
Walaupun klon generasi pertama dan kedua masih layak digunakan mengingat produktivitas dan mutu hasilnya baik, namun tetap masih diperlukan klon kakao yang lebih unggul. Oleh karena program pemuliaan kakao dengan sasaran diperolehnya bahan tanaman unggul yang lebih baik dari klon unggul sebelumnya.
Sehubungan dengan itu Puslitkoka Jember telah melakukan seleksi dan uji multilokasi terhadap beberapa klon kakao mulia dan lidak. Dengan tujuan memperoleh klon unggul yang memiliki sifat: produksi tinggi, mutu hasil baik, tahan terhadap hama dan penyakit utama seperti hama helopeltis dan penggerek buah kakao (PBK). Sedangkan mengenai peyakit, misalnya busuk buah (Phytopthera palmivora) dan penyakit vascular streaj dieback (VSD).
Adapun klon kalao unggul generasi ketiga terebut antara lain:
Pertama, kakao mulia ICCRI 01, dan ICCRI 02 yang memiliki sifat daya hasil tinggi >2 ton/ha/tahun. ICCRI memiliki daya hasil 2,51 ton/ha dan ICCRI adalah 2,34 ton/tahun dan mempunyai daya adaptasi yang baik, serta tahan terhadap hama Heleopeltis dan penyakit busuk buah (Phytopthera palmivora)
Disamping itu klon ICCRI 01 dan ICCRI 02 meunjukkan sifat komponen hasil yang lebih baik, yaitu biji/tongkol 30, berat per satu biji kering di atas 1 gram. Hasil analisa kadar lemak pada biji menunjukkan > 50 persen yaitu kadar lemak biji klon ICCRI 01 sebesar 59 persen dan klin ICCRI 02 sebesar 58 persen.
Kedua, kakao mulia ICCRI 03, dan ICCRI 04 yang memiliki sifat daya hasil tinggi >2 ton/ha/tahun. ICCRI 03 memiliki daya hasil 2,09 ton/ha dan ICCRI) adalah 2,06 ton/tahun dan mempunyai daya adaptasi yang baik, serta tahan terhadap hama Heleopeltis dan penyakit busuk buah (Phytopthera palmivora)
Hasil analisa kadar lemak pada biji menunjukkan > 50 persen yaiotu kadar lemak biji klon ICCRI 03 dan klin ICCRI 04 sebesar 55 persen.
Sumber: Puslitkoka Jember




