;

Rabu, 25 Juni 2008

PERBANYAKAN TANAMAN TEH


Sebagian besar klon teh yang ada merupakan hasil seleksi pohon induk di berbagai lokasi perkebunan teh di Indonesia di antaranya adalah dari KP. Pasir Sarongge (PS) dan perkebunan teh di daerah Pangalengan. Hasil seleksi pohon induk di KP. Pasir Sarongge diantaranya adalah PS 1, PS 87, PS 125, PS 324 dan PS 354. Klon yang terkenal dari KP. Pasir Sarongge adalah PS 1 yang merupakan salah satu tetua dari klon-klon seri GMB, dari pengamatan peneliti Pusat Penelitian Teh dan Kina Gambung ternyata ada 3 macam klon PS 1, yaitu PS 1a, PS 1b dan PS 1c.

Klon PS 1a merupakan klon PS 1 asli yang merupakan klon anjuran sejak tahun 1955 dan sampai saat ini banyak ditanam pekebun. Klon ini merupakan salah satu tetua dari klon seri GMB yang memiliki ciri bentuk daun lonjong, warna daun hijau muda, permukaan daun kasar bergelombang posisi daun agak tegak, daun tebal, internodia sedang, bentuk peko tegak, bulu daun pada peko banyak. Klon ini mempunyai persentase peko banyak, percabangan baik, batang keras, pertumbuhan setelah pangkas sedang, mudah dipetik (empuk), sangat tahan terhadap penyakit cacar teh.

Klon lain yang terkenal dari KP. Pasir Sarongge adalah PS 324 yang merupakan salah satu tetua dari klon GMB 6 dan GMB 8. PS 324 merupakan klon anjuran tahun 1955 dengan produktivitas yang tinggi akan tetapi mempunyai sifat rentan terhadap serangan penyakit cacar, dari daerah Pangalengan diantaranya telah ditemukan klon Kiara 8, KP 4, Mal 2, Mal 4, Mal 9, Mal 11 dan Cin 143.

Klon Kiara 8 bertipe sinensis, kedudukan daun tegak, warna daun hijau muda, permukaan daun sedikit melengkung, pucuk kecil ringan, klon ini mempunyai sifat pertumbuhan yang cepat, tetapi percabangan yang banyak dan kecil-kecil menyebabkan sulit dipangkas, pada umur pangkas ketiga cenderung membentuk pucuk burung, rentang terhadap penyakit cacar dan mati ujung. Pada kondisi tanah yang kurang subur Kiara 8 cenderung membentuk bunga.

Klon seri GMB merupakan klon generasi kedua karena klon klon ini diperoleh dari seleksi tanaman F1 hasil persilangan yang melibatkan tetua klon generasi pertama, yaitu Cin 143, GP 3, GP 8, KP 4, Mal4, Mal15, PS 1, Kiara 8 dan PS 324, persilangan buatan dilakukan pada tahun 1972. Pada tahun 1974, tanaman F1 dari 47 kombinasi persilangan ditanam dilapangan, setelah dilakukan pembetukan bidang memiliki potensi hasil tinggi dan pada tahun 1979 terpilih 20 perdu yang selanjutnya diperbanyak secara vegatatif.

Pada tahun 1985 mulai dilakukan pengujian multilokasi di 12 lokasi perkebunan di Indonesia, dari pengamatan potensi hasil, kualitas, daya adaptasi dan ketahanan terhadap penyakit cacar terpilih klon Gambung (GMB) 1 sampai dengan GMB 11, klon GMB 1 sampai GMB 5 dilepas pada tanggal 21 April tahun 1988 dengan nomor SK. 260, 267, 266, 265 dan 264 oleh Menteri Pertanian, karena memiliki potensi hasil yang tinggi dan mulai dapat dipetik pada umur 18 bulan.

Klon GMB 6 sampai dengan GMB 11 dilepas pada tanggal 9 Oktober tahun 1998 dengan nomor SK. 684, 684a, 684b, 684c, 684d dan 684e sebagai klon unggul karena mempunyai potensi hasil tinggi, kualitas baik, tahan terhada penyakit cacar.

Klon sari GMB mempunyai tetua yang sama yaitu PS 1 GMB,yaitu GMB 4,GMB 5, GMB 7,GMB10 dan GMB11. merupakan klon-klon yang memiliki hubungan kekerabatan dekat karena berasal dari persilangan Mal2 x PS 1, sehingga memiliki banyak kemiripan yang dapat menyulitkan dalam identivikasi klon. Untuk membedakan antara klon seri GMB dalam pelepasan setiap klon dilengkapi dengan diskripsi.

Perbanyakan dan distribusi bahan tanaman teh bahan tanaman teh unggul dapat berupa ranting stek, stek satu daun dan bibit. Untuk memproduksi bahan tanaman tersebut perlu disediakan kebun induk perbanyakan (mother vegetative) dari setiap klon yang terjamin kemurnianya. Areal kebun yang akan dijadikan kebun induk perbanyakan benih harus diperiksa dahulu untuk menjamin kemurnian klon.

Proses perbanyakan benih dimulai dengan pemangkasan empat bulan sebelum penanaman benih pemeliharaan dimulai dari penyiangan, pemupukan dengan dosis 9092 +15 gr TSP + 45 gr KCC per pohon pertahun, pengendahan hama dan penyakit, penyemprotan Zing Sulfat dengan konsentrasi 1% pada satu bahan sebelum pengambilan ranting stek dan pembuangan peko satu minggusebelum pengembilan ranting stek.

Ranting stek mulai dapat diambil bila 10 cm pangkalnya berwarna coklat. Pengambilan ranting stek dilakukan secara selektif dan bertahap dengan memotong 15 cm diatas bidang pangkas atau dibawah perbatasan ranting yang berwarna coklat dengan hijau kemudian dimasukan ke dalam kantong plastik ukuran 80 x 50 cm yang tebalnya 0,1mm dan dibawa ketempat yang teduh.

Stek dengan satu daun yang prima adalah stek yang ada dibagian tengah ranting stek dengan warna hijau tua.

Stek yang berwarna coklat dibagian pangkal dan hijau muda dibagian ujung harus dibuang. Pemotongan stek dilakukan 0,5 cm diatas ruas daun dan 5 cm dibawah ruas daun dengan kemiringan 450 . Mata tunas yang lebih dari 5 cm harus dipotong. Stek yang telah dipotong langsung dimasukan kedalam air bersih selama 30 menit dan segera direndam dalam larutan pungisida selama 1 menit.

Selama pemotongan stek hendaknya hanya satu klon agar tidak ada off-tipe. Stek selanjutnya siap ditanam dipembibitan atau dikemas potensi stek setiap perdu adalah tergantung umur pohon induk perbanyakannya.

Untuk pengangkutan yang memerlukan waktu 7 hari, stek dimasukan dalam kantong plastik ukuran 40 x 50 cm yang diberi kapas basah dan diatur setiap kantong berisi 50 stek.setelah diberi label kantong di tutup rapat. Kantong plastik kemudian disusun dalam peti tripleks ukuran 50 x 50 x 40 cm setiap peti dapat berisi 3.000 stek.

Untuk pengangkutan sampai 2 hari stek yang telah dipotong dan direndam fungisida dimasukan dalam kantong plastik ukuran 50 x 50 cm yang diberi kapas 25 gr. Setiap kantong dapat berisi 2.000 stek. Selama pengangkutan kantong plastik dibiarkan terbuka dan tidak ditumpuk.

Proses perbanyakan bibit dapat dilakukan oleh puslit atau penangkaran benih swasta yang dibimbing puslit. Secara teknis pembibitan teh stek satu daun mudah dilaksanakan karena teknologi ini cukup lama dan telah disosialisasikan lewat pertemuan maupun pelatihan. Namun banyak masalah timbul akibat tercampurnya antar klon di pembibitan mulai dari penanaman stek, seleksi bibit, pengangkutan kelapangan sampai penanaman.

Untuk menjamin mutu bibit sebaiknya penangkaran menggunakan tenaga puslit dan agar terjamin tersedianya bibit tepat waktu hendaknya pemesanan telah dilakukan 1 tahun sebelum penanaman.

Kriteria bibit teh siap tanam sebagai dasar penentuan mutu bibit adalah a) keseragaman bibit 30 cm atau jumlah daun minimal 5 helai pada umur 10 bulan b) bibit tumbuh sehat kekar dan berdaun normal c) sistem perakaran baik dan tidak berkalus d) bibit tidak beradaptasi selama 1 bulan.

2 komentar:

maupe mengatakan...

saya sangat tertarik dengan tanaman teh dan merasa berminat untuk mau mencobanya namun terkendala tentang dimana kita bisa mendapatkan bibit sekedar informasi kami tinggal didaerah pegunungan dengan curah hujancukup tinggi yaitu tepatnya daerah perbatasan antara kab.maros,kab.bone,kab.pangkep dan kab.barru sul-sel

Anonim mengatakan...

Salam.
Saya pingin beli biji benih barang 1000 saja. Kemana saya mesti hubungi? Trims