;

Selasa, 24 Februari 2009

DAMPAK EKOLOGI PENGEMBANGAN KELAPA SAWIT UNTUK BIOENERGI


Beberapa tahun terakhir ini konsumsi bahan bakar minyak Indonesia semakin meningkat dengan seiring dengan peningkatan penduduk dan industri. Sementara itu produksi bahan bakar minyak Indonesia semakin terbatas, bahkan diduga dalam kurun waktu 10 – 15 tahun mendatang akan habis jika tidak ditemukan ladang/sumur minyak baru.

Kebutuhan BBM Indonesia sekitar 21 milyar liter/tahun, sementara produksi nasional baru 14 milyar liter/tahun, sehingga perlu mengimpor sekitar 7 milyar liter/tahun.. Menurut Ditjen Migas impor BBM mengalami peningkatan yang signifikan dari 106.9 juta barel pada tahun 2002 menjadi 116.2 juta barel pada tahun 2003 dan 154.4 juta barel pada tahun 2004.

Humas BPPT (2005) menyebutkan bahwa pada semester I tahun 2005 Indonesia mengimpor minyak senilai US$ 28,37 miliar. Nilai tersebut jauh lebih besar dari nilai pada periode sama tahun sebelumnya, yang mencapai US$ 20,96 miliar. Peningkatan harga minyak dunia saat ini mencapai US$ 78.4 per barel, telah menyulitkan perekonomian Indonesia sehingga mengalami krisis energi.

Kondisi ini mendorong pemerintah Indonesia untuk mencari sumber bahan bakar (energi) alternatif yang sustainable. Keseriusan pemerintah Indonesia untuk mengurangi ketergantungan pada BBM dengan menerbitkan : 1) Peraturan Presiden Nomor 5 tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional untuk mengembangkan sumber energi alternatif sebagai pengganti BBM dan 2) Instruksi Presiden Nomor 1 tahun 2006 (tanggal 25 Januarai 2006) tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (Biofuel)

Sebagai sumber energi alternatif berupa bioenergi yang dihasilkan dari bahan nabati berupa Biodiesel dan Bioetanol. Proses produksi metil ester (biodiesel) dapat dihasilkan melalui proses transesterifikasi trigliserida dari minyak mentah nabati. Sedangkan proses produksi etanol secara fermentasi umumnya menggunakan bahan yang mengandung sakarida, pati dan atau selulosa, dengan bantuan mikroorganisme.

Jenis tanaman yang potensial sebagai penghasil biodiesel (alternatif pengganti solar) antara lain kelapa sawit, jarak pagar dan nyamplung. Sedangkan tanaman penghasil bioetanol (alternatif pengganti premium). Antara lain singkong, tebu dan sagu. Dari beberapa jenis tanaman penghasil bahan energi tersebut telah yang lama diusahakan oleh masyarakat dan memiliki areal yang cukup luas adalah kelapa sawit. Tanaman kelapa sawit pengembangannya pada daerah yang beriklim basah, terutama di Indoensia bagian barat, walaupun saat ini mulai dikembangkan ke wilayah Indonesia bagian timur.

Pada awalnya (tahun 1970-an) penanaman kelapa sawit sebagai substitusi tanaman penghasil minyak makan saat itu (kelapa). Mulai dekade tahun 1980-an pengembangan kelapa sawit secara besar – besaran untuk memenuhi kebutuhan minyak makan. Pengembangan kelapa sawit terus meningkat sejalan dengan peningkatan penduduk dan kebutuhan minyak makan + oleokimia.

Program CPO untuk biodiesel mempercepat peningkatan perluasan areal untuk kelapa sawi. Luas areal lahan kelapa sawit Indonesia pada tahun 2007 sekitar 6.8 juta ha (Direktorat Jenderal Perkebunan, 2008)

Ditinjau dari aspek ekonomi pengembangan perkebunan kelapa sawit memiliki dampak positif antara lain meningkatkan pendapatan masyarakat, penerimaan negara (devisa), lapangan kerja, n produktivitas, nilai tambah dan daya saing. Serta memenuhi kebutuhan konsumsi dan bahan baku industri dalam negeri. Pengembangan kelapa sawit disarankan pada lahan yang memiliki tingkatan kesesuaian S-1 (sangat sesuai), S-2 (sesuai) dan S-3 (agak sesuai).

Namun demikian dalam perkembangannya pembukaan areal untuk kelapa sawit juga dilakukan pada areal yang kurang sesuai (N-1) termasuk lahan gambut. Beberapa dampak ekologi yang ditimbulkan akibat deforestasi antara lain mengakibatkan perubahan ekosistem hutan, karena adanya alih fungsi hutan menjadi perkebunan. Program alih fungsi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit sangat diminati investor, karena sebelum mulai berinvestasi para investor sudah bisa mendapatkan keuntungan besar berupa kayu.

Juga mengakibatkan hilangnya keanekaragaman hayati dari ekosistem hutan hujan tropis serta plasma nutfah, sejumlah species tumbuhan dan hewan. Juga mengakibatkan hilangnya sumber air, sehinga memicu kekeringan, peningkatan suhu udara dan gas rumah kaca (global warming). Menyebabkan bencana alam seperti banjir dan tanah longsor serta hilangnya budaya masyarakat di sekitar hutan

Sebagai contoh bencana alam sejak tahun 2000 terjadi berbagai bencana banjir, longsor dan kekeringan semakin meningkat setiap tahun. Bencana kekeringan tidak hanya berdampak pada peningkatan suhu tetapi juga menyebabkan sulitnya air (untuk pertanian dan konsumsi manusia) dan penurunan produksi pangan, serta memicu kebakaran dan pencemaran asap.

Sedangkan dampak ekologi akibat kegiatan pembukaan lahan seperti hilangnya sumber resapan air, tanah lapisan atas (top soil) yang subur. Terjadinya pemadatan tanah dengan adanya alat berat dan hilangnya organisme hutan, satwa liar (Orang Hutan, Gajah, Harimau Sumatera dan satwa lainnya.)Pembukaan hutan yang tidak bertanggung jawab (sistem bakar) penyebab pencemaran asap, meningkatan suhu udara dan perubahan iklim.

Sedangkan sistem penanaman perkebunan kelapa sawit berupa sistem monokultur / homogenitas, hal ini dapat berdampak pada menurunnya kualitas tanah (kesuburan) jika tidak diimbangi pemupukan yang mamadai. Penggunaan pupuk an-organik yang berlebihan, residu dapat mencemari tanah. Terjadi peningkatan erosi dan serangan hama penyakit. Tanaman kelapa sawit sangat boros (rakus) hara dan air.

Bagaimana dampak ekologi penggunaan CPO sebagai bahan bioenergi ? Untuk hal ini banyak dampak positif yang ditimbulkan antara lain : Bioenergi produk dari CPO lebih ramah terhadap lingkungan dan bersifat dapat terbarukan dibanding energi fosil karena diproduksi dari bahan organik. Walaupun memiliki nilai kalor yang lebih rendah, tetapi memiliki titik nyala (ignititaion point) dan viskositas kinetik yang lebih tinggi daripada energi fosil.Bioenergi produk dari CPO lebih wangi dibanding energi fosil. Akan terjadi persaingan kepentingan kebutuhan CPO untuk bahan pangan dan minyak dengan energi

Dengan memperhatikan hal tersebut di atas, maka dalam pengembangan perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan diperlukan : 1) Perencanaan penataan tata ruang yang berorientasi lingkungan berkelanjutan, 2) Areal konservasi dipertahankan, adanya buffer zone (misalnya 100 m dari sungai atau sumber air tetap dihutankan, 3) Adanya pembatasan pelepasan pada hutan konversi dan proses persetujuan pelepasannya dengan prosedur dan syarat yang ketat, 4) Pembukaan hutan dilarang dengan sistem bakar, 5) Pembangunan perkebunan kelapa sawit pada areal yang betul – betul sesuai, jangan dipaksakan hanya karena alasan ekonomi semata. Serta 6) Pemberian sanksi yang tegas bagi yang melanggar
(Dr Ir Hariyadi, MS, Staf Pengajar Departemen Agronomi an Hortikulktura, Fakultas Pertanian, IPB)

Sumber: Media Perkebunan Edisi Januari

4 komentar:

infoGue mengatakan...

Artikel anda di

http://energi.infogue.com/dampak_ekologi_pengembangan_kelapa_sawit_untuk_bioenergi

promosikan artikel anda di infoGue.com. Telah tersedia widget shareGue dan pilihan widget lainnya serta nikmati fitur info cinema, game online & kamus untuk para netter Indonesia. Salam!

sawiiit.blogspot.com mengatakan...

thanks atas infonya

Anonim mengatakan...

Who knows where to download XRumer 5.0 Palladium?
Help, please. All recommend this program to effectively advertise on the Internet, this is the best program!

lovlycious rain mengatakan...

nice info...
terima kasih....