;

Senin, 19 Oktober 2009

KEMIRI SUNAN: SUMBER BIO-DIESEL YANG MENGEJUTKAN

Sungguh mengejutkan tanaman kemiri sunan. Mengapa tidak? Selain produksi minyak relatif lebih tinggi dari tanaman penghasil bio-diesel lainnya, untuk memproses minyak kasarnya menjadi bio-diesel juga lebih efesien.

Banyak tanaman yang buahnya dapat diolah menghasilkan bio-diesel, seperti kelapa sawit, jarak pagar dsb. Namun keberadaan kemiri sunan sebagai sumber bahan baku bahan bakar nabati adalah sesuatu yang baru. Hampir bisa dikatakan tanaman ini belum dibudidayakan secara intensif. Namun kemiri sunan sangat menjanjikan untuk dijadikan sebagai bahan baku bahan bakar nabati.

Gambar. Buah Tanaman Kemiri Sunan

Tanaman ini banyak tumbuh di pulau Jawa khususnya di wilayah Jawa Barat. Kemiri Sunan banyak dijumpai di Bandung, Sumedang, Majalengka, Garut dan Cirebon. Bahkan di Garut tanaman ini dianggap tanaman keramat, sehingga masyarakat di wilayah tersebut enggan mengambil buahnya. Diperkirakan tanaman masuk ke Indonesia sejak abad ke -19 oleh pedagang asal Cina.

Dari pertanaman Kemiri Sunan setiap 1 ha bisa diperoleh 10 ton minyak kasar/ tahun. Hasil ini jauh lebih tinggi dari kelapa sawit yakni sekitar 6 ton/ha/tahun minyak kasar. Tentu hasil ini jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan jarak pagar.

Hal ini dimungkinkan karena rendemen dari biji kemiri sunan bisa mencapai 50 persen. Menariknya lagi, dari minyak kasar bisa diperoleh 88 persen bio-diesel dan 12 persen Gliserol. Sehingga dapat disimpulkan kemiri sunan relatif cukup efisien sebagai bahan baku bahan bakar nabati. Disamping itu minyak kasar kemiri sunan bisa digunakan untuk memproduksi sabun, briket, pupuk organik, biopestisida, cat, resin, pelumas, kampas, dll



Produksi buah kemiri sunan bisa mencapai 50 – 289 kg/pohon/tahun. Tanaman mulai berbuah sejak umur 5 – 25 tahun. Dengan rendemen minyak mencapai 50 persen. Namun dengan pemuliaan tanaman diperkirakan bisa dihasilkan tanaman dengan masa panen yang lebih cepat kurang dari 5 tahun. Mengingat saat ini Balittri masih dalam proses pemilihan blok penghasil tinggi.

Disamping sebagai tanaman sumber bahan baku bio-diesel kemiri sunan juga cocok digunakan sebagai tanaman konsevasi. Hal ini dukung dengan daunnya yang lebat lebat, lebih dari 80.000 helai/phn. Sehingga mampu mengikat CO2 dalam jumlah besar untuk kemudian menghasilkan O2. Disamping itu tanaman kemiri sunan juga memiliki perkaran yang kuat dan dalam. Dalam 4 tahun pajang akar bisa mencapai 4 meter. Cocok ditanam di tanah kritis.

Tanaman ini sudah diusulkan agar menjadi komoditas binaan Direktorat Jenderal Perkebunan. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri (Balittri) masih melakukan observasi dan penelitian untuk menentukan tanaman terpilih yang nanti bisa ditetapkan sebagai blok penghasil tinggi. Diharapkan kemiri sunan bisa menjadi salah satu alternatif harapan bahan baku bahan bakar bio-diesel di Indonesia.

9 komentar:

titie mengatakan...

sungguh ironis, banyak tulisan mengenai kemiri sunan, akan tetapi yang menemukan dan memprakarsai malah diintimidasi, dimanipulasi dan seluruh tulisan dan gambarnya diplagiat.

Anonim mengatakan...

iya bu, saya sendiri termasuk yg ngebantu wara wiri termasuk tulisan2 yg beredar itu sy dan kawan2 yg buat

Anonim mengatakan...

Indonesia, kapan kauhargai wargamu sendiri untuk memberikan baktinya pada rakyatmu. Penemu, pemikir, pioner untuk memberikan hal terbaik bagi bangsanya jika tidak diterima, dihargai, tentu lama2 bosan dan lari kenegeri seberang, mengibarkan semua temuannya untuk warga lain...relakah ?????????????

Anonim mengatakan...

Saya mendengar berita kemiri sunan ini dari teman seperjalanan dalam penerbangan Jogya-Jakarta, seperti yang di katakan Titie..jadi ironis ya..birokrat kita juga pengin jadi plagiat, takut gak populair atau gak dapat penghasilan lain ya...ha haha...ironis...Boss deptan..lepas aja tanaman ini demi kesejahteraan rakyat, kesejahteraan bumi Indonesia yang makin krisis....

Anonim mengatakan...

kenapa ya setiap membaca artikel kemiri sunan selalu ada kata-kata PLAGIAT, kok kayaknya yang komentar2 seperti seorang kebakaran jenggot yang tidak kebagian jatah..gk jauh beda dengan para tikus2 berdasi, jangan-jangan tikus berdasi juga neh...
Buat Forum Komunikasi PBT teruskan dan lanjutkan

Anonim mengatakan...

Saya tertarik dengan Tulisan ini, mengingat sudah berjarak waktu sekitar 3 tahun, mungkin ada kemajuan, misal tanaman kemiri dimana (yg sudah dibudidayakan, selain di Ponpes sunan drajat lamongan),dan bagaimana perkembangannya, misal hasil uji laboratorium maupun lapangan, seperti uji performance kendaraan (PT.Rutan Agrindo Gresik sdh melakukan uji coba)
bagaimana dengan Biaya tanam dibandingkan sawit, berapa haega pokok produksi tiap liter), karena dari sejarah jarak pagar juga bercerita tentang hal yang mirip, utamanya "dapat tumbuh subur ditanah marginal" kenyataannya "jauh panggang dari api". akibatnya "cerita" bahan bakar biodiesel dari minyak lain selain Sawit, canola,Rapesheed, kedelai dll, menjadi kekawatiran masyarakat...(kami mengalami mimpi buruk dng jarak pagar, sehingga teman-teman pada "ngeri" dikejar-kejar petani yang dijanjikan macam-macam karena kegagalan...ujungnya juga petani yang nota bene rakyat kecil juga ikut menjadi korba. tks

Farhan Daifur mengatakan...

mohon informasi mengenai tempat pembelian minyak kemiri sunan, baik langsung ataupun secara online.
terima kasih

Thea Chen mengatakan...

Pembelian minyak kemiri sunan dimana ya? Saya butuh untuk penelitian skala laboratorium..

Sipayung Consultant mengatakan...

Admin. untuk pembelian minyak kemiri sunan mungkin bisa menghubungi Pak Hendra Suharna atau Balittri