrisasi dan berbasis rumah tangga.

PROSES PEMULIAAN KELAPA SAWIT


Secara umum, pemuliaan tanaman dapat didefinisikan sebagai rangkaian kegiatan penelitian dan pengujian atau kegiatan penemuan dan pengembangan suatu varietas, sesuai dengan metode baku untuk menghasilkan varietas baru dan mempertahankan kemurnian benih varietas yang dihasilkan. Untuk dapat menghasilkan dan mengembangkan varietas kelapa sawit, setiap institusi riset kelapa sawit harus memiliki beberapa hal sebagai berikut :

a. Populasi dasar dura dan tenera/pisifera

Seluruh kegiatan pemuliaan kelapa sawit berawal dari pembentukan populasi dasar yang terdiri atas grup dura, tenera, dan pisifera dari berbagai orijin di tingkat seleksi. Jumlah dan jenis orijin/famili yang digunakan oleh setiap lembaga riset dapat berbeda, bergantung pada arah pemuliaan dan kapasitas benih yang akan dihasilkan. Ketersediaan populasi dura dan populasi tenera/pisifera menjadi penting bagi sumber benih karena berkaitan dengan kesinambungan program pemuliaan. Dengan demikian diharapkan institusi yang menjadi sumber benih dapat melakukan aktivitas pemuliaannya (perakitan dan pengembangan varietas) secara independen, tanpa bergantung pada institusi lain. Hal penting lainnya dalam pembentukan populasi dasar ini adalah ketersediaan informasi pedigree (silsilah keturunan) yang jelas dari masing-masing orijin/famili dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

b. Prosedur Pemuliaan

Dalam bidang pemuliaan tanaman dikenal berbagai skema seleksi, dan yang sering digunakan pada pemuliaan kelapa sawit adalah reciprocal recurrent selection (RRS) dan modified recurrent selection (MRS). Secara umum, di setiap prosedur pemuliaan kelapa sawit terdapat tahapan inti mencakup pembentukan populasi dasar, evaluasi, seleksi, serta rekombinasi. Dari populasi dasar yang telah dibentuk dilakukan suatu tahapan evaluasi melalui pengujian keturunan (progeny test) untuk menganalisis dan menentukan persilangan terbaik yang akan direproduksi berdasarkan nilai daya gabung umum (GCA) dan daya gabung khusus (SCA) dari tetua (progenitor) yang diuji. Berdasarkan informasi daya gabung tersebut tersebut dilakukan seleksi untuk menentukan tetua-tetua yang dapat dijadikan pohon induk untuk produksi benih. Selain untuk menentukan materi pohon induk, pada tahapan seleksi ini juga dilakukan pemilihan tetua yang akan direkombinasikan untuk mencari materi persilangan dengan potensi yang lebih baik yang digunakan pada siklus pemuliaan berikutnya. Melalui rekombinasi diharapkan dapat membentuk suatu populasi dasar baru dengan sifat-sifat yang lebih baik dari populasi dasar sebelumnya.

c. Proses pengujian keturunan (projeni)

Pengujian keturunan merupakan rangkaian percobaan yang didesain untuk menilai dengan akurat keragaan suatu hibrida (persilangan). Pengujian ini merupakan suatu hal yang mutlak untuk dilakukan oleh setiap sumber benih, karena materi yang sampai ke tangan konsumen adalah hibrida DxP. Pengujian dilakukan mengikuti metode statistik baku, mencakup perancangan percobaan (jumlah persilangan, jumlah ulangan, jumlah individu, standard cross ), masa pengamatan (minimal selama 6 tahun setelah tanam), lokasi percobaan (dilakukan minimal pada 3 lokasi), dan metode analisis data yang digunakan untuk memprediksi nilai hibrida DxP yang akan direproduksi (Razak Purba, PPKS Medan*).

Ket*: Bapak Razak Purba, breeder senior di Pusat Penelitian Kelapa Sawit Medan

Senin, 10 November 2008

INGIN MENDAPATKAN BENIH SAWIT BERMUTU?

Bagi rekan-rekan yang ingin mendapatkan benih bermutu asal sumber benih untuk penyaluran tahun 2008 maupun 2009, silahkan menghubungi kami. Anda akan kami bantu mendapatkan benih sesuai prosedur yang berlaku dan tanpa perantara. Bagi yang berminat silahkan menghubungi kami di no 085925077652

Minggu, 09 November 2008

PEMELIHARAAN BAHAN TANAM NILAM DI PESEMAIAN


Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam perbanyakan tanaman nilam

Pertama, Untuk menjaga kelembaban, setek yang baru disemai perlu disiram dengan embrat.

Kedua, Penyiraman dilakukan setelah penyemaian, kemudian disungkup dengan sungkup plastik.

Ketiga, Penyiraman selanjutnya setelah 2-3 hari. Selama di dalam sungkup, penyiraman tidak perlu dilakukan setiap hari.

Keempat, Sungkup dibuka setelah tanaman berumur 2 minggu.

Kelima, Pemberian pupuk daun dan penanggulangan hama/penyakit (kalau diperlukan) dilakukan satu kali seminggu.

Keenam, Benih siap tanam setelah 1,5 bulan dipersemaian

(Dapatkan informasi lainnya tentang lengkap Nilam dalam e-file Nilam)

MEDIA PERKEBUNAN EDISI TERBARU



Beberapa cuplikan artikel menarik pada Media Perkebunan Edisi Terbaru

Ekspor Komoditas Perkebunan Ditengah Krisis Ekonomi Global
Krisis ekonomi golobal, yang dipicu oleh krisis keuangan di Amerika Serikat bagaimanapun akan mempengaruhi ekspor non migas Indonesia. Produk ekspor non migas utama Indonesia ke AS antara lain komoditas perkebunan, tekstil, sepatu dan produk kayu olahan. Dalam kurun waktu Januari-Agustus 2008, AS masih tetap menjadi favorit tujuan ekspor Indonesia dan menduduki tempat kedua setelah Eropa. Jepang menjadi tujuan ekspor non migas terbesar dengan nilai US$ 9,19 milliar, diikuti AS sebesar US$ 8,51 milliar. Pertumbuhan ekspor non migas Indonesia ke AS periode Januari-Agustus 2008 sekitar 11,58%. Hampir mencapai target pertumbuhan ekspor Indonesia 2008 yang sebesar 12,5%.


Prof. Roy Sembel & Guntur Tri Harijanto, Msi : Optimisme ditengah Gelombang Ketidakpastian

Kondisi perekonomian Indonesia pasca kuartal kedua diwarnai oleh inflasi setahun terakhir (year-on-year / y.o.y) sebesar 12,14% untuk bulan September, dan 10,47% sepanjang tahun (Januari-September) 2008. Sementara itu, nilai suku bunga acuan Bank Indonesia (SBI) ditingkatkan menjadi 9,50%, SBI terus ditingkatkan secara bertahap oleh BI sepanjang tahun ini. Setidaknya paling tidak telah terjadi lima kali peningkatan SBI dalam tahun ini. Di sisi lain, permasalahan ketatnya likuiditas perbankan nasional juga memberikan sentuhan tersendiri bagi perekonomian saat ini, ekpansi kredit perbankan yang meningkat pesat namun kurang diimbangi dengan penghimpunan dana masyarakat yang memadai.

DR. Adler Haymans Manurung & Arga Paradita : Dampak Krisis Harga CPO Terhadap Kinerja Emiten Perkebunan di Bursa Efek Indonesia
Sebagai negara agraris yang memiliki iklim dua musim dan curah hujan yang tersedia sepanjang tahun dengan rata-rata curah hujan 2000 mm/th menjadikan sebagian besar lahan di Indonesia cocok sebagai tempat tumbuh beberapa tanaman, apalagi dengan masih tersedianya luasan areal yang dapat ditanami. Kondisi ini memungkinkan banyak investor baik asing maupun lokal menanamkan modal pada sektor perkebunan di Indonesia.

Gerakan Meningkatkan Produksi dan Mutu Kakao Indonesia
Pemerintah mulai tahun 2009 akan melancarkan Gerakan Peningkatan Produksi dan Mutu Kakao. Adalah Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla yang menetapkan gerakan ini pada pertemuan koordinasi pembangunan tanggal 6 Agustus 2008 lalu di Makassar –Sulawesi Selatan. Pertemuan ini dihadiri oleh beberapa Gubernur dan Bupati se-wilayah Sulawesi. Gerakan ini mendapat dukungan dari para Gubernur se Sulawesi, pihak perbankan, lembaga penelitian dan beberapa perguruan tinggi. Hal ini terlihat dengan adanya kesepakatan dari para pejabat berbagai instansi tersebut.

Media Perkebunan dapat diperoleh di Toko Buku Gramedia dan Gunung Agung. Untuk informasi berlangganan kunjungi website Media Perkebunan

Sabtu, 08 November 2008

ANTISIPASI TERHADAP KRISIS HARGA KELAPA SAWIT


Di bawah ini adalah beberapa poin pernyataan Direktur Jenderal Perkebunan, Ahmad Mangga Barani, tentang antisipasi pemerintah terhadap krisis harga kelapa sawit. Hal ini disampaikan beliau dalam wawancana dengan wartawan media Info-Sawit dan media Perkebunan, beberapa minggu yang lalu.

Pada awal statementnya Direktur Jenderal Perkebunan menjelaskan, bahwa yang terkena dampak kerugian terbesar adalah petani swadaya, yang menerima harga pembelian TBS 300/kg (pada saat wawancara). Karena mereka langsung berhadapan kondisi pasar yang real.

Sedangkan petani inti-plasma masih meninkmati harga yang lebih baik, yakni sekitar Rp. 600/kg (pada saat wawancara). Hal ini karena harga yang diterima petani tidak didasarkan langsung pada harga pasar melainkan penetapan harga pada bulan sebelumnya.

“Ini adalah sisi positif dari sistem kerja sama Inti-plasma, yang saat harga CPO boom dikritik karena mengurangi keuntungan ekonomi yang bisa dinikmati petani, karena harga beli Inti lebih rendah dari harga pasar”, katanya.

Namun demikian, pemerintah tetap akan berusaha berupaya mengurangi beban petani dengan mendorong peningkatkan harga beli TBS. Serta akan mengurangi kewajiban-kewajiban di tingkat pengusaha yang akhirnya ditimpakan pada petani.

Langkah pertama adalah menyerap kelebihan supply CPO yang seharusnya di ekspor ke Eropa maupun ke Amerika Serikat ke pasar domestik. Dalam hal ini diarahkan untuk penyediaan bahan bakar bio-diesel di dalam negeri. Langkah kedua adalah mencari pasar-pasar potensial baru seperti Afrika, Timur Tengah dan Rusia.

Terkait dengan beban di tingkat pengusaha, Direktur Jenderal Perkebunan mengatakan, pemerintah akan menurunkan pajak ekspor pungutan ekspor menjadi 7,5 persen dan bukan tidak mungkin menjadi 0 persen. Tentunya dengan berbagai pertimbangan yang rasional. Tujuannya mengurangi beban pengusaha dan eksportir CPO yang secara tidak langsung dibebankan kepada petani.

Namun untuk jangka panjang menurut Direktur Jenderal Perkebunan, industri sawit perlu diarahkan untuk lebih terdiversifikasi. Tidak hanya melulu ekspor dalam bentuk CPO saja namun juga produk olahan dengan nilai tambah yang lebih tinggi. Sehingga produk dari sawit yang diekspor memiliki pangsa pasar yang lebih beragam dengan tingkat harga yang berbeda-beda pula.

Untuk petani, Direktur Jenderal Perkebunan mengingatkan perlunya menabung atau menyediakan dana mengantisipasi gejolak. Harga komoditas perkebunan yang berorientasi ekspor cenderung memiliki harga yang tidak stabil. Oleh sebab itu jika petani tengah menikmati harga yang boombastik, sebaiknya tidak lupa untuk menyisihkan keuntungannya untuk menghadapi resiko di masa yang akan datang atau melakukan investasi di bidang lain.

“Pengalaman harga naik dan turun secara tidak terduga bukan hal baru untuk komoditas perkebunan. Komoditas lainnya seperti cengkeh, nilam, vanili pernah mengalami hal demikian. Bahkan ada yang berakhir dengan tragis, menjadi komoditas yang tidak lagi menarik untuk dikembangkan. Oleh sebab itu perlu selalu waspada”, ungkap Direktur Jenderal Perkebunan.

ANDA BUTUH NARASUMBER PERBENIHAN?

Bagi rekan-rekan yang membutuhkan narasumber membahas berbagai topik tentang perbenihan perkebunan khususnya untuk komoditi kelapa sawit, karet, kakao, jarak pagar, nilam, jambu mete, dapat menghubungi kami di 085925077652 atau via email hendra_has@deptan.go.id.

Kami akan mendatangkan ahli-ahli di bidang perbenihan perkebunan sesuai dengan kebutuhan Anda. Mereka berasal dari Lembaga Penelitian, Universitas maupun praktisi.

Beberapa topik yang menarik untuk diulas (waralaba benih, tata cara membangun kebun benih tanaman perkebunan, tata niaga benih sawit, benih sawit palsu, prospek bisnis benih)

PENGEMBANGAN METABOLIT SEKUNDER ASAL TANAMAN DAN STRATEGI PENGGUNAAN SEBAGAI PESTISIDA NABATI


Dalam kaitan dengan pengendalian OPT, aspek yang perlu disimak secara seksama adlah peran ”senyawa penghubung” ini (infochemicals) dalam mengatur pertumbuhan populasi dan musuh alami. Konsep ini kemudian juga berkembang menjadi konsep three-trophic-level yang percaya bahwa tumbuhan juga mengatur populasi musuh alami.

Semiokimia dapat dimanfaatkan untuk pengendalian serangga hama dalam lingkungan PHT. Dari tumbuhan, hewan dan mikrob, semiokimia dikelompokkan lagi menjadi feromon dan alelokimia. Alelokimia dikelompokkan lagi menjadi alomon, kairomon, dan sinomon, antibiotika dan mikroba.

Dampak alelokimia pada ekodinamika tumbuhan dengan serangga
1) Alomon : menolak makan, menolak menelan, menghambat reproduksi, menghambat ganti kulit, menghambat enzim proteae. menghambat enzim respirasi 2) Kairomon : menari musuh alami 3) Sinomon : saling menarik dan 4) Feromon : mengacaukan perkawinan

Pencarian senyawa kimia baru dari tumbuhan, mikroba dan hewan akan terus dilakukan sejalan dengan teknologi analisis kimia yang semakin canggih. Eludisasi struktur kimia dari senyawa-senyawa kimia produk alami terus berkembang. Studi biokomia untuk mencari target dari senyawa kimia juga. Eludisasi struktur kimia dan penemuan target kerja senyawa alomon akan terus merangsang sintesis senyawa insektisida baru.

Telaah dan pencarian senyawa bersifat kairomon terus ditingkatkan, termasuk dampaknya pada perilaku mencari inang dari musuh alami. Senyawa alomon yang terus ditelaah untuk dikembangkan menjadi insektisida adalah senyawa yang bersifat menolak makan, menolak oviposisi, menghambat enzim, menghambat kerja neurotransmiter, mengganggu pertumbuhan (kairomon) dan mengganggu proses pencernaan. Feromon baru akan terus dicari dan disintesis. Penelitian dan pencarian genpengatur produksi alomon akan terus dilakukan untuk pengembangan tanaman transgenik tahan serangga.

Teknologi

Adanya potensi dari senyawa metabolik sekunder sebagai insektisida telah mendorong pengembangannya ke segala arah. Bidang inipun tidak liput dari pengembangan secara bioteknologi. Salah satu pendekatan adalah identifikasi gen pengendali produksi senyawa bioaktif ini dan berusaha untuk menyisipkan pada tanaman ekonomi.
Keberhasilan tanaman jagung dan kapas yang telah disisipi gen dari B.t. (Bacillus thuringiensis) telah memacu pemikiran kearah tanaman transgenik yang mampu menghasilkan senyawa pertahanan terhadap serangga.

Senyawa lain diminati adalah penghambat enzim proteinase paada serangga, khitin dan senyawa yang dapat menginduksi produksi senyawa metabolit sekunder. Trikhoma yang dapat menyebaerkan ketahanan pada tumbuhan telah pula mendapat perhatian dalam kaitan dengan tanaman transgenik.

Produksi senyawa metabolit sekunder untuk insektisida telah diusahakan lewat kultur jaringan seperti nimba, piretrum dan akar tuba. Perhatian telah diutamakan pada senyawa hormon serangga, penghambattransmisi syaraf dan kairomon.

Penemuan dari kegiatan elusidasi kimia senyawabioaktif merupakan modal utama untuk sintesis insektisida dalam skala industri dan saat ini hasilnya telah memasuki pasar.

Suatu teknologi juga telah dikembangkan berupa sistem polikultur dengan komponen tanaman yang memiliki senyawa volatil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa senyawa volatil dapat menurunkan reproduksi serangga. Sintesis feromon terus berkembang atas dasar penemuan feromon baru ataupun cara sedikit memodifikasi senyawa yang mirip feromon (sumber: Bio-Fob).

Rabu, 05 November 2008

INDONESIA EKSPLORASI PLASMA NUTFAH SAWIT KE ANGOLA

Tim pemulia kelapa sawit Indonesia akan melaksanakan joint exploration dengan tim dari Malaysia ke Angola. Kegiatan yang rencananya akan dilaksanakan April 2009 diharapkan dapat memperkaya koleksi plasma nutfah di Indonesia dan Malaysia.

Direktur Perbenihan dan Sarana Produksi, Direktorat Jenderal Perkebunan, Departemen Pertanian, Darmansyah Basyaruddin, mengatakan pemerintah Indonesia dan Malaysia telah bertemu dengan pemerintah Angola untuk kegiatan tersebut. “Pertemuan itu merupakan tindak lanjut dari kerjasama G to G ketiga negara,” katanya.

Pada pertemuan itu, Pemerintah Angola mendukung sepenuhnya kegiatan joint exploration.Sebagai timbal balik dari dukungan tersebut, Pemerintah Indonesia dan Malaysia akan menyumbangkan beberapa koleksi plasma nutfah dan membantu merehabilitasi kebun koleksi plasma nutfah di Angola. Selain itu akan membiayai dan memfasilitasi training pengelolaan plasma nutfah kelapa sawit bagi pemulia dari Angola.

Menurutnya, pelaksanaan eksplorasi rencananya akan difokuskan di 10 propinsi, yang merupakan wilayah konsentrasi berbagai jenis aksesi sawit di Angola. Tim pemulia asal Indonesia dan Malaysia yang dipandu tim dari Angola akan melakukan eksplorasi selama 1 bulan. Tim tersebut akan melakukan penelitian dari mulai jenis tanaman hingga observasi karakteristik agronomis dan kondisi lingkungan.”Dari masing-masing aksesi terpilih Indonesia nantinya akan mendapatkan 500 sampai 1000 biji untuk ditanam di dalam negeri,” ujarnya.

Darmasyah menjelaskan, dalam eksplorasi tersebut tim dari Malaysia hanya akan memfokuskan penjelajahan di wilayah pedalaman Angola. Pasalnya, negara tersebut sebelumnya pernah mengadakan kegaiatan yang sama sekitar 1990-an. Sedangkan Tim pemulia Indonesia rencananya akan mengeksplorasi di wilayah pesisir dan pedalaman, sehingga wilayah penjajakan diperkirakan akan lebih luas.

Lebih lanjut Darmansyah mengatakan, materi genetis hasil eksplorasi Angola akan menjadi koleksi di kebun plasma nutfah yang akan dibangun di Kabupaten Sinjunjung, Sumatera Barat. Untuk pengembangan benih di dalam negeri, plasma nutfah tersebut juga akan diberikan ke perusahaan sumber benih di Indonesia.
Selama ini menurut Darmansyah, materi genetis asal Angola mempunyai keunggulan yakni resisten terhadap kekeringan. Dengan demikian dapat dikembangkan di Indonesia, khususnya pada wilayah yang curah hujannya rendah.

Plasma nutfah merupakan materi dasar yang disilangkan untuk menghasil varietas baru. Dengan bertambahnya koleksi plasma nutfah Indonesia, pemerintah mengharapkan akan ada varietas-varietas baru dengan karakteristik yang berbeda.
Eksplorasi ke Angola merupakan bagian dari kegiatan eksplorasi plasma nutfah ke beberapa negara. Sebelumnya tim pemulia Indonesia telah mengadakan eksplorasi ke Kamerun. Biji akses terpilih dari hasil eksplorasi tersebut tengah dibibitkan di kebun milik PT. Socfindo.

Selain ke Angola, pemerintah juga berencana akan mengadakan eksplorasi ke sejumlah di wilayah Amarika Selatan, seperti Kostarika dan Brasil. “Kita ingin dengan makin banyaknya kerjasama eksploasi, Indonesia mempunyai koleksi plasma nutfah kelapa sawit yang beragam,” kata Darmansyah.

Rabu, 29 Oktober 2008

MEMBANGUN PEMBERDAYAAN EKONOMI RAKYAT MELALUI KEMIRI SUNAN


Apabila diasumsikan produktivitas per pohon kemiri sunan pada usia diatas 7 Th mencapai 300-500 kg biji kering per tahun dan harga biji kering sebesar Rp. 300,- s/d Rp 500,- /kg (ditempat), maka untuk satu pohon akan diperoleh pendapatan sebesar Rp 90.000,- s/d Rp 250.000,- per tahun (tergantung perawatan ).

Untuk jarak tanam 6 x 6 meter, dalam 1 ha akan tertanam 289 pohon maka pendapatan petani dalam 1 Ha minimal Rp 25.000.000,-/Tahun , satu pendapatan yang menjanjikan untuk para petani.

Jika dilakukan penaman pada lahan kritis di Indonesia yang luasnya 59,2 juta ha, maka akan tertanam 15 milyar pohon. Berdasarkan asumsi di atas maka akan diperoleh 7,4 Milyar ton biji kering per tahun dan diperoleh minyak 5,92 Milyar ton minyak per tahun. Sebuah pendapatan per tahun yang sangat FANTASTIS.

Ditingkat pengusaha pengolahan minyak, apabila diasumsikan 1 liter biodiesel diperoleh dari 2,5 kg biji kering, untuk harga solar Rp 4.300,-/Ltr s/d Rp 7.000,- (untuk industri Oktober Th 2007) dengan harga bahan baku Rp 750,-s/d Rp 1.250,- dan biaya proses Rp 1.750,- per liter, maka didapatkan keuntungan sebesar Rp 1.300,-s/d Rp 4.000,- per liter (Bruto) tergantung Infrasruktur .

Jika produksi total lahan kritis seperti di atas maka PEMERINTAH berhasil mengatasi masalah lahan kritis serta pengadaan bahan bakar, serta mendapat pemasukan tambahan PAJAK yang sangat Fantastis.

Hal tersebut di atas baru didasarkan pada fakta lahan kritis, padahal pada kenyataannya masih sangat banyak lahan yang sangat potensial, antara lain daerah aliran sungai (DAS), lahan hutan dan lahan tidak produktif lainnya, seperti area di sepanjang jalan, di kanan-kiri lajur jalan berpotensi ditanam.

Selain diambil bijinya, kemiri sunan juga bermanfaat sebagai peneduh dan penghijauan jalan (jalur hijau).

Sebagai contoh apabila 10 % dari panjang ruas jalan desa di Kabupaten akan tertanam kemiri sunan sekitar 10 ribu pohon yang terdapat di kanan-kiri jalan (jarak tanam 6 Mtr) dan diharapkan ada juga penanamam di seputar Waduk didaerah Green Belt yang luasannya kurang lebih 300 Ha untuk menahan Erosi . Apabila budidaya tersebut dikelola oleh masyarakat sekitar , dapat diperkirakan berapa besar pendapatan per tahun yang akan diperoleh.

Apabila semua lahan kritis, daerah aliran sungai (DAS), lahan hutan dan lahan tidak produktif di Indonesia ditanami kemiri sunan, dan mampu terealisasi secara keseluruhan, maka triple track akan terpenuhi yaitu Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi, Menurunkan Pengangguran dan Mengurangi Kemiskinan.

Triliunan rupiah dapat dipastikan menjadi pemasukan negara per tahunnya dan mampukah hutang luar negeri akan terbayar ?

Kemiri Sunan Menyelesaikan Masalah Tanpa Masalah
Indonesia mempunyai lahan luas yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia yang dapat digunakan sebagai lokasi penanaman dan budidaya. Dari aspek lingkungan, karakteristiknya sangat sesuai sebagai tanaman rehabilitasi, bijinya yang mengandung minyak mampu meminimalkan aksi penebangan untuk diambil kayunya, bahan bakar nabati (BBN) lebih ramah lingkungan karena emisi gas buangnya rendah dan dapat diperbaharui karena berasal dari bahan alami terbarukan, pupuk yang dihasilkan merupakan pupuk organik, serta dapat digunakan sebagai pestisida alami.

Dari aspek ekonomi, dengan meningkatnya harga BBM dan tingginya volume permintaan pasar maka pengembangan BBN cukup menjanjikan. Dengan mengembangkan BBN, sekaligus akan dapat dicapai peningkatan pasokan energi dan pemberdayaan ekonomi rakyat serta dapat memenuhi kebutuhan bahan bakar para pelaku kegiatan ekonomi sampai pada grass root, misalnya Nelayan.

Dari aspek teknologi, pembuatan BBN dan pengolahan limbahnya menjadi pupuk dan biogas telah dikembangkan di dalam negeri.

Untuk merealisasikan upaya tersebut terdapat berbagai kendala yang merupakan pokok masalah, baik pada level penanaman, budidaya maupun pengolahan pasca panennya .
Selain itu perangkat hukum dan tata niaga komoditas ini menjadi pokok masalah berikutnya. Untuk itu, sangat dibutuhkan perangkat sistem yang kuat dan tidak bersifat parsial atau sepotong-sepotong.

Alternatif Solusi
Untuk menerapkan rencana penanaman Kemiri Sunan sebagai salah satu tanaman rehabilitasi lahan kritis sekaligus sumber penghasil minyak sebagai bahan bakar terbarukan tentu tidaklah mudah. Pengadaan stok tanaman berupa bibit untuk tujuan rehabilitasi lahan seluas Indonesia dan produksi minyak untuk pemenuhan kebutuhan bahan bakar merupakan kendala utama dan perlu waktu dan biaya yang tidak sedikit.

Penanaman secara luas merupakan solusi untuk menjawab masalah tersebut, namun untuk menjamin ketersediaan bibit pohon dan bahan baku untuk produksi minyak secara kontinyu dibutuhkan pemilihan sistem yang tepat dan terarah. (Informasi lebih lanjut hubungi pengelola blog ini)

Selasa, 28 Oktober 2008

PEMASARAN BENIH DAN QUALITY CONTROL DI PT. SOCFINDO

Konon benih PT. Socfindo tidak hanya dipasarkan di dalam negeri tetapi juga ke luar negeri seperti ke Myanmar, Amerika Latin seperti Ekuador dan Kolumbia dan Afrika seperti Nigeria, Kongo, Kamerun dan Pantai Gading. Permintaan untuk ekspor tersebut tetap ada namun tidak dapat dipenuhi sehubungan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri terlebih dahulu.

Pada tahun 2006, penjualan benih DxP Unggul Socfindo mampu memiliki market share terbesar hingga 37% dari total peredaran benih yang ada untuk skala nasional, dan merupakan produsen benih kelapa sawit terbesar di dunia dengan produksi mencapai ± 39 juta butir (Socfindo, 2007).

Semula pada tahun 1996/1997 negara kita juga mengalami booming pengembangan perkebunan kelapa sawit, dan hal ini berdampak kepada kekurangan penyediaan benih kelapa sawit unggul pada saat itu. Sebagai akibat kekurangan ini, banyak pihak terutama oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab berupaya untuk mengambil kesempatan dengan mengedarkan benih illegitim (liar), benih tersebut didapat dari persilangan-persilangan liar yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kualitas dan asal usulnya sehingga mengakibatkan produktivitas CPO nasional sangat rendah dibandingkan dengan negara-negara produsen CPO lainnya di dunia. Pada saat itu banyak juga benih illegitim (liar) yang beredar dengan mengatasnamakan Benih Socfindo, dan hingga saat ini hal tersebut juga diperkirakan masih terjadi.

Untuk mengembalikan citra benih DxP Unggul Socfindo tersebut maka sejak tahun 2002 banyak hal yang dilakukan disamping meningkatkan kualitas genetik benih melalui program pemuliaan yang berkesinambungan. Beberapa hal perbaikan dan peningkatan (improvement) mutu produk dan pemasaran yang dilakukan adalah :

• Melakukan standarisasi dan pengawasan yang ketat baik secara internal maupun eksternal dengan penerapan standar ISO 9001-2000 sejak tahun 2002 disamping supervisi dari konsultan Cirad CP. Saat ini di Pusat Seleksi Bangun Bandar juga telah dipasang CCTV untuk mengawasi seluruh pekerja demi mencegah terjadinya kecurangan-kecurangan yang dilakukan oleh pekerja, sehingga sangat kecil kemungkinan terjadi adanya benih yang keluar tanpa prosedur yang benar.

• Melakukan sistem komputerisasi terpadu agar seluruh benih yang dihasilkan dapat dilakukan uji telusur dengan tepat dan akurat. Penerapan sistem barcode telah dilakukan mulai di lapangan hingga pengemasan benih siap salur.
• Meningkatkan dan memperbaiki sistem pengemasan serta keamanannya dengan penerapan sistem segel anti pemalsuan dan kodefikasi khusus dengan sistem barcode sebagai antisipasi terjadinya pemalsuan ataupun produk dipertukarkan selama pengiriman.

• Melakukan pelepasan varietas DxP Unggul Socfindo (L) dan DxP Unggul Socfindo (Y) pada tahun 2004 sekaligus memperkuat brand DxP Socfindo sebagai produk unggulan benih kelapa sawit Indonesia.

• Aktif melakukan sosialisasi dan komunikasi kepada konsumen secara langsung mengenai prosedur pemasaran benih DxP Unggul Socfindo.

• Memperbaiki sistem administrasi penjualan benih dengan melibatkan antar departemen lain untuk saling mengkontrol dalam penerbitan dokumen-dokumen yang berkaitan dengan penjualan benih. Saat ini PT. Socfindo telah menerapkan sistem SAP dalam mengelola administrasi penjualan tersebut. Dokumen-dokumen yang diterbitkan oleh PT. Socfindo memiliki kodefikasi khusus, sehingga akan dapat diketahui secara cepat jika dokumen tersebut ditiru atau dipalsukan.

• Memastikan bahwa sampai dengan saat ini dalam pemasaran baik penjualan dan penyaluran benih kelapa sawit dilakukan langsung kepada konsumen pengguna akhir, tanpa menggunakan ataupun melalui pihak ke-3 baik itu menggunakan atas nama toko/dealer/distributor/penangkar benih, termasuk juga untuk proses serah terima dan transaksi penjualan dilakukan langsung oleh dan kepada PT. Socfindo.

• Aktif melakukan sosialisasi “awas benih palsu” baik bekerja sama dengan pihak pemerintah, forum komunikasi benih ataupun juga melalui media massa lokal dan nasional secara khusus.

• Melakukan kunjungan supervisi untuk layanan purna jual ke konsumen khususnya pembibitan bahan tanaman DxP Unggul Socfindo.

Untuk penyediaan benih rakyat PT. Socfindo tetap berupaya memenuhinya dengan menyediakan bibit pre nursery dengan harga yang telah disubsidi, sehingga bagi petani yang ingin menanam untuk luasan yang kecil dapat memesan bibit tersebut juga langsung ke PT. Socfindo.

PT. Soncfindo
Jl. Jend. Achmad Yani No. 2 Medan
PO BOX 1154 Medan 20011
Tel. : Telp. 061-6638010

Rekrutmen CPNS Departemen Pertanian Formasi Tahun Anggaran 2008

Departemen Pertanian membuka pendaftaran Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) untuk mengisi lowongan formasi Departemen Pertanian Tahun Anggaran 2008 untuk ditempatkan pada Kantor Pusat dan Unit Pelaksana Teknis (UPT) lingkup Departemen Pertanian di seluruh Indonesia.

Tujuan dari rekrutmen ini adalah mencari tenaga-tenaga yang berkompeten di bidangnya, berwawasan luas, bermoral dan berdedikasi tinggi untuk bergabung menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) Departemen Pertanian dalam membangun pertanian Indonesia yang berkelanjutan.

Kualifikasi pendidikan yang dibutuhkan untuk mengisi formasi PNS di Departemen Pertanian dapat dilihat pada menu Pengumuman.

Pada rekrutmen pengadaan CPNS 2008 ini Departemen Pertanian membuat situs web yang dikhusukan untuk pengadaan CPNS, situs web ini dilengkapi dengan sistem Pendaftaran Online dan merupakan satu-satunya cara dan alat yang digunakan untuk mengajukan lamaran. Pelamar dapat mengisikan seluruh data pada formulir yang telah disediakan. Tujuan pengembangan sistem ini adalah agar seluruh proses dapat dilakukan secara online, mudah dan transparan bagi seluruh masyarakat.

Pengumuman : Menampilkan pengumuman secara lengkap yang menginformasikan : kualifikasi pendidikan, persyaratan umum dan khusus, ketentuan pendaftaran, pelaksanaan seleksi dan penetapan CPNS, persiapan sebelum mengajukan lamaran serta keterangan lainnya;

Form Pendaftaran : Elektronik form yang dapat digunakan pelamar dalam mengisikan data-data secara lengkap, mulai dari data pribadi, data alamat, data pendidikan serta data pelengkap secara online. Fasilitas ini akan di non-aktifkan pada tanggal 5/11 pada pukul 16.00 wib (lihat agenda kegiatan);

Agenda Kegiatan : Menampilkan jadwal kegiatan selama proses rekrutmen;

Hasil Test CPNS 2008 : Mengumumkan pelamar yang berhasil lolos ujian tertulis untuk selanjutnya ditetapkan sebagai CPNS Deptan formasi tahun anggaran 2008. Menu ini akan di aktifkan pada tanggal yang telah ditentukan.

Untuk mempermudah layanan kepada masyarakat, maka seluruh informasi yang terkait dengan rekrutmen pengadaan CPNS T.A. 2008 ini akan dipublikasikan melalui media cetak nasional, Tabloid Sinar Tani, situs resmi Departemen Pertanian, situs resmi Eselon I lingkup Departemen Pertanian serta beberapa situs resmi Unit Pelayanan Teknis (UPT) lingkup Departemen Pertanian.

Apabila dalam penyelenggaraan seleksi ditemukan pelanggaran, agar segera dilaporkan disertai bukti-bukti otentik yang dapat dipertanggung jawabkan baik secara yuridis maupun administratif kepada Menteri Pertanian melalui telepon/fax 021-7804166.



(Sumber: Deptan)

Senin, 27 Oktober 2008

DAPATKAH E-BOOK DAN DATA FILE MENARIK

Di bawah ini beberapa produk menarik yang bisa Anda peroleh:

1. E-File Budidaya Sawit: Rp. 130.000,- (Paket CD + file+ dokumen; dikirim via Kilat Khusus PT. Pos Indonesia )
Isi: 1) Budidaya kelapa sawit (fotocopy), 2) e-book tentang perbenihan kelapa sawit, 3) UU perbenihan 4) data informasi sumber benih 5) Dokumen pemesanan benih 6) Metoda pembibitan 6) Dokumen ketentuan impor benih 7) contoh form pengajuan impor 8) file-file presentasi menarik tentang kelapa sawit 8) Bonus: belajar e-commerce + game kecil.
Pengguna: Pihak-pihak yang ingin mengembangkan kelapa sawit atau sedang melakukan penelitian tentang kelapa sawit.

(Edisi lengkap Rp. 350.000 plus pedoman pengendalian hama + majalah media perkebunan + data-data penting lainnya)

2. E-File Nilam: Rp. 90.000,- (Paket CD + file+ dokumen; dikirim via Kilat Khusus PT. Pos Indonesia )
Isi: 1) Budidaya nilam (fotocopy) 2) Presentasi menarik tentang budidaya nilam 3) Presentasi tentang peluang pasar 3) e-book Budidaya nilam hingga pengolahan 4) Pedoman perbenihan/pembibitan nilam 5) Bonus: belajar e-commerce + game kecil.
Pengguna: Pihak-pihak yang ingin mengembangkan nilam atau sedang melakukan penelitian tentang nilam.

3. E-File Benih Kelapa Sawit : Rp. 60.000,- (Paket CD + file+ dokumen; dikirim via Kilat Khusus PT. Pos Indonesia )
Isi: 1) E-book tentang “ Perbenihan kelapa sawit 2) Daftar sumber benih kelapa sawit di dalam negeri dan luar negeri 3) form pemesanan benih 4) Ketentuan impor benih 5) Form impor benih 6) Brosur Benih kelapa sawit palsu 7) Kumpulan presentasi menarik 8) Kumpulan tulisan tentang sawit mulai perbenihan hingga pengendalian hama 9) Bonus: belajar e-commerce + game kecil.
Pengguna: Pihak-pihak yang ingin berkecimpung dalam bidang perbenihan sawit atau sedang melakukan penelitian tentang kelapa sawit.

4. E-Book Benih: Rp. 50.000,- (Paket CD + file+ dokumen; dikirim via Kilat Khusus PT. Pos Indonesia )
Isi: 1) E-book tentang benih perkebunan 2) Presentasi menarik tentang perbenihan 3) Pedoman perbenihan perkebunan 4) Peraturan Perbenihan 5) Daftar Sumber benih Perkebunan 6) Bonus: belajar e-commerce + game kecil.
Pengguna: Pihak-pihak yang ingin berkecimpung dalam bidang perbenihan atau sedang melakukan penelitian tentang benih.

5. E-Book Kapuk Rp. 50.000,- (Paket CD + file+ dokumen; dikirim via Kilat Khusus PT. Pos Indonesia )
Isi: 1) e-book kapuk 2) E-book tentang benih perkebunan 3) Presentasi menarik tentang perbenihan 5) Bonus: belajar e-commerce + game kecil.
Pengguna: Pihak-pihak yang ingin mengembangkan budidaya kapuk atau sedang melakukan penelitian tentang kapuk

6.Koleksi lengkap Rp. 400.000,- (Gabungan semua paket di atas)

Pemesanan via sms ke no 085925077652 atau email ke hendra_has@deptan.go.id

Rabu, 22 Oktober 2008

KONDISI PERBENIHAN TEBU TERKINI

(1) Pada “wilayah sentra produksi gula”, yaitu di Jawa dan Lampung, penggunaan varietas/benih bina berkisar antara 30-90% dari total areal tanaman tebu (propinsi Jawa Barat 60%, poropinsi lainnya di Jawa 90%, dan Lampung 30%). Ketersediaan benih sebar berdasarkan jumlah dan komposisi varietas unggul masih kurang sekitar 30-60% dari yang dibutuhkan. Oleh karena itu masih diperlukan langkah pemecahan masalah tersebut yang sifat dan jangka waktunya terbatas (maksimal selama 2 tahun) dengan cara “over booking”, yaitu penggunaan tanaman tebu giling (PC) secara terbatas dan selektif sekali (berdasarkan observasi dan penilaian oleh BP2MB dan P3GI) sebagai sumber benih sebar. Dalam jangka waktu selama 2 tahun tersebut, secara bersamaan, PG yang bersangkutan harus melakukan penataan varietas dan mendaftarkan varietas-varietas non-bina yang ada/dihasilkan oleh masing-masing PG tersebut kepada Pusat Perlindungan Varietas-Dep. Pertanian, dan melakukan observasi varietas untuk persiapan pelepasan varietas-varietas non bina tersebut sesuai ketentuan dengan berkoordinasi dengan BP2MB dan P3GI. Khusus untuk “wilayah sentra produksi gula” ini tidak diperlukan rekomendasi terbatas penggunaan varietas non bina oleh Direktorat Jenderal Perkebunan.

(2) Pada “wilayah pengembangan gula”, yaitu di Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara dan Gorontalo, penggunaan varietas/benih bina berkisar antara 0-10% dari total areal tanaman tebu (propinsi Sumsel 10%, Sulsel 2%, Gorontalo 2% dan Sumut 0%). Ketersediaan varietas unggul berkisar dari belum tersedia (Sumut) sampai dengan ketersediaan yang sangat terbatas (propinsi Sumsel, Sulsel dan Gorontalo).Untuk itu perlu didatangkan varietas-varietas unggul/benih bina untuk diperbanyak dilokasi-lokasi wilayah pengembangan ini. Secara berbarengan, PG diwilayah ini perlu memberikan prioritas untuk pengujian adaptasi terhadap varietas-varietas yang ada dan varietas-varietas yang didatangkan dari luar daerah. Terkait dengan kondisi ini, maka masih diperlukan langkah pemecahan secara terbatas dan selektif sekali (berdasarkan observasi dan penilaian oleh BP2MB dan P3GI) untuk penggunaan benih non bina/lokal sampai tahun 2010. Dalam jangka waktu sampai dengan 2010, PG yang bersangkutan harus melakukan penataan varietas dan mendaftarkan varietas-varietas non-bina yang ada/dihasilkan oleh masing-masing PG tersebut kepada Pusat Perlindungan Varietas-Dep. Pertanian. Khusus untuk “wilayah pengembangan gula” ini masih diperlukan rekomendasi terbatas penggunaan varietas non bina oleh Direktorat Jenderal Perkebunan sampai dengan tahun 2010.

(3) Pada “wilayah rintisan”, yaitu di NAD, Sumatera Barat, Kalimantan Barat, Sulawesi Tenggara dan Papua, penggunaan varietas/benih bina belum ada dan sepenuhnya tergantung pada varietas lokal. Untuk itu perlu didatangkan varietas-varietas unggul/benih bina untuk diperbanyak dilokasi-lokasi wilayah rintisan ini, dan secara berbarengan, dilakukan pengujian adaptasi terhadap varietas-varietas unggul dan evaluasi kelayakan varietas lokal yang diperkirakan memiliki prospek untuk dilepas. Terkait dengan kondisi ini, maka masih diperlukan langkah pemecahan secara terbatas dan selektif sekali (berdasarkan observasi dan penilaian oleh BP2MB dan P3GI) untuk penggunaan benih non bina/lokal sampai tahun 2010. Dalam jangka waktu sampai dengan 2010, PG yang bersangkutan harus melakukan penataan varietas dan mendaftarkan varietas-varietas non-bina yang ada/dihasilkan oleh masing-masing PG kepada Pusat Perlindungan Varietas-Dep. Pertanian. Khusus untuk “wilayah rintisan” ini masih diperlukan rekomendasi terbatas penggunaan varietas non bina oleh Direktorat Jenderal Perkebunan sampai dengan tahun 2010.

Cari Data & Informasi Anda

Ingin informasi dan data akurat tentang Benih? Hubungi kami!! Kami akan memberikan data dan info untuk Anda. Atau menghubungkan Anda pada pihak-pihak yang berkompeten di bidangnya. Kontak/sms 085925077652

Jumat, 17 Oktober 2008

SEMINAR NASIONAL & TEMU BISNIS PUPUK UNTUK PERKEBUNAN

Dalam rangka mengatasi kelangkaan dan tingginya harga pupuk serta kiat untuk menyiasiati melalui inovasi teknologi, Lembaga Riset Perkebunan Indonesia (LRPI) bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Perkebunan akan mengadakan Seminar Nasional dan Temu Bisnis “ Pupuk untuk Perkebunan”. Adapun acara ini akan dilaksanakan pada:

Tanggal : 12 Nopember 2008
Tempat : Hotel JW. Marriot, Surabaya
Peserta : Pelaku perkebunan (instansi/perusahaan/perseorangan)

Untuk informasi lebih lanjut hubungi LRPI telp. (0251) 8333089, 8333382; Hp. a.n Alim 0818967580; Fax. (0251) 8315985 (Susunan Acara dan Biaya Pendaftaran)

Kamis, 16 Oktober 2008

KETENTUAN BERWARALABA BENIH KELAPA SAWIT DAN KARET


Walabara benih merupakan alternatif usaha perbenihan yang menguntungkan (penjelasan tentang waralaba lihat artikel di bawah). Pasar tersedia, dan permintaan benih bermutu terus meningkatan namun penyedia benih masih terbatas, khususnya untuk karet dan kelapa sawit. Sehingga bagi rekan-rekan yang ingin berinvestasi tidak ada salahnya mencoba pada waralaba benih . Khususnya untuk komoditas yang bahan tanamnya sedang banyak dicari, yakni karet dan kelapa sawit.

Adapun ketentuan yang harus dipenuhi untuk memiliki usaha waralaba bibit kelapa sawit dan karet adalah sebagai berikut.

1.Waralaba Kelapa Sawit dengan PPKS
a. Surat Rekomendasi Kepala Dinas Perkebunan Propinsi/Dinas yang membidangi Perkebunan di propinsi setempat.
b. Surat jaminan pembayaran atau surat tanah.
c.Tanda Registrasi Usaha Pembenihan (TRUP), apabila sudah melakukan penanda tanganan MOU.

2. Waralaba karet
a.Surat Rekomendasi Kepala Dinas Perkebunan Propinsi/Dinas yang membidangi Perkebunan di propinsi setempat
b.Surat jaminan pembayaran atau surat tanah.
c.Sudah menjadi pelaksana pembibitan
d.Setiap tahun mampu produksi minimum 200 ribu polibag bibit siap salur
e.Tanda Registrasi Usaha Pembenihan (TRUP), apabila sudah melakukan penanda tanganan MOU.

Rabu, 15 Oktober 2008

WARALABA: PELUANG MASYARAKAT BERUSAHA BENIH

Kendati saat ini ada banyak perusahaan perkebunan besar yang turut mengembangkan sayap bisnisnya ke perbenihan, ternyata kebutuhan benih untuk memenuhi permintaan masih belum cukup, khususnya untuk benih kelapa sawit. Karena itu, dibuka kesempatan masyarakat untuk ikut serta dalam penyediaan benih melalui program waralaba.

Seperti waralaba lainnya, waralaba benih merupakan cara yang dapat ditempuh oleh pemilik varietas dalam mendapatkan izin penggunaan, pemanfaatan dan hak cipta kepada penerima waralaba atau penangkar benih. Hal ini sejalan dengan UU No. 29 tahun 2002 tentang perlindungan sistem varietas tanaman (PVT)

Dalam sistem ini, Puslit atau pemilik varietas memberi izin dan memberikan bimbingan teknis kepada penangkar. Namun para penangkar wajib mengikuti semua petunjuk teknis tersebut.

Penangkar akan memberikan sebagian keuntungannya kepada pemilik varietas sebagai royality. Dengan demikian, ada pemasukan bagi peneliti atau Puslit atau Balit, sehingga dapat menciptakan varietas atau klon unggul baru yang pada akhirnya akan kembali kepada konsumen.

Dengan sistem waralaba ini, ketesediaan benih atau bibit unggul bermutu dapat terjamin dengan lima tepat, yaitu tepat varietas, tepat mutu, tepat jumlah, tepat lokasi dan tepat waktu dengan harga yang terjangkau oleh petani.

Lebih-lebih jika waralaba tersebut dilakukan oleh pemerintah daerah dengan pemilik varietas. Harga dapat disubsidi oleh pemda bahkan gratis. Cara ini pada akhirnya akan membeirkan pemasukan lebih besar pada pendapatan Asli daerah (PAD) melalui pajak-pajak. Setelah tanaman berproduksi tentunya. Dan waralaba dapat dilakukan baik untuk penemuan atau penciptaan varietas unggul baru atau pembangunan kebun induk maupun penyediaan benih sebar. Dan banyak penangkar yang sudah menikmati keuntungan dari sistem waralaba termasuk pewaralaba benih kelapa sawit.

Senin, 13 Oktober 2008

ADOPSI KLON KARET UNGGUL: MUNDUR SATU TAHUN ATAU MERUGI SELAMA 30 TAHUN


Walaupun karet bukan tanaman asli Indonesia akan tetapi saat ini arealnya telah mencapai lebih dari 3 juta ha dimana 85 persennya merupakan karet rakyat. Dari segi luasan, Indonesia merupakan terluas diantara negara-negara penghasil karet alam lainnya, akan tetapi dari segi produksinya menduduki posisi ke dua setelah Thailand. Hal ini disebabkan produktivitas karet rakyat di Indonesia hanya mencapai 600 kg karet kering/ha/tahun. Nilai ini dibawah rata-rata dari produksi yang dicapai oleh perkebunan besar. Faktor utama penyebabnya adalah bahan tanam yang digunakan oleh karet rakyat berbeda dengan perkebunan besar, ditambah lagi dengan kurang intensifnya pemeliharaan yang diterapkan pada perkebunan rakyat.

Apabila dilihat dari sejarah masuk dan berkembangnya tanaman karet di Indonesia, maka pada awalnya bahan tanam yang digunakan berasal dari biji asalan tanpa dilakukan seleksi. Dari bahan tanam ini ternyata hasil diperoleh menunjukkan pertumbuhan dan produksi yang sangat beragam. Kemudian pada tahun 1910 mulai dilakukan seleksi dan biji yang berasal dari tanaman-tanaman yang mempunyai pertumbuhan dan produksi baik saja yang dapat dikembangkan lebih lanjut untuk pertanaman baru.

Ditemukannya teknik okulasi pada tahun 1917 membawa perubahan yang sangat berarti dalam perkembangan bahan tanam karet. Dengan teknik okulasi ini sifat pertumbuhan dan produksi yang baik relatif mampu dipertahankan pada hasil perbanyakan. Sejak saat itu bahan tanam karet yang direkomendasikan sudah berupa klonal yaitu dengan bahan tanam hasil perbanyakan secara vegetatif melalui okulasi.

Luas areal tanaman karet hevea di Indonesia pad atahun 1910 hanya 737 ha, kemudian pada tahun 1916 menjadi 6.827 ha. Dua tahun kemudian atau tahun 1918 sudah mencapai 312.408 ha. Dua puluh tahun kemudian menjadi 2 kali lipat. Tahun 1977 areal karet di Indonesia sudah lebih dari 2 juta ha dan tahun 2000-an sudah mencapai lebih dari 3 juta ha. Perkembangan areal karet di Indonesia memang sangatlah cepat. Pada kondisi yang ideal, keinginan mengembangkan karet seharusnya diimbangi dengan ketersediaan bahan tanam. Akan tetapi kenyataannya tidaklah demikian, karena untuk menyiapkan bahan tanam unggul dengan sistem okulasi memerlukan waktu paling tidak satu tahun sebelum tanam.

Pada saat kita dihadapkan pada suatu pilihan, dimana keinginan untuk menanam karet secara besar-besaran sangat tinggi dalam waktu yang relatif pendek, sedangkan untuk menyiapkan bahan tanam bermutu memerlukan waktu maka, biasanya mutu yang akan dikorbankan. Hal ini yang terjadi pada awal perkembangan tanaman karet di Indonesia; perkembangan luas areal sangat cepat tetapi tidak diimbangi dengan ketersediaan bahan tanam bermutu. Kondisi demikian ini berlangsung cukup lama, lebih-lebih ditinjau dari ketersediaan lahan pada saat itu yang masih cukup luas.

Dalam waktu yang cukup lama kita terlena dan bangga dengan luas areal karet yang ada, tetapi tanpa kita sadari produksi karet alam kita secara perlahan-lahan digeser oleh Thailand yang merupakan salah satu negara baru penghasil karet alam dunia. Selanjutnya kita sadar ternyata untuk mengubah pandangan masyarakat dalam penggunaan banah tanam sangat sulit dilakukan. Adopsi bahan tanam unggul karet pada perkebunan karet rakyat baru sebatas pada proyek-proyek peremajaan karet rakyat, yaitu melalui pola PIR dan UPP, sedangkan penggunannya oleh karet rakyat secara swadaya sangat kecil. Sampai dengan tahun 2004 adopsi bahan tanam unggul karet rakyat di Indonesia baru mencapai 40 %.

Dengan berbagai prediksi potensi ketersediaan, dan konsumsi karet alam dunia, masa depan karet alam tampaknya masih cukup cerah. Lebih-lebih jika dilihat dari pesatnya perkembangan industri otomotif di negara China yang memerlukan pasokan karet alam cukup besar. Dengan kondisi demikian maka sasaran yang telah dicanangkan pemerintah melalui Direktorat Jenderal Perkebunan dengan peningkatan produksi, produktivitas melalui adopsi klon unggul sangat tepat.

Sasaran pembangun tersebut akan tercapai apabila dilakukan langkah-langkah percepatan peremajaan karet tua dan karet rusak seluas 400 ribu ha ditambah dengan laju pertambahan areal TT/TR dari TM yang mencapai 3 % per tahun. Dalam melakukan percepatan peremajaan tersebut tentu saja harus menggunakan bahan tanam unggul yang mempunyai pertumbuhan dan produktivitas yang tinggi. Dengan demikian maka ketesediaan bahan tanam unggul tepat jumlah, tepat waktu. tepat jenis, tepat varietas , tepat mutu dan tepat harga sangat dibutuhkan. Yang perlu dipahami bersama oleh semua pihak yang terkait bahwa penggunaan bahan tanam karet unggul merupakan langkah awal dalam usaha meningkatkan produktivitas karet rakyat Indonesia yang lebih lanjut akan menentukan wajah perkaretan kita. Selain itu juga perlu dipahami bersama bahwa peningkatan adopsi bahan tanamn unggul terutama pada perkebunan rakyat menjadi tanggung jawab semua komponen yang terkait mulai dari penangkar bibit, petugas (pemerintah) dan petani sebagai pengguna bahan tanam itu sendiri.

Telah diketahui bersama bahwa untuk memenuhi kebutuhan akan bibit unggun yang memenuhi enam tepat seperti yang disebutkan di atas diperlukan waktu minimal satu tahun sebelum tanam. Dengan demikian maka perencanaan yang cermat dan tepat harus disiapkan sejak dini, jangan sampai pengalaman lama akan terulang kembali, dimana minat menanam karet klon unggul tinggi tetapi tidak dibarengi dengan ketersediaan bahan tanam yang baik dan benar. Pencapaian target areal memang sangat diperlukan dalam suatu pelaksanaan pembangunan, akan tetapi ini bukan satu-satunya tujuan yang akan dicapai kalau tidak diikuti dengan perencanaan yang matang dan cermat dalam penyediaan bahan tanam unggul dengan mutu yang baik dan jumlah yang cukup.

Program peremajaan yang akan dilakukan pemerintah dengan revitalisasi perkebunannya mempunyai tujuan yang mulia, yaitu untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahateraan rakyat yang pada akhirnya akan merubah wajah perkaretan Indonesia. Untuk keberhasilan program tersebut tentu saja harus diawali dengan program penyediaan bahan tanam unggul yang memenuhi enam tepat. Apabila dalam kondisi yang terpaksa dimana ketersediaan bahan tanam unggul bermutu belum dapat terpenuhi dalam jumlah yang diinginkan pada saat akan melakukan penanaman , maka akan lebih baik dan bijak apabila rencana penanamannya ditunda satu tahun daripada merugi 30 tahun ke depan; dengan konsekuensi selama menunda waktu satu tahun dilakukan persiapan bahan tanam yang baik. Oleh karena itu kiranya bahwa ada pepatah yang mengatakan bahwa “lebih baik mundur satu langkah tapi untuk bersiap maju seribu langkah” demi meraih suatu kemenangan (Mudji Lasminingsih, Pusat Penelitian Sembawa).
(Sumber: Direktorat Perbenihan dan Sarana Produksi)

(Informasi mengenai perbenihan karet tersedia dalam bentuk CD e-book benih)