;

Minggu, 27 Januari 2008

PENGEMBANGAN TEKNOLOGI SOMATIK EMBRIOGENESIS UNTUK TANAMAN KAKAO DI PUSLITKOKA

Dalam rangka memenuhi kekurangan benih kakao untuk program revitalisasi perkebunan kakao, maka Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia mencari alternative teknologi yang dapat memenuhi kekurangan kebutuhan benih kakao yaitu dengan teknologi Somatik Embriogenesis (SE).

Teknologi somatik embriogenesis sebenarnya telah dihasilkan di Indonesia, khususnya di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia. Namun demikian, penerapan teknik tersebut di Indonesia dalam skala besar masih belum dicoba. Hal ini disebabkan oleh dua hal : 1). Masih mahalnya harga bibit hasil teknik ini, karena embrio somatik umumnya masih beragam dalam ukuran dan perkembangannya, sehingga masih perlu dilakukan satu tahapan perakaran embrio somatik secara individu di laboratorium, dan 2). Masih belum diketahuinya secara skala lapang terjadinya variasi keragaan tanaman di lapang, yang biasa disebut variasi somaklonal. Pengembangan teknologi ini di Indonesia terus dilakukan, namun untuk penerapan secara skala besar masih belum memungkinkan.

Saat ini Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia sudah berhasil mengembangkan pengecambahan embrio somatik di luar laboratorium (ex vitro) bersamaan dengan tahap aklimatisasi. Embrio somatik yang digunakan sebagai bahan penelitian adalah embrio somatik yang dihasilkan oleh Pusat Penelitian Nestle Tours Perancis. Tahapan produksi bibit kakao melalui teknologi bioreaktor seperti gambar berikut :


Alur produksi bibit kakao somatik embriogenesis

Pusat Penelitian Nestle Tour Perancis telah lama mengembangkan teknologi somatik embriogenesis kopi, kakao dan tanaman komersial lainnya. Dengan teknologi tersebut dapat dihasilkan embrio somatik yang seragam baik dalam ukuran maupun perkembangannya. Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia saat ini sedang melakukan upaya transfer teknologi perbanyakan kakao tersebut. Dengan kapasitas laboratorium kultur jaringan sebanyak 2 juta bibit per tahun yang dimiliki diharapkan proses transfer dan adopsi teknologi tersebut berhasil dengan baik.

Kelebihan teknologi somatik embriogenesis kakao yang dikembangkan Pusat Penelitian Nestle Tour Peranis sebagai berikut :
1. Tingkat keseragaman tanaman hasil perbanyakan somatik embriogenesis tinggi.
2. Tanaman yang dihasilkan memiliki tekstur seperti tanaman hasil perbanyakan dengan biji yaitu memiliki akar tunggang dan berjorget (kakao).
3. Hasil uji lapang di Equador, tanaman kakao hasil perbanyakan dengan teknik somatik embriogenasis lebih vigor dan berbuah lebih awal dibandingkan tanaman hasil perbanyakan konvensional.
4. Harga bibit tidak lebih tinggi daripada harga bibit asal setek.

Sabtu, 19 Januari 2008

PEMBAGIAN BIBIT KARET DI OI DIDUGA MENYIMPANG

Puluhan masyarakat yang tergabung dalam SRMK (Serikat Rakyat Miskin Kota) Kab Ogan Ilir kemarin melakukan demonstrasi damai ke Gedung DPRD. Mereka memprotes penyimpangan kebijakan yang dilakukan kepala desa dan pihak kecamatan, khususnya dalam pembagian bibit karet gratis. Koordinator aksi Zainal Abidin dalam pernyataannya meminta pemerintah mengusut penyimpangan tersebut.
”Kami meminta pemerintah menindak tegas oknum kepala desa dan camat yang terbukti melakukan KKN, seperti penyalahgunaan bantuan bibit karet dan lainnya,” kata Zainal di Gedung DPRD Indralaya Selasa (8/1) kemarin.

Menurut dia, pembagian bibit karet tidak adil, seperti yang terjadi di Desa Munggu. Penyimpangan dilakukan oknum Kepala Desa Abdul Latif. Salah seorang warga Munggu, Rozim, mengatakan, dirinya dijanjikan mendapatkan bibit karet gratis sebanyak 500 batang untuk 2 hektare lahan. Kenyataannya, hanya mendapatkan 100 bibit karet. Dia mengaku masih dikenakan biaya Rp450 per batang bibit karet dengan alasan buat ongkos transportasi.

”Setiap pembagian bibit gratis masyarakat juga tidak dilibatkan. Padahal sebelumnya, kepala desa pernah mendata warga yang membutuhkan bibit karet,” ujarnya. Menurut Rozim, saat pembagian, bibit tersebut banyak jatuh kepada kerabat dekat kepala desa yang perekono-miannya lebih baik.

Sementara, di sekitarnya banyak masyarakat miskin yang memiliki lahan, tapi tidak mendapatkan bantuan. Mengenai aturan pembentukan kelompok yang disarankan Dinas Hutbun,menurut Rozim, masyarakat tidak pernah diminta membentuk kelompok tersebut.

Sementara itu, Kabid Perkebunan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kab Ogan Ilir Edrus Ujang mengatakan, sudah dua tahun Pemkab membagikan bibit karet dan kelapa sawit secara gratis. Namun, dia tidak mengira kalau ada kepala desa yang menarik biaya setiap kali pembagian bibit tersebut.

”Kalau masyarakat harus membayar Rp450–500 per bibit karet tidak sesuai dengan program pemerintah,”ujarnya.

Dia mengatakan, berdasarkan juklak dan juknis, Dishutbun telah meminta agar petani karet membentuk kelompok. Hal itu untuk mempermudah penyalurannya. Menyangkut masalah biaya transportasi, menurut Edrus, semua diserahkan kebijakannya kepada masyarakat.

”Bibit hanya diantar sampai ke rumah kepala desa,” jelas Edrus. Dia menjelaskan, pada 2007, dari 241 desa,s ebanyak 185 desa telah mengusulkan bantuan bibit karet gratis. Saat itu, dianggarkan bibit karet gratis untuk 1.000 hektare. Rata-rata setiap desa mendapatkan bibit karet gratis sebanyak 10 hektare. Namun, untuk Desa Munggu pada 2006–2007 mendapatkan bantuan masing-masing 25 hektare.

Ketua Komisi II DPRD Ogan Ilir Rahmadi Djakfar meminta Dishutbun untuk memberikan langsung bibit kepada petani karet. Sedangkan, kepala desa setempat cukup mengetahuinya.

”Dishutbun harus membuat jadwal pengantaran yang disanggupi kontraktor, sehingga petani karet dapat menerima langsung,” ujarnya. Selain itu, dia meminta juga kepada Dishutbun secepatnya memberikan rekap penyaluran bibit karet tahun 2006 dan 2007, seperti jumlah, luas areal penyaluran. ”Kita akan mengevaluasi sistem pemberian bibit tersebut agar sampai pada sasaran,” ujarnya. (muhlis/SINDO)

Sumber: http://infokito.wordpress.com/

SAWIT DI JAMBI SEMAKIN MAHAL

Seiring maraknya pembukaan kebun-kebun sawit di Provinsi Jambi, harga bibit tanaman ini menjadi semakin mahal. Kenaikan harganya sudah mencapai 30 persen hingga 50 persen dalam enam bulan terakhir.

Bahkan, pada saat ini harga sawit yang bersertifikat sudah mencapai Rp 15.000-Rp 20.000 per batang atau naik dibandingkan sebelumnya Rp 10.000-Rp 12.000 per batang. Adapun harga bibit sawit tak bersertifikat menjadi Rp 7.000 per batang, dari sebelumnya Rp 4.000-Rp 5.000.

Menurut Edi (58), petani sawit plasma di Desa Talang Bukit, Sungai Bahar, Muaro Jambi, harga terus menanjak sejak enam bulan terakhir. Kondisi ini terjadi seiring maraknya pembukaan kebun sawit di Jambi.

Edi sendiri yang sebelumnya memiliki setengah hektar kebun sawit belum lama ini memperluas areal penanamannya setengah hektar lagi. Perluasan itu membuat dirinya membutuhkan bibit dalam jumlah yang relatif besar.

Namun, dia mengaku sempat pusing karena harga bibit yang cepat naik. Apalagi saat mengetahui harga bibit bersertifikat sangat tinggi naiknya.

Menurut dia, dengan harga setinggi saat ini, ia tidak mampu sehingga membeli bibit biasa dari penangkar. “Harga jadi tidak menentu karena permintaan akan bibit sangat tinggi. Penjual jadi semaunya saja menaikkan harga,” tuturnya, Kamis (17/1).

Ia melanjutkan, banyak petani tergiur untuk membuka kebun sawit karena harga panennya yang terus membaik. Pekan ini, panen sawit berupa tandan buah segar (TBS) dari petani dihargai Rp 1.300-Rp 1.350 per kilogram. Kondisi tersebut stabil, bahkan sering membaik.

“Keuntungan petani memang tambah membaik, makanya banyak yang ingin buka kebun baru,” tuturnya.

Serangan hama

Persoalan yang dihadapi petani sawit tidak hanya harga bibit. Serangan babi juga mengakibatkan tanaman sawit muda rusak.

Sesuai pengalaman petani setempat, dalam tiga tahun terakhir petani terkadang harus mengganti tanaman sawit mereka sampai lima kali karena tanaman habis dirusak babi.

Hal senada diutarakan Hadi, petani lainnya. Menurut dia, petani harus membuat pagar mengelilingi setiap tanaman supaya tidak dirusak hama tersebut.

“Memang petani jadi lebih repot karena harus bikin pagar-pagar. Namun, kalau mau menghindari serangan babi, mau tidak mau harus pakai cara ini,” tuturnya. (ITA/KOMPAS)

Sumber: http://pusri.wordpress.com

Mohon tanggapan dari rekan-rekan pengawas benih tanaman perkebunan

Rabu, 16 Januari 2008

PENGEMBANGAN JARAK PAGAR: PROSPEK ATAU EFORIA?


Mau tidak mau energi alternatif harus dicari saat Indonesia diperhadapkan pada kenaikan harga BBM. Meski dirasa agak terlambat, Pemerintah Indonesia akhirnya memutuskan untuk mengembangankan bio-diesel.

Indonesia memiliki berbagai tanaman yang berpotensi dijadikan bahan baku bahan bakar nabati. Antara lain kelapa sawit, tebu, jojoba, singkong dan jarak pagar. Kelapa sawit dan tebu merupakan tanaman perkebunan yang sudah dikembangkan secara luas namun karena produk tanaman tersebut merupakan bahan baku pangan maka tanaman tersebut tidak dijadikan pilihan pengembangan.

Landasan Pilihan
Tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.) dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia khususnya di daerah pedesaan. Tanaman ini biasa digunakan sebagai tanaman pagar karena ternak enggan memakan daun tanaman ini karena mengandung racun

Namun tanaman yang bagi masyarakat Indonesia tidak bernilai ekonomis ini ternyata dapat diolah menghasilkan berbagai produk olahan. Disamping dapat dijadikan bahan baku bahan bakar bio-diesel, ternyata minyak jarak pagar juga dapat digunakan untuk minyak pelumas, campuran dengan minyak sawit digunakan dalam pembuatan sabun berkualitas tinggi; selain itu minyak jarak pagar digunakan dalam industri insektisida, fungisida dan molluskasida (Jones and Miller, 1992 dalam Puslitbangbun, 2005).

Minyak jarak pagar juga potensial untuk digunakan mengendalikan hama-hama Helicoverpa armigera pada kapas, Sesamia calamistis pada sorghum dan Sitophilus zeamays pada jagung. Sebagai molluskasida, ekstrak minyak jarak pagar cukup berhasil untuk mengendalikan keong mas (Pomacea sp) dan siput penyebar penyakit Schistosomiasis (parasityang banyak menyerang manusia didaerah tropis dan sub-tropis(Puslitbangbun, 2006). Disamping itu minyak jarak sering juga digunakan sebagai obat tradisional di daerah pedesaan. Minyak jarak pagar dapat digunakan untuk obat sakit kulit dan untuk meredakan rasa sakit karena reumatik.

Sesungguhnya sebagai bahan bakar bio-diesel, sejak jaman penjajahan Jepang, masyarakat Indonesia telah menyaksikan bagaimana minyak bio-diesel yang berasal dari tanaman jarak pagar telah digunakan sebagai bahan bakar pesawat tempur Jepang. Dan lazim hingga saat ini sejumlah masyarakat di pedesaan menggunakan minyak jarak untuk menyulut obor. Sehingga jika kemudian minyak jarak pagar dijadikan sebagai bahan bakar bio-diesel tentunya bukan hal yang asing lagi.

Jarak pagar tumbuh secara alami di tanah perkebunan dan di persawahan. Tanaman ini hampir dapat dijumpai di seluruh wilayah Indonesia mulai dari Sumatera hingga Sulawesi. Dengan daerah tumbuh ideal tanaman jarak pagar adalah di wilayah kering karena tanaman ini membutuhkan penyinaran lebih lama.

Melihat kenyataan tersebut tentunya sangat tepat jika pemerintah menetapkan jarak pagar sebagai tanaman pengembangan sebagai penyedia bahan baku bio-diesel. Karena tanaman tersebut merupakan tanaman yang sudah dikenal oleh masyarakat dan ada hampir di seluruh wilayah Indonesia serta pernah dan telah digunakan sebagai bahan bakar. Disamping itu jarak pagar dapat ditanam pada tanah kritis sehingga disamping sebagai tanaman bahan baku bio-diesel dapat dijadikan tanaman konservatif

Prospek atau Eforia
Usaha pencarian energi alternatif sebagai subsitusi penggunaan BBM menjadi sebuah tindakan yang sangat perlu dilakukan mengingat semakin tidak kondusifnya harga BBM yang kenaikannya berdampak terhadap gejolak perekonomian nasional. Namun bukan berarti setiap pengembangan bahan bakar bio-diesel tepat untuk dilakukan jika tidak dilakukan tanpa perencanaan yang tepat. Pengembangan penelitian, penyediaan bahan baku dan industri bio-diesel merupakan high investasi sehingga perlu perhitungan serta langkah-langkah strategis yang tepat. Jika tidak, maka rencana yang dicanangkan tidak lebih dari sebuah eforia meskipun tampaknya prospektif.

Seperti halnya dalam pengembangan jarak pagar, setidaknya persoalan telah muncul saat rencana pengembangan dilaksanakan. Karena ditetapkan berdasarkan Inpres pengembangan jarak pagar sebagai bahan baku bahan bakar bio-diesel oleh pemerintah daerah dan pejabat di Departemen terkait adakalanya dilakukan melalui upaya yang bombastis tanpa melihat kondisi yang ada. Ada sejumlah pemerintah daerah yang mencanangkan pengembangan jarak pagar seluas ratusan hektar melalui APBD tanpa melihat ketersediaan faktor pendukung bahkan dengan mengorbankan tanah-tanah produktif yang dapat ditanami dengan tanaman pangan.

Mungkin karena menyangkut sebuah pertaruhan jabatan apalagi dalam Inpres No 1 pada pasal 2 disebutkan agar setiap pihak terkait melaksanakan Instruksi Presiden ini sebaik-baiknya dengan penuh tanggung jawab dan melaporkan hasil pelaksanaannya kepada Presiden secara berkala. Jadi bagaimana jika target yang tetapkan tidak tercapai? apa dampaknya bagi penerima wewenang? Kondisi setidaknya ini mendorong setiap pihak terkait berusaha keras untuk mewujudkan pengembangan jarak pagar yang sangat prestisius tersebut. Hanya saja semangat yang menggebu-gebu ini kemudian seolah terbentur kembali oleh sejumlah keterbatasan infrastruktur yang tidak jelas apakah sudah diperhitungkan sebelumnya atau tidak.

Benih jarak pagar yang bermutu hingga saat ini ternyata belum tersedia karena tidak pernah dilakukan penelitian dan pemuliaan terhadap tanaman jarak pagar sebelumnya. Dimana Departemen Pertanian melalui Puslitbangbun baru saja melakukan eksplorasi tanaman untuk dijadikan tanaman induk, dan untuk tahun ini saja kemampuannya dalam menyediakan benih masih sangat terbatas. Sehingga bagaimana target 10 ton/ha/tahun dapat dicapai.

Dan bagaimana pula dengan pabrik prosesingnya. Untuk alat pengepras, yang memecahkan biji untuk kemudian dihasilkan minyak mentahnya, IPB dan BPPN mengklaim telah dapat menghasilkannya. Hanya saja rendemen yang dapat dihasilkan masih sangat terbatas, baru sekitar 25 %. Artinya dari 4 kg biji jarak pagar dihasilkan 1 liter minyak mentah jarak pagar, yang menurut perhitungan BPPT dengan asumsi harga biji Rp. 500 s/d 1000/kg, diperkirakan setelah proses trans-esterifikasi harganya dapat mencapai Rp. 5000,-/liter masih melampaui harga solar yang mencapai Rp.4.300,-/liter.

Disamping itu pembangunan industri bio-diesel memerlukan investasi yang besar dan lebih tepat jika dilakukan pengusaha swasta. Dengan kondisi bahan baku yang masih belum jelas demikian juga dengan pasarnya membuat pihak swasta tidak begitu tertarik untuk mengembangkan industri bio-diesel jarak pagar, sehingga masih memerlukan inisitatif pemerintah melakukan pilot project, yang tentunya dapat dibayangkan berapa besar anggaran negara yang perlu dikeluarkan untuk merealisasikan hal tersebut.

Kemudian saat jarak pagar telah diproses menjadi bio-diesel masih juga dipertanyakan apakah secara sempurna dapat mensubstitusi solar. Minyak bio-diesel jarak pagar mungkin dapat digunakan untuk mesin berbahan bakar solar, namun dalam jangka panjang apakah tidak merusak mesin. Hal ini belum sepenuhnya diketahui dan diperlukan penelitian selanjutnya.

Jika dilihat dari perspektif ekonomi petani, dengan harga beli biji jarak Rp.500,- apakah petani tetap tertarik menanam jarak pagar. Dengan asumsi produksi 8 ton/tahun maka petani hanya mendapatkan Rp. 4.000.000,- per tahun sedangkan jika petani menenam jagung dapat memperoleh pendapatan kurang lebih Rp. 7.000.000,-/tahun Dan hingga saat ini baru PT. RNI yang secara resmi bersedia membeli biji jarak pagar dari petani dengan harga 500/kg.

Perlu Pertimbangan Matang
Meskipun demikian tetap saja pemerintah daerah mengebu-gebu mengembangkan jarak pagar. Segala macam dilakukan termasuk mengumpulkan benih-benih lokal untuk ditanam kembali. Tidak tahu apakah produktivitasnya dari tanaman yang akan dihasilkan tinggi atau tidak, sehingga sulit meramalkan apakah kegiatan tersebut dapat berkelanjutan.

Program pengembangan jarak pagar didasarkan logika berpikir yang perlu dikaji. Program pengembangan perlu disesuai dengan pengembangan infrastuktur pendukung seperti industri benih dan pengolahan, penelitian. Agar program pengembangan tersebut dapat berjalan secara singkron dan tidak berlangsung secara sektoral. Disamping itu untuk menciptakan pasar maka pemerintah perlu juga mencanangkan sosialisasi dan mendorong penyebarluasan mesin dan kendaraan bermotor berbahan bakar bio-diesel agar target subsitusi solar dapat tercapai.

Disamping itu caruk-maruk pengembangan jarak pagar setidaknya mengingatnya pemerintah untuk tidak berpikir jangka pendek. Saat kebutuhan muncul kemudian aksi dilakukan, namun infrastruktur belum dibangun, maka kebijakanpun dicetuskan terkesan terburu-buru. Namun ada juga pandangan yang menilai adakalanya logika efisiensi berbeda dengan logika birokrasi dan jabatan berbeda. Logika efisiensi berorientasi pada ketepatan keputusan untuk menyelesaikan masalah yang timbul saat ini dan di masa yang akan datang, sedangkan logika birokrasi/jabatan berorietasi pada sesuatu yang dapat dilakukan dalam jangka waktu pendek, maksimal 5 tahun (masa periode jabatan), serta dapat memberikan sebuah efek spektukuler dan bombastis. Dampak dari logika efisiensi adalah resolusi masalah sedangkan efek dari logika jabatan adalah simpatik dari masyarakat dengan harapan pelestarian kekuasaan. Namun saya berharap bahwa pengembangan jarak tidak didasarkan pada logika birokrasi melainkan logika efisiensi (Halomoan).

Selasa, 15 Januari 2008

BULETIN PBT SEGERA TERBIT


Pengawas Benih Tanaman akan menerbitkan "SEEDS: Buletin Pengawas Benih Tanaman Perkebunan, dengan topik-topik menarik yang bakal disajikan adalah:

1.Penggunaan Varietas Unggul Tebu dalam Peningkatan Produktivitas Gula

2.Peningkatan Produktivitas Tanaman Kopi Robusta dengan Klonalisasi

3.Kiat-kiat Meningkatkan Kinerja sebagai Pengawas Benih Tanaman Perkebunan

4.Sumber Benih Kakao di Indonesia


Rekan-rekan yang berminat dapat memesan bulletin ini dengan menghubungi kami melalui email hendra_has@yahoo.com atau via hp 081807109782, seharga Rp.4.000,-

Kami juga membuka kesempatan bagi rekan-rekan yang ingin menyumbang tulisan atau ingin menampilkan iklan pada bulletin PBT selanjutnya (edisi berwarna).

Jangan sampai terlambat, pesan segera, persediaan terbatas!!

Selasa, 08 Januari 2008

ILMU TANAMAN, MENJADI SOLUSI MASA DEPAN?


Pujangga Belanda Gerbrand Adriaenz Bredero (1585-1618) mengatakan “het kan verkeren”, secara bebas dapat diartikan segala sesuatu dapat berubah. Beberapa tahun yang lalu, ilmu tumbuhan masih dipinggirkan dan kalah pamor dengan ilmu kesehatan manusia. Pada masa lampu pandangan bahwa tanpa tumbuhan tidak akan ada kehidupan belum mendapat tempat. Namun saat ini segalanya berubah

Suara sosok karismatik, salah satunya adalah peraih Nobel, Al Gore, telah mendorong banyak orang menyadari bahwa planet kita tengah berada dalam kondisi krisis dan penelitian tumbuhan menjadi bagian penting dalam membangun dunia yang berkesinambungan. Oleh sebab itu para peneliti di bidang pertanian dituntut untuk memiliki komitmen keras untuk menciptakan dunia yang lebih baik dengan dukungan dari stageholder lainnya seperti: akademisi, industriawan demikian halnya dengan pemerintah. Sulit untuk membayangkan, namun dalam 10 tahun ke depan pertambahan 3 juta penduduk, kebutuhan pangannya harus dipenuhi dengan kondisi lahan pertanian yang terbatas. Disamping itu, standar hidup di negara berkembang akan terus berkembang dimana konsumsi terhadap produk peternakan bakal meningkat, dimana sekali lagi akan meningkatkan kebutuhan bahan pakan ternak dalam jumlah besar yang juga berasal dari tumbuhan. Di level yang berbeda, pemanasan global cenderung merubah iklim dimana tanaman baru harus dikembangkan dengan mengatasi tekanan dan menigkatkan toleransi penyakit

Tanaman juga memiliki potensi sebagai bahan baku energi, dan akan menjadi solusi penyediaan energi masa depan. Namun sistem pertanian kedepan harus dibangun pengaturan agar terjadi keseimbangan antara penyediaan kebutuhan pangan dan biomass untuk memproduksi energi. Apalagi menurut EPSO, tanaman akan solusi utama terhadap krisis energi masa depan.

Secara tradisional, tanaman dikonsumsi salah satunya untuk memperoleh nitrogen-melalui protein. Namun pengembangan tanaman bioenergi mempunyai tujuan yang berbeda. Biofuel dibuat dari karbon dan hidrogen, dan kandungan nitrogren tidak dibutuhkan dalam konteks ini. Oleh sebab itu, untuk memproduksi bioenergi yang memiliki efisiensi tinggi maka harus harus meminimisasi input dari pupuk, air dan pestisida yang dapat meningkatakan kandungan nitrogen dan mengoptimalisasi pemanfaatan sumber daya yang menghasilkan karbohidrat.

Oleh sebab itu model pengembangan pertanian bakal melibatkan setiap bidang ilmu tanaman. Ahli botani dan ekologi membantu mengidentifikasi tanaman sumber bioenergi atau pangan, pemulia dan ahli agronomi membangun varietas baru dan model pertanian berkelanjutan, ahli molekul biologi tanaman melalukan mengindentifikasi dan modifikasi cell untuk perbaikah hasil produksi. Namun akhirnya keseluruhan bidang ilmu tersebut harus membentuk kerangka kerja yang mengintegrasikan segala pengetahuan baru agar secara keseluruhan dapat diarahkan mengoptimalisasikan produktifitas tanaman.

Pada masa lalu, ilmu tanaman sering dipandang kurang penting dibandingkan ilmu di bidang kesehatan dan banyak mahasiswa yang lebih menyukai mempelajari binatang dari pada tanaman. Namun saat ini terjadi sebuah titik balik, banyak peneliti muda yang memilih melakukan penelitian di bidang tanaman. Dan para peneliti tanaman tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap keberlangsungan dunia. Untuk meraih tujuan ini, maka sangat perlu untuk senantiasa meningkatan kesadaran pentingnya penelitian tanaman dan menjadikan ilmu pengetahuan tanaman di posisi yang terhormat. (Sumber: SeedQuest [terjemahan])

Sabtu, 05 Januari 2008

PEMERINTAH PERLUAS AREAL PERKEBUNAN KAPAS MENJADI 20.000 HA


Pemerintah akan memperluas areal perkebunan kapas menjadi 20.000 ha pada program tahun 2008 dari sebelumnya 14.700 ha, dengan sasaran produksi mencapai 6.600 ton sebagai bahan baku untuk memenuhi kebutuhan industri tekstil dalam negeri.

“Selama ini Indonesia dikenal sebagai penghasil tekstil terbesar di dunia, tetapi kebutuhan bahan bakunya masih impor dari luar,” kata Dirjen Perkebunan Departemen Pertanian Ahmad Mangga Barani di Jakarta, Rabu (3/10).

Kondisi perkapasan nasional saat ini sangat rendah, kebutuhan serat kapas dalam negeri saat ini mencapai 500.000 ton per tahun, sementara produksi kapas dalam negeri hanya mencapai 5000 ton atau sebesar 0,5 persen per tahun dari kebutuhan yang diperlukan.

Akibatnya masih terjadi kekurangan sebesar 99,5 persen, dan untuk menutupi kekurangan tersebut pemerintah harus mengimpor dari negara lain seperti dari Australia, Amerika Serikat, RRC dan sejumlah negara lainnya.

Penyebab rendahnya produksi kapas dalam nergeri, kata Mangga Barani, itu disebabkan karena petani belum menggunakan benih unggul, harga di pasaran juga kurang menarik (masih rendah) sekitar Rp2.000/kg pada tahun 2000, dan pada tahun 2007 ini harga mulai naik hanya mencapai Rp2.500/kg sehingga petani banyak yang enggan untuk menanam kapas karena dianggap kurang menguntungkan.

Untuk meningkatkan produksi kapas dalam negeri pemerintah telah mengambil langkah kebijakan untuk jangka panjang. Program tahun 2008 sebagai langkah awal untuk meningkatkan produksi dan produktivitas, pemerintah telah memperluas pengembangan perkebunan kapas menjadi 20.000 ha, menyediakan benih unggul yang kemampuan produksi mencapai 4 ton per hektar, memberikan subsidi benih (benih gratis), dan pemerintah hanya menyediakan 4 jenis benih unggul untuk menggantikan benih yang ada di petani, katanya.

Menurut Mangga Barani, untuk subsidi benih pemerintah telah menganggarkan sebesar Rp104,06 miliar dengan rincian subsidi benih jenis hibryda sebesar Rp101,25 miliar, sedangkan untuk jenis benih kanesia sebesar Rp2,8 miliar

Sarana produksi disiapkan seperti subsidi pupuk, pemberian modal melalui kredit perbankan, semua hasil produksi di beli olah pengelola, penetapan harga jual sebelum tanam yang ditetapkan oleh Dirjen Perkebunan.

Untuk permodalan Bank Mandiri sudah siap tinggal tunggu hitung-hitungannya dan sudah ada tujuh perusahaan pengelola yang siap membina petani kapas, sebagai pembina dan pembeli hasil produksi.

Untuk merangsang petani kapas dalam negeri pemerintah tahun 2008 akan merencanakan menaikan harga kapas menjadi Rp3.000 – Rp 4.000/kg.

Daerah yang menjadi proyek pengembangan kapas ada tujuh propinsi diantaranya Propinsi Sulawesi Selatan seluas 1.990 ha, Nusa Tenggara Barat 1.900 ha, Nusa Tenggara Timur 1.500 ha, Bali 1.500 ha, Jawa Timur 2.760 ha, Jawa Tengah 1.600 ha dan Daerah Istimewa Yogyakarta seluas 750 ha.

Tujuan perluasan tersebut adalah untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani dan stakeholder, memperluas kesempatan kerja dan peluang usaha di pedesaan, dan meningkatkan kontribusi bahan baku kapas pada industri perstekstilan dalam negeri. (Sumber: Depkominfo)

Silahkan rekan-rekan memberi tanggapan, apakah program ini cenderung bersifat ambisius atau realisitis; atau memberikan saran langkah-langkah bagaimanakan yang tepat dilakukan untuk mewujudkannya?

KIAT SUKSES BISNIS PERBENIHAN KELAPA SAWIT (PENGALAMAN PT. SOCFIN INDONESIA)


Perkembangan luas areal perkebunan kelapa sawit yang begitu pesat saat ini diprediksikan telah mencapai 6,5 juta ha pada tahun 2007 (deptan 2007), tentunya hal tersebut harus dibarengi dengan penyediaan benih sebagai salah satu sub sistem utama dalam agribisnis kelapa sawit yang harus tersedia tepat waktu. Bila dilihat dari luas areal yang harus dibuka saat ini diprediksi pembukaan areal untuk perkebunan kelapa sawit mencapai 700.000 – 800.000 ha setiap tahunnya dengan kebutuhan benih siap salur mencapai 140 – 160 juta butir. Hal ini telah mendorong beberapa perusahaan swasta untuk berinvestasi secara serius dalam usaha ini, karena selain untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan pihak ke-3, juga 3 produsen benih kelapa sawit yang sebelumnya yaitu PPKS, PT. Socfin Indonesia dan PT. London Sumatera tidak mampu memproduksi sebanyak jumlah yang dibutuhkan tersebut, disamping itu juga untuk mendorong agar industri benih kelapa sawit di Indonesia semakin kompetitif dan semakin seragam dengan tujuan untuk meningkatkan produktifitas hasil perkebunan. Dengan semakin banyak sumber benih yang telah mendapat ijin “restu” dari pemerintah khususnya Menteri Pertanian maka akan sisi positifnya adalah para sumber benih akan terus berupaya untuk meningkatkan kualitas baik kualitas baik ataupun pelayanan kepada konsumen, para produsen benih akan berlomba-lomba untuk meningkatkan kualitas produknya melalui pengembangan pemuliaan dan percobaan-percobaan untuk menghasilkan bahan tanaman yang memiliki produksi tinggi dan spesifik sesuai kebutuhan konsumen.

Melalui media ini PT. Socfin Indonesia sebagai salah satu pelaku bisnis dalam industri benih kelapa sawit ingin menyampaikan beberapa kiat sukses dalam bisnis perbenihan kelapa sawit hingga mampu menjadi salah satu produsen terbaik dan terbesar di Indonesia bahkan di dunia pada tahun 2006 dengan pangsa pasar mencapai 37%.

Memiliki Program Pemuliaan yang Mapan dan Berkesinambungan
Program pemuliaan kelapa sawit di PT. Socfindo mulai diperkenalkan pada tahun 1913. Seleksi pohon induk Deli Dura pertama ditanam di Sumatera (Aceh) serta pohon induk tenera yang berasal dari Congo (dikembangkan di Kwalak Krapoh/ Bangun Bandar) dan ini menjadi salah satu cikal bakal pengembangan pemuliaan kelapa sawit di Indonesia maupun dunia . Sampai dengan tahun 1970 metode pemulian yang digunakan tidak memiliki skema pemulian yang jelas dan seleksi yang dikembangkan pada masa tersebut adalah mass selection dan family selection dan hanya didasarkan pada bentuk tampilan fisik tanaman saja (phenotypic style).

Sejak tahun 1970 program pemuliaan PT. Socfindo dibangun di kebun Bangun Bandar yang kemudian menjadi Pusat Seleksi Bangun Bandar. Selain mengembangkan plasma nutfah sendiri, PT. Socfindo melakukan kerjasama dengan IRHO (Institut de Recherches pour les Huiles et Oleagineux) untuk program seleksi dan produksi benih. Tujuan dari kerjasama tersebut adalah untuk mengestimasi nilai dari hasil seleksi dan mereproduksi hasil seleksi terbaik untuk dikembangkan di masa mendatang (IRHO, 1970).

Beberapa tipe persilangan terbaik yang dihasilkan siklus sebelumnya kemudian diseleksi kembali, dan persilangan yang terbaik yang dihasilkan siklus tersebut kemudian dikembangkan kembali untuk dilakukan uji coba melalui metode yang dikembangkan Comstock et al (1949) dan diadopsi IRHO yang dinamakan Reciprocal Recurrent Selection Scheme (Seleksi Berulang Timbal Balik) dan sampai dengan saat ini melalui program tersebut elah dilakukan percobaan hingga generasi siklus ke-3 yang memiliki potensi bahan tanaman kelapa sawit dengan performance yang sangat baik dari segi produksi maupun karakteristik sekunder lainnya.

Terbukti dan Teruji secara Komersil
Disamping sebagai produsen benih kelapa sawit yang telah ditunjuk pemerintah berdasarkan SK Menteri Pertanian RI No. KB.320/261/KPTS/1984, tanggal 07 Mei 1984, PT. Socfin Indonesia juga memiliki perkebunan kelapa sawit dan karet komerisial untuk memproduksi CPO dan Crumb Rubber yang hampir menginjak usia 1 abad (100 tahun). Saat ini, 100% bahan tanaman yang digunakan di perkebunan kelapa sawit komersial PT. Socfin Indonesia adalah benih produksi sendiri yaitu DxP Unggul Socfindo. Berdasarkan performance secara komerisial menunjukkan bahwa DxP Unggul Socfindo memiliki produktivitas yang tinggi.

Memiliki Kebun Induk dan Pusat-Pusat Produksi Kecambah
Seluruh kegiatan yang berkaitan dengan produksi kecambah dipusatkan di Pusat Seleksi Bangun Bandar yang berlokasi di Kabupaten Deli Serdang berjarak ± 70 km dari kota Medan, Sumatera Utara.

Kecambah kelapa sawit yang diproduksi di Bangun Bandar yang dikenal dengan Pusat Seleksi Bangun Bandar (PSBB) merupakan reproduksi hasil progeny trial terbaik yang dihasilkan oleh Project Aek Kwasan dan Kebun Percobaan Bangun Bandar sendiri (IRHO-CIRAD, 1989) serta percobaan Aek Loba Timur. Dengan demikian Pusat Seleksi bangun Bandar hanya memproduksi kecambah dari persilangan-persilangan terbaik yang dihasilkan percobaan tersebut.

Fasilitas yang dimiliki oleh PSBB adalah 200 Ha kebun induk Dura (20.164 pohon) dan 79 Ha kebun induk pisifera (9.713 pohon) yang diperoleh dari selfing persilangan terbaik. Kemudian dari jumlah tersebut hanya dipilih 6.531 pohon Dura dan 619 pohon Pisifera yang digunakan untuk produksi kecambah. Penggunaan pohon induk yang selektif ini bertujuan untuk mendapatkan benih kelapa sawit yang memiliki potensi dengan kualitas terbaik dan sesuai dengan karakteristik yang diharapkan. Saat ini kemampuan PSBB untuk memproduksi benih DxP Unggul Socfindo adalah sebanyak 35 s/d 40 juta butir per tahun.

Sistem Pengawasan dan Pengendalian Mutu Ber-ISO 9001-2000
Untuk menghasilkan produksi kecambah yang mendekati 100% tenera, maka sistem pengawasan terhadap alur produksi harus benar-benar ketat, sehingga pada tahun 2001 secara resmi PT. Socfindo telah mendapat sertifikat ISO 9001 untuk manajemen mutu dan kualitas, sehingga benih yang dihasilkan mulai dari proses pengawasan produksi yang terbagi dalam empat bagian penting, yaitu lapangan, labotratorium dan penanganan di germinator hingga proses pengiriman kepada konsumen benar-benar melalui suatu prosedur yang ketat dan termonitor dengan baik. Pengendalian dilapangan terutama dalam hal isolasi bunga, penyerbukan, kontrol terhadap kemurnian dengan melaksanakan kontrol blank terhadap para polinator secara berkesinambungan. Ketepatan waktu penyerbukan serta proses pemanenan untuk masing-masing persilangan harus sudah terkendali dengan baik dalam bentuk database yang terkomputerisasi. Pengendalian mutu di laboratorium terutama menyangkut pollen viability test, sortasi benih dan embryo test. Pengendalian mutu dilaboratorium tersebut telah terkendali dengan standart yang baku sesuai metode yang dikembangkan IRHO (Cirad CP). Proses pengendalian di germinator terutama menyangkut perlakuan dengan pestisida, pengendalian suhu ruangan germinator, dan terakhir proses pengemasan untuk dikirim kepada konsumen. Proses pengendalian mutu baik dilapangan, laboratorium dan germinator semuanya memiliki standar yang baku dibawah pengawasan yang konsisten. Untuk menyakinkan bahwa proses produksi kecambah berjalan dengan baik setiap tahunnya PT. Socfindo disamping berpedoman kepada standar ISO 9001-2000, juga mendatangkan konsultan dari Cirad CP sebanyak 3 kali setahun untuk melakukan evaluasi dan penilaian serta memberikan saran guna menyempurnakan proses yang tujuan akhirnya bermuara pada output kecambah yang dihasilkan benar-benar terjamin kemurnian dan mutunya. Disamping itu juga, seluruh kegiatan proses produksi yang dilakukan di PSBB selalu diaudit baik oleh eksternal mapun puhak internal PT. Socfin Indonesia secara periodik dan random untuk memastikan bahwa produk benih kelapa sawit DxP Unggul Socfindo yang dihasilkan dapat dipertanggungjawabkan kualitasnya dan mampu uji telusur.

Quantity, Quality and Service (Kuantitas, Kualitas dan Pelayanan) Pemasaran
Sebagai salah satu komitmen untuk berpartisipasi dan memberikan kontribusi yang nyata dalam pembangunan perkebunan di Indonesia, melalui SK Mentan SK Menteri Pertanian RI No. KB.320/261/KPTS/1984, tanggal 07 Mei 1984 dan kemudian diperkuat dengan SK MENTAN NO. 440/KPTS/LB.320/7/2004 dan SK MENTAN NO.441/KPTS/LB.320/7/2004 Tanggal 22 Juli 2004 Tentang : PELEPASAN VARIETAS TANAMAN KELAPA SAWIT DxP UNGGUL SOCFINDO, PT. Socfin Indonesia telah ditunjuk sebagai salah satu produsen benih kelapa sawit di Indonesia.

Untuk memberikan informasi yang akurat dan benar, serta membantu para konsumen khususnya para pengusaha perkebunan baik swasta, pemerintah ataupun para petani untuk memperoleh benih yang unggul dengan kualitas yang tinggi, PT. Socfin Indonesia telah membentuk sistem pemasaran mudah, cepat dan dipercaya dengan berorientasi pada kepuasan pelanggan.

Hingga saat ini benih PT. Socfindo tidak hanya dipasarkan di dalam negeri tetapi juga ke luar negeri seperti ke Myanmar, Amerika Latin seperti Ekuador dan Kolumbia dan Afrika seperti Nigeria, Kamerun dan Pantai Gading.

Quality (Kualitas), Quantity (Kuantitas) dan Service (Pelayanan) adalah bagian dari motto pemasaran benih kelapa sawit PT. Socfin Indonesia yang secara berkesinambungan akan terus dikembangkan dan diperbaiki setiap saat.

Benih yang bekualitas tinggi dari hasil proses program pemuliaan dan produksi yang ketat pengawasannya merupakan hal yang mutlak dibutuhkan oleh para konsumen. Kualitas tidak saja berlaku terhadap benih yang dihasilkan tetapi juga kepada sistem pengemasan dan distribusi. Untuk itu PT. Socfindo saat ini, selain berfokus terhadap pemuliaan, juga terus mencari solusi untuk mengembangkan dan memperbaiki sistem pengemasan dan distribusi yang cepat, kuat dan aman.

Pada tahun 2006, penjualan benih DxP Unggul Socfindo mampu memiliki market share terbesar hingga 37% dari total peredaran benih yang ada untuk skala nasional, dan merupakan produsen benih kelapa sawit terbesar di dunia

Untuk memberikan rasa aman bagi konsumen agar benih yang diterima dan kemudian ditanam adalah asli (genuine), saat ini PT. Socfin Indonesia telah mengembangkan sistem kemasan yang mampu uji telusur dan memiliki tingkat keamanan yang tinggi. Sistem yang digunakan adalah dengan menggunakan sistem barcode (diagram batang) dan fast seal (segel berpengaman) maka benih yang dikirim kepada konsumen tidak mudah untuk diduplikasi ataupun di palsukan oleh pihak lain.

Disamping itu juga untuk memastikan bahwa produk benih DxP Unggul Socfindo yang dipasarkan adalah asli, sampai dengan saat ini PT. Socfin Indonesia tidak pernah menjual/menyalurkan/memasarkan kecambah/bibitnya melalui agen/perantara/mengatasnamakan distributor/toko/penangkar bibit/pihak ke-3 yang melakukan penjualan kembali (resale) termasuk pihak-pihak yang mengatasnamakan konsumen PT. Socfin Indonesia yang memiliki kuota tertentu namun dibatalkan atau mengatasnamakan jasa orang dalam/pejabat PT. Socfin Indonesia. Seluruh transaksi pembayaran hanya sah jika dilakukan langsung ke rekening PT. Socfin Indonesia.

Pemesanan benih kelapa sawit PT. Socfin Indonesia dilakukan melalui permohonan surat resmi yang ditujukan kepada Direksi PT. Socfin Indonesia u.p. Bahagian Tanaman. Jl. K.L. Yos Sudarso No. 106 Medan 20151. Atau menghubungi via Telpon : 061-6616066/6638010 dan Faksimili : 061-6614390.