;

Kamis, 24 Maret 2011

KETENTUAN LOKASI KEBUN INDUK KOPI


Kopi arabika merupakan jenis kopi untu daerah dataran tinggi. Sebagian besar kopi spesial berjenis ini. Sehingga pembangunan kebun induk kopi arabika adalah bidang usaha perkebunan yang masih menjanjikan. Mengingat kopi arabika Indonesia merupakan salah satu komoditas ekspor.

Adapun kriteria lokasi untuk pendirian kebun induk kopi arabika adalah sebagai berikut:

Syarat Lokasi
Letaknya terisolir dari pertanaman kopi robusta .
Lahan bebas`dari nematoda
Aman dari gangguan pencurian
Mudah diawasi.

Tanah
pH tanah : 5,5 – 6,5.
Kandungan bahan organik pada tanah atas (top soil) minimal 2%
Struktur tanah gembur/remah, keadaan tanah efektif >100 cm.
Kelerengan tanah untuk kebun benih maximum 20 %.

Iklim
Tinggi tempat 700 – 1.500 m dari permukaan laut.
Suhu/temperatur 15 - 24ÂșC.
Curah hujan rata-rata 1.500 – 4.000 mm/tahun
Jumlah bulan kering rata-rata 1 – 3 bulan/tahun (menurut Schmidt & Ferguson

Jumat, 18 Maret 2011

BIBIT SAWIT BERSERTIFIKAT UMUR 18 BULAN DIJUAL CEPAT LOKASI BENGKULU

Bagi rekan-rekan yang membutuhkan bibit bersertifikat asal PT. Bakti Tani Nusantara, sumber benih resmi yang ditetapkan pemerintah tahun 2008, saat ini tersedia stok benih sebanyak 60.000 batang umur 18 bulan. Bibit ini sudah cukup tinggi sehingga cocok untuk daerah yang rawan hama babi hutan.

Bibit ini dijual Rp. 27.000 batang/bibit, dan akan disertifikat ulang oleh BP2MB Bengkulu yang berlaku hingga 4 tahun mendatang. Bagi yang berminat segera menghubungi kam melalui pengelola blog ini, sebelum bulan Mei. Karena jika tidak bibit ini akan diserap untuk program pemerintah (kami lebih menyukai penjualan ke konsumen, karena cash and carry dan tidak perlu repot mengurusi dokumen).

Bibit ini sendiri berlokasi di kota Bengkulu. Kami hanya menerima pemesan dalam jumlah besar atau borongan. Khususnya bagi perusahaan yang harus segera tanam.

Bagi yang berminat hubungi pengelola blog ini (benih center) di nomor 085925077652

Senin, 14 Maret 2011

PENGEMBANGAN JARAK PAGAR MENGUNTUNGKAN?

Ternyata bisnis jarak pagar masih cukup menguntungkan. Hal ini setidaknya dibuktikan dari pengalaman PT. Bumi Eka Persada, anak perusahaan Sinar Mas Group.

Setidaknya hal ini dibuktikan dari pengembangan kebun induk di bilangan Cikarang, dimana PT. Bumi Eka Persana memiliki kebun seluas 40 ha. Varietas yang digunakan adalah jenis IP3 yang sudah diseleksi lebih lanjut sehingga bisa diperoleh produksi hingga 10 ton/ha/tahun biji kering.

Biji terpilih dijual dengan harga Rp. 150.000/kg. Jika banyak produsen benih yang mengeluhkan sulitnya menjual benih jarak pagar, hal yang berbeda dialami perusahaan Group Sinar Mas. Berapapun stok benih yang tersedia selalu habis terutama oleh pembeli dari Korea Selatan dan Jepang.

Untuk biji-biji afkir diolah menjadi minyak. Nah, berdasarkan pengalaman sinar mas, ternyata minyak jarak pagar memilih keunggulan dibandingkan minyak kelapa sawit karena tidak mudah membeku. Sama seperti benih jarak, minyak ini, berapapun stoknya selalu habis terjual.

Bahkan SMART pernah menjual minyak jatropha seharga $ 1250/ton atau sebanding dengan harga CPO. Hal ini terkait dengan tingginya harga minya bumi beberapa bulan terakhir yang mengakibatkan peningkatan kebutuhan untuk menghasilkan bahan bakar nabati. Sehingga tidaknya hanya CPO yang berani dibeli mahal oleh buyer di luar negeri namun juga minyak jarak pagar.

Menurut Tony Liwang, direktur PT SMARTRI, harga minyak bakar nabati asal jarak pagar sudah cukup visible jika dijual tingkat harga dunia. Namun di Indonesia seolah tidak menarik karena harga bio-diesel dibandingkan dengan harga solar subsidi. Tapi jika tanaman jarak ini dikembangkan di daerah-daerah yang marginal, seperti daerah kepulauan atau perbatasan yang konon harga BBM bisa menembus harga di atas Rp. 15.000,- maka bahan bakar nabati menjadi sangat visible.

“Ada baiknya jarak pagar diarahkan untuk mendukung terciptanya desa mandiri. Jarak kemudian ditanam sebagai tanaman pagar atau disela-sela tanaman produktif. Kemudian hasilnya digunakan untuk penggunaan sendiri menggantikan penggunaan minyak tanah atau bahan bakar lainnya”, tambahnya.

Kamis, 10 Maret 2011

PENYEBAB PEKEBUN MENGGUNAKAN BENIH SAWIT PALSU

Ada beberapa penyebab pekebun menggunakan benih sawit palsu.

Pertama, karena ketidaktahuan. Banyak pekebun yang ingin berkebun sawit namun tidak dibekali pengetahuan yang memadai. Terbukti banyak pekebun yang dengan mudahnya membeli benih asalan yang dijual di pasaran dengan berbagai embel-embel. Padahal benih sawit hanya bisa diperoleh di 8 sumber benih, dan tidak di tempat lain.

Ironisnya banyak pekebun yang terkejut mengetahui jika harga benih atau bibit sawit mahal urung membeli dari yang resmi dan memilih yang asalan. Padahal jika dihitung biaya yang ia keluarkan untuk benih belum seberapa dibandingkan investasi lainnya seperti pembelian lahan dan sarana produksi. Padahal jika menggunakan benih palsu, maka tanaman yang dihasilkan memiliki produksi tinggi dan di bebepa tempat dijumpai tanaman yang tidak menghasilkan sama sekali.

Kedua, alasan kepraktisan. Salah satu kendala untuk mendapakan benih bermutu adalah seluruh sumber benih berada di Sumatera. Sehingga pekebun yang akan menanam sawit di luar Kalimantan menjadi sedikit kesulitan. Namun banyak pekebun yang memutuskan untuk membeli dari pihak ketiga dengan alasan punya akses ke sumber benih. Atau membeli dari sumber yang tidak jelas.

Untuk benih sebaiknya setiap pekebun tidak perlu kompromi. “Dapatkan benih sawit bermutu sebisa mungkin”. Tidak ada yang sia-sia jika Anda lakukan itu. Karena apa yang Anda bakal peroleh bukan hanya bernilai beberapa juta melainkan puluhan bahkan ratusan juta selama puluhan tahun. Jadi cerdaslah dalam mengambil keputusan jangka panjang.

Ketiga, terlalu percaya dengan embel-embel impor. Banyak pekebun yang tahu dimana sumber benih kelapa sawit tetap saja membeli dari sumber yang tidak jelas hanya karena benih yang dipasarkan berasal dari luar negeri. Mungkin jika ada orang yang menawarkan benih asal Australia atau USA maka mereka juga akan segera membeli.

Hal yang perlu disadari koleksi materi induk yang ada di Indonesia sama lengkapnya dengan sumber benih yang ada di luar negeri seperti Malaysia, Costarica, PNG. Bahkan baru-baru ini sumber benih Indonesia sudah melakukan penambahan materi induk baru dari hasil eksplorasi di Afrika.

Dan perusahaan sawit besar di dunia juga ada di Indonesia dan mereka menggunakan benih dalam negeri. Jadi tidak ada alasan bagi pekebun untuk underestimate terhadap kuaitas benih negeri sendiri.

Senin, 07 Maret 2011

KULTUR JARINGAN MENJADI SOLUSI PERBANYAKAN KELAPA SAWIT MASA DEPAN

Kultur jaringan bisa dijadikan ujung tombak perbanyakan kelapa sawit ke depan. Untuk mempercepat proses waktu memperoleh bahan tanam unggul yang cukup lama jika menggunakan cara konvensional.

Menurut Tony Liwang Direktur R&D PT Sinar Mas Tbk (SMART) untuk menghasilkan varietas unggul perlu puluhan tahun. Saat ini sumber benih sudah mendapatkan materi tanaman sawit asal Kamerun namun perlu bertahun-tahun untuk menjadikan sumber genetic ini menjadi tanaman induk advance. Dan perlu beberapa tahun kemudian untuk menghasilkan varietas sawit unggul.

“Oleh sebab itu menurut saya solusi untuk mendapatkan varietas unggul adalah tissue culture. Caranya adalah dengan mencari tanaman dengan produksi terbaik untuk diperbanyak secara kultur jaringan. Misalnya saja pada sebuah perkebunan kelapa sawit dengan produksi rata 30 ton/ha/tahun, tentu jika dicek secara blok dipastikan ada yang produksinya hanya 25 ton/ha/tahun namun ada yang mencapai 40 ton/ha/tahun”, kata Tony Liwang.

“Misalnya menghadapi ancaman gonoderma, penyakit yang menjadi momok pada perkebunan yang telah melakukan replanting. Saya pernah menemukan tanaman kelapa sawit yang tetap hidup meskipun tanaman disekelilingnya sudah mati akibat Gonoderma. Maka bisa jadi tanaman itu memiliki ketahanan terhadap penyakit tersebut. Jadi untuk menghasilkan bahan tanam tahan gonoderma maka cukup memperbanyak tanaman tersebut dengan kultur jaringan. Oleh sebab itu tanaman tersebut kami berusaha selamatkan dan pelihara untuk diclonning dikemudian hari” jelas Tony.

Maka untuk mendapatkan bahan tanam unggul cukup mencopy tanaman dari blok yang memiliki produksi 40 ton/ha/tahun. Dipastikan keunggulan induknya akan turun kepada anaknya. Karena kita ketahui bahwa dengan kultur jaringan akan dihasilkan anak yang identik dengan induknya. Berbeda dengan cara konvensional yang dipastikan masih anakannya memiliki variasi cukup tinggi dengan induknya.

Oleh sebab itu menurut Tony Liwang, kedepannya fungsi sumber benih lebih pada mencopy tanaman yang ingin diperbanyak oleh konsumen. Jadi calon pengguna benih cukup menunjukkan tanaman mana yang ingin ia tanam dan produsen benih melakukan cloning. Jelas cara ini akan mempersingkat proses produksi bahan tanam unggul

“Saat ini SMART sudah mengembangkan perbanyakan tanaman kelapa sawit melalui kultur jaringan. Dan beberapa bibit hasil cloning di lab milik perusahaan sawit besat tersebut telah mulai ditanam di perkebunan milik sendiri”, jelas Tony.

“Saya sangat mengharapkan sinergi antara para peneliti kultur jaringan bagaimana agar mekanisme ini bisa diwujudkan dalam beberapa ke depan secara luas . Dengan demikian kita bisa mempercepat perbanyakan tanaman sawit unggul bagi masyarakat”, ungkapnya.

Kamis, 03 Maret 2011

BENTUK WARALABA BENIH KELAPA SAWIT DI INDONESIA


Ternyata tidak hanya minimarket yang diwaralabakan, bisnis benihpun bisa diwaralabakan. Waralaba dapat diartikan, erikatan dimana salah satu pihak diberikan hak memanfaatkan dan atau menggunakan hak dari kekayaan intelektual (HAKI) atau pertemuan dari ciri khas usaha yang dimiliki pihak lain dengan suatu imbalan berdasarkan persyaratan yang ditetapkan oleh pihak lain tersebut dalam rangka penyediaan dan atau penjualan barang dan jasa

Untuk benih kelapa sawit, di Indonesia terdapat 3 bentuk kerjasama waralaba, yakni:

Waralaba Varietas : Produsen benih (pemilik varietas) mereproduksi pohon induk hasil program pemuliaannya yang digunakan penerima waralaba untuk menghasilkan benih. Artinya penerima waralaba akan diberikan hak untuk memiliki pohon induk dari pemberi waralaba, demikian halnya dengan teknologi pengolahannya. Di Indonesia system ini digunakan beberapa perusahaan besar swasta untuk memiliki sumber benih sawit dengan bekerjasama dengan sumber benih di luar negeri. Di Indonesia, sumber benih PPKS membuka kesempatan waralaba bagi perusahaan yang berminat menjadi produsen benih.

Waralaba Benih : Produsen benih menyerahkan benih hasil persilangan untuk dikecambahkan di Seed Processing Unit milik penerima waralaba. Jadi si penerima waralaba tidak mendapatkan hak untuk memiliki pohon induk dari pemberi waralaba. Kerjasama antara Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan dengan Balai Penelitian Karet Sembawa berlangsung dengan cara demikian.

Waralaba Bibit : Produsen benih menyerahkan kecambah untuk dibibitkan oleh penerima waralaba mengikuti kaidah-kaidah yang ditentukan oleh produsen benih. Jadi penerima waralaba nantinya menjual bahan tanam sawit dalam bentuk bibit siap tanam berumur di atas 12 bulan. Waralaba jenis ini adalah yang paling popular saat ini, karena ada 2 sumber benih yang bersedia menjadi pemberi waralaba yakni PPKS dan PT. Bakti Tani Nusantara (BTN).

Melalui waralaba ini maka pihak-pihak yang berminat menjadi produsen benih dapat segera menjadi penyedia benih tanpa harus melewati proses pengembangan selama berpuluh-puluh tahun. JAdi tentu ini layak dijadikan pilihan bagi perusahaan atau perseorangan yang ingin menginvestasikan uangnya dalam usaha yang sangat menguntungkan.

Minggu, 27 Februari 2011

MEMBELI BENIH SAWIT UNGGUL TIDAK MEMBUTUHKAN SPEKULASI

Banyak calon pekebun yang menganggap mendapatkan benih sawit membutuhkan spekulasi. Mereka berusaha mencari bibit dari satu penangkar ke penangkar yang lain. Atau mencoba mencari jalur-jalur belakang untuk mendapatkan benih unggul. Namun semakin seorang pekebun berspekulasi mendapatkan benih sawit semakin besar peluangnya menggunakan benih sawit palsu.

Mengapa tidak? Membeli benih sawit pada dasarnya tidak membutuhkan berbagai alternatif dan pencarian yang intensif. Pasalnya penyedia benih sawit unggul untuk kecambah hanya 8 sumber benih yakni PPKS, PT. Socfindo, PT. Lonsum, PT. BTN, PT. Dami Mas, PT. Tunggal Yunus, PT. BSM, dan PT. Tania Selatan. Diluar 8 sumber benih tersebut dipastikan illegal.

Sedangkan untuk bibit, sumbernya hanya dari penangkar yang berwaralaba dari sumber benih resmi yakni PPKS dan PT. BTN. Di luar itu dipastikan legal. Meskipun saat ini jumlah bibit di lapangan saat ini terbatas namun masih ada beberapa penangkar pewaralaba yang memiliki bibit yang siap disalurkan.

Hanya saja banyak pekebun yang berspekluasi diakibatkan informasi yang terbatas dan ketidaksiapan dalam menerima kenyataan dari investasi benih itu sendiri. Sebagai disebutkan bahwa sumber penyedian benih unggul pada dasarnya tidak banyak. Hanya 8 sumber benih dan beberapa penangkar pewaralaba. Dan tidak dari sumber lain.

Tidak dari orang ketiga atau dari perusahaan yang mengklaim memiliki benih unggul yang dijual dalam bentuk peti, kantung. Karena benih unggul hanya dijual per kecambah, sedangkan peti dan kantung adalah media untuk melakukan pengiriman.

Namun tidak semua pekebun mengetahui hal tersebut. Khususnya yang baru pertama kali membangun kebun kelapa sawit.

Ketidaksiapan berinvestasi benih ditandai dari keterkejutan mengetahui harga kecambah yang ternyata tidak mudah. Pasalnya harga benih sawit resmi tidak murah berkisar Rp. 7.000 sd Rp. 10.000,-.

Sedangkan untuk bibit di atas 12 bulan di atas Rp. 25.000,-. Jadi jika seorang pekebun ingin membeli 1.000 barang bibit unggul sawit berumur 12 bulan maka ia harus menyiapkan uang sebanyak min Rp. 25 Juta. Banyak pekebun mengeluh “ harga bibit mahal sekali”.

Padahal dari investasi tersebut penghasilan yang diperoleh juga cukup sebanding. Jika membeli bibit unggul maka pekebun memiliki kesempatan memperoleh produksi hingga 30 ton. Misalnya saja harga TBS Rp. 1.700,-/kg. Maka utk setiap ha petani bisa memperoleh pengghasilan hingga Rp. 51 juta.

Untuk 1 Ha dibutuhkan bibit sekitar 150 (beserta sulaman) maka biaya yang dikeluarkan Rp. 3.750.000,-. Apakah investasi Rp. 3.750.000 cukup mahal untuk mendapatkan penghasilan Rp. 51 juta/ha setiap tahunnya?

Jika tidak menggunakan bibit unggul maka pekebun berpeluang kehilangan produksi hingga 50% atau penghasilan sekitar 25 juta. Hal ini dialami oleh sejumlah petani kelapa sawit di Sumut yang umumnya hanya memperoleh produksi TBS +10 Ton/ha/tahun meskipun sudah mencapai umur puncak produksi.

Hanya saja memang untuk mendapatkan benih unggul terdapat beberapa kesulitan antara lain sumber benih umumnya tidak selalu ada di seluruh wilayah pengembangan sawit. Sehingga pekebun, jika ingin mendapatkan benih unggul harus juga berlelah-lelah mengunjungi sumber benih dan menyiapkan dana tidak hanya untuk membeli benih namun juga ongkos pengiriman.

Namun tidak ada salahnya bersusah-susah saat ini mendapatkan benih unggul jika kemudian Anda bisa bersenang hati karena memperoleh penghasilan yang lebih dari biaya yang Anda keluarkan.

Kamis, 17 Februari 2011

BIBIT SAWIT UNGGUL BISA DIDAPAT DI BALIT SEMBAWA


Balai penelitian karet Sembawa yang berada Sumatera Selatan ternyata tidak hanya memasarkan benih karet unggul namun juga bahan tanam sawit bersertifikat. Balai Penelitian tersebut menjalin hubungan waralaba dengan PPKS Medan sehingga memiliki otoritas menjual benih asal sumber benih tersebut.

Selain menjual kecambah, Balit Sembawa juga menjual bibit kelapa sawit. Gambar di atas adalah bibit sawit umur 3 bulan yang tengah ditangkarkan di Balit Sembawa.

Bibit ini diprioritaskan bagi petani di daerah Sumatera Selatan. Bibit ini baru akan dipasarkan setelah berumur 9 sd 12 bulan. Sebelum disalurkan bibit ini akan disertifikasi oleh Balai Benih Sumatera Selatan.