;

Minggu, 17 Mei 2009

VARIETAS KAPAS HASIL MUTASI RADIOAKTIF


Varietas baru tidak hanya bisa dihasilkan melalui cara konvensional, yakni melalui persilangan. Namun juga bisa diperoleh pemanfaatan teknologi radiasi. Penggunaan sinar radiasi diharapkan dapat menciptakan mutasi, proses dimana gen mengalami perubahan struktur sehingga menyebabkan perubahan fenotip yang nanti diwariskan dari satu generai ke generasi berikutnya.

Upaya memperoleh varietas baru melalui metoda radiasi radio aktif ternyata telah lama dilakukan di Badan Tenana Nuklir Nasional (Batan). Varietas yang dihasilkan melalui teknologi ini antara lain kharisma 1 dan 2 untuk tanaman kapas. Dan hasilnya juga cukup menjanjikan.

Kharisma 1 dan 2 merupakan varietas kapas yang dihasilkan melalui penyinaran sinar gamma dosis 20 Gy terhadap varietas NIAB 999 asal Pakistan. Sehingga kemudian kedua varietas ini memiliki kualitas yang lebih baik dari induknya.

Kedua jenis varietas memiliki umur panen yang gejah yakni 110 sampai dengan 120 hari. Dengan produksi bisa mencapai 4,769 ton/ha. Dimana kedua varietas ini bisa ditanam dengan kerapatan 100 x 10 cm. Sehingga untuk per ha bisa ditanami kapas hingga 100.000 tanaman.

Kelebihan lainnya dari varietas Kharisma 1 dan 2 adalah memiliki bol lebih bulat, warna serat sangat putih sehingga tidak perlu perlakuan khusus untuk memutihkan. Dan saat buah matang umumnya merekah secara sempurna sehingga mudah memanen,serta melepaskan dari kulit buah sehingga mempercepat waktu panen dan menghemat tenaga pada prosesing hasil.

Jika ditinjau dari mutu serat, kedua varietas tersebut memiliki kandungan serat yang tinggi. Kharisma 1 memiliki kandungan serat 1,147 ton/ha, dan Kharisma 2 memiliki kandungan serat sebesar 1,106 ton/ha.

Menariknya, jika ditanam tanpa menggunakan insektisida Kharisma 1 dan 2 dapat menghasilkan kapas berbiji lebih banyak dibandingkan dengan penanaman menggunakan insektisida, karena penggunaan bahan kimiawi tersebut dapat menghilangkan predator dari serangan lepideptera. Disamping itu kedua varietas ini sangat toleran terhadap serangan H. armigera.

Kedua varietas ini dapat diperoleh dalam bentuk biji di Badan Tenaga Nuklir Nasional. Saat ini status kedua varietas tersebut, Kharisma 1 dan 2, telah ditetapkan sebagai benih bina. Artinya sudah dapat digunakan secara luas oleh masyarakat.

Kedepannya penggunaan radioaktif dapat menjadi solusi untuk memproduksi bahan tanam unggul bermutu. Dan Indonesia memiliki Batan sebagai salah satu lembaga yang telah memanfaatkan teknologi tersebut, dan hingga saat ini masih melakukan penelitian untuk menghasilkan tanaman baru melalui mutasi gen.

Tidak ada komentar: