;

Senin, 09 Maret 2009

KAPAS HIBRIDA CINA JADI POLEMIK

Source: http://product-image.tradeindia.com/

Tanaman yang memiliki karakter unggul secara genetis bisa berubah menjadi biasa-biasa saja akibat perlakuan yang tidak tepat.

Demikian juga yang terjadi dengan kapas Hibrida Cina, varietas introduksi. Ternyata setelah ditanam di Indonesia ternyata produksinya tidak lebih dari 1 ton di sejumlah daerah. Bahkan di Lamongan, ada kasus petani dengan produksi mendekati nihil.

Padahal kapas unggul ini diperkirakan bisa mencapai produksi hingga 4 ton/ha, jauh melampaui kapas lokal yang potensinya produksi 3,6 ton/ha. Disamping itu kapas hibrida diklaim memiliki ketahanan terhadap serangan hama utama kapas, sehingga bisa membantu petani menekan biaya pembelian pestisida.

Jadi apa gerangan dengan kapas Cina sehingga hasilnya jauh dari harapan?

Mungkin kita perlu melihat bagaimana kapas ini dibudidayakan di negara asalnya Cina. Hasil hingga 4 ton adalah hasil yang biasa diraih petani kapas di negara tersebut dengan menggunakan jenis hibrida ini.

Dengan meniru cara petani Cina membudidayakan kapas bisa jadi hasil tersebut juga dapat diraih petani di Indonesia. Kalaupun tidak bisa mencapai 4 ton, tentunya tidak anjlok hingga dibawah 1 ton/ha.

Menurut Donatus Direktur PT, Supin Raya, distributor benih kapas hibrida, di negara asalnya kapas ini dikelola secara secara intensif. Setidaknya hal ini sudah diawali sejak pembibitan. Dimana benih terlebih dahulu disemaikan dan kemudian dibibitkan di dalam polibeg.

Sedangkan untuk pemupukan, petani memberikan pupuk secara memadai. Bahkan 2 x lebih banyak dari standar pemupukan kapas di Indonesia. Jika mengacu pada standar kebutuhan pupuk di Indonesia, tanaman kapas memerlukan pupuk 50 kg Za, 100 kg KCl, SP36 dan urea. Maka di Cina, untuk urea saja, tanaman kapas bisa mendapatkan pupuk hingga 200 kg.

Hal lain yang penting untuk diperhatikan, menurut Donatus, budidaya kapas di Cina umumnya dilengkapi dengan pengairan teknis. Sehingga tanaman kapas di negara tirai bambu tercukupi kebutuhan airnya.

Selama pertumbuhan vegetatif, mulai dari saat tanam, tanaman kapas itu memerlukan pengairan. Maka pengairan untuk kapas tidak bisa diharapkan dari hujan, harus ada irigasi teknis atau penyiraman. Sedangkan pertanam kapas di Indonesia tidak dilengkapi pengairan teknis.

Dan berbeda dengan kebiasaan petani di Indonesia, petani di Cina menanam kapas secara monokultur. Sehingga tanaman kapas bisa mendapatkan nutrisi secara memadai tanpa harus bersaing dengan tanaman lain.

Lalu, bagaimana kapas ditanam di Indonesia. Saat ini ada 3 jenis kapas hibrida yang telah dilepas menjadi benih bina, yakni HSD 31, HSD 138 dan HSC 188. ketiga varietas ini telah digunakan secara luas khususnya di wilayah Sulawesi yang merupakan sentra pengembangan kapas di Indonesia.

Berbeda dengan petani di Cina, kapas di Indonesia umumnya ditanam secara polikultur. Apakah itu dengan kacang kedelai, kacang tanah atau jagung. Akibatnya terjadi persaingan hara dan sinar matahari dengan tanaman kapas. Hal ini diduga menjadi salah faktor penyebab rendahnya produktivitas tanaman kapas di Indonesia

Terkait pembibitan, petani umumnya menanam langsung benih kapas langsung di pertanaman. Bahkan dengan kedalaman yang tidak tepat sehingga akhirnya banyak benih yang tidak tumbuh.

Menurut Donatus, hal inilah yang kemudian menimbulkan anggapan jika daya kecambah kapas hibrida rendah. Padahal sebenarnya hal ini terjadi karena kesalahan dalam perlakuan benih.

Disamping itu petani umumnya tidak melakukan pemupukan dengan tepat, bahkan lebih rendah dari standar pemupukan kapas di Indonesia. Serta tanaman juga tidak mendapatkan pengairan yang memadai. Tanaman yang seharusnya memerlukan perawatan serius oleh petani ditanam dengan ala kadarnya. Sehingga wajar tanaman tumbuh dengan tidak optimal.

Walaupun demikian, Donatus menjelaskan, bahwa di beberapa wilayah di Sulawesi Kapas Hibrida bisa mencapai potensi 2 - 4 ton/ha. Setidaknya hal ini dialami sejumlah petani di Kabupaten Soppeng, Bone dan Wajjo. Karena petani di Kabupaten tersebut melakukan pemeliharaan tanaman dengan baik.

“Sedangkan di beberapa daerah lainnya hasilnya kurang menggembirakan, tidak mencapai 1 ton antara lain di Bantaeng, Sinjai dan Bulukumba. Hal ini, diakibatkan kesalahan teknis dalam penanaman. Sertanya adanya faktor non-teknis karena curah hujan yang tidak teratur”, tambah Donatus.

Maka menurut Donatus untuk meningkatkan produksi kapas nasional petani perlu mendapatkan bimbingan teknis tentang cara budidaya tanaman kapas yang tepat. Karena kalaupun benihnya unggul namun tidak dipelihara tidak baik, hasilnya akan tetap saja tidak memuaskan.

Oleh sebab itu di lapangan petani-petani kapas sangat membutuhkan tenaga pendamping yang sebaiknya disediakan oleh Instansi pemerintah. Merekalah yang menjadi ujung tombak perubahan perilaku petani bercocok tanam.

Disamping itu petani harus mendapatkan manfaat bertani kapas yang melebih tanaman lainnya. Kalau tidak maka petani akan tetap tergiur untuk menanam kapas secara tumpang sari.

Seadainya saja dengan monokultur sudah mendapatkan keuntungan yang besar, pasti petani akan mau menanam kapas dengan sungguh-sungguh. Menurut Donatus harga dasar ideal pembelian kapas petani sebaiknya di atas Rp. 5.000,-.

Disamping itu juga pemerintah perlu membantu petani untuk menyediakan bantuan peralatan khususnya untuk melakukan pengairan. Karena air adalah hal krusial dalam budidaya kapas. Demikian ditambahkan Donatus.

Perilaku Petani dan Perakitan Varietas
Namun merubah budaya tentunya hal tidak mudah. Apalagi perubahan tersebut tidak berhubungan nyata dengan peningkatkan pendapatan petani.

Menurut Emy Sulistyowati, peneliti Balai Tanaman Tambakau dan Serat Malang Petani di Indonesia cenderung memilih menanam kapas secara tumpang sari, karena mereka mengharapkan penghasilan tambahan dari tanaman selain kapas.

Dan kondisi ini tentunya tidak menguntungkan bagi pengembangan kapas hibrida, yang pada dasarnya memerlukan perhatian yang intensif, sehingga idealnya ditanam secara monokultur.

Namun, menurut Emy Sulistyowati, kebiasaan petani demikian adalah hal yang harus diperhatikan dalam melakukan perakitan dan introduksi bahan tanaman. Jadi bahan tanam yang unggul itu masih bisa memberikan hasil yang mumpuni meski ditanaman dalam kondisi yang kurang baik.

Seperti halnya kapas lokal Kanesia 8 yang cukup disukai petani meskipun pada dasarnya potensinya lebih rendah dari kapas hibrida. Varietas tersebut masih mampu mencapai produksi hingga 1 ton meskipun ditanam secara tumpang sari di sejumlah daerah. Hal ini yang mengakibatkan mengapa petani memilih varietas lokal ini untuk ditanam.

Dan, ditambahkan Emy Sulistyowati , Seperti halnya kapas Cina, kapas lokal inipun kalau dipelihara sesuai standar teknis, hasil bisa melampaui potensi rata-rata. Misalnya seperti yang terjadi di PT. Ade Agro Industri di Sumba yang bisa mencapai 5 ton dengan tanaman kanesia 8. Dimana kapas tidak hanya terpenuhi untuk kebutuhan air, namun juga memperoleh pupuk 3 lebih banyak dari standar kebutuhan pupuk untuk kapas.

Maka, menurut Emy Sulistyowati, untuk melakukan introduksi maka perilaku petani dalam bercocok tanaman perlu juga menjadi pertimbangan. Utamanya petani harus diajarkan bertanam kapas sesuai standar teknis budidaya kapas.

“Namun selagi dalam proses perubahan belum terjadi sepenuhnya, perlu juga diperkenalkan bahan tanam yang relatif masih menghasilkan produksi yang menguntungkan meskipun ditanam dalam kondisi pertanaman yang kurang baik. Sehingga petani tetap tertarik mengembangkan komoditas tersebut”, tambah Emy Sulistowati.

Oleh sebab itu kendala yang perlu diperhatikan pada program akselerasi pengembangan kapas adalah perilaku petani dalam melakukan penanaman. Mengingat 20.000 Ha kapas bakal dikembangkan di Indonesia pada tahun 2009 ini.

Maka selain bahan tanam unggul yang perlu disediakan, petani juga harus dibekali pengetahuan dan kemampuan bercocok tanam yang baik. Serta didukung sarana dan prasarana yang memadai.

Namun jika hal ini kurang mendapatkan perhatian pemerintah maka bisa jadi impian Indonesia meningkatkan produksi kapas nasional melalui perluasan areal menjadi tidak signifikan hasilnya. Akhirnya akhirnya program akselerasi pengembangan kapas meleset dari sasaran. Alias gagal dalam pelaksanaannya seperti halnya program pengembangan jarak pagar yang merana dan tidak jelas arahnya.

CARA MENANAM BENIH UNGGUL JARAK PAGAR " JATROMAS"

1. Rendam biji Jarak Pagar selama 12 jam dalam air yang dicampur fungisida.

2. Masukan 1-2 biji Jarak Pagar sedalam ± 5 cm ke dalam media campuran tanah, kompos dan pasir (perbandingan 1 :1 : 1 ) yang sudah diwadahi polybag. Bagian radikula (akar lembaga) terletak di bawah.

3. Tempatkan di bawah tempat yang teduh dan tidak terkena sinar matahari di atas jam 10 pagi, jaga kelembaban dengan penyiraman 2-3 kali sehari disesuaikan dengan kondisi kelembaban media.

4. 2 bulan kemudian siap untuk dipindah ke lapangan ditandai dengan jumlah daun lebih dari 3 helai dan tinggi sekitar 30 cm.

5. Penanaman diusahakan disiram sampai tanaman bertunas, dan penanaman dilaksanakan pada awal musim penghujan.





Untuk pemesanan benih ini dapat menghubungi Bapak Roy di nomor +628159555028

PT. Bumi Mas Eka Persada
Plaza BII, Menara II, Jl. M.H. Thamrin No. 51. Jakarta 10350

Kamis, 05 Maret 2009

MARKA MOLEKULER DAN PERLINDUNGAN HAK INTELEKTUAL PEMULIA TANAMAN


Marka Molekuler adalah upaya membedakan karateristik tanaman pada tingkat gen. Penggunaan marka molekuler utamanya untuk memonitor variasi susunan DNA di dalam dan pada sejumlah spesies serta merekayasa sumber baru variasi genetic dengan mengintroduksi karakter-katakter baik yang baru dari landraces dan spesies-spesies liar.

Teknologi pembeda pada tingkat genetika menjadi penting terkait dengan perlindungan hak kekayaan intelektual. Para pemulia bisa melindungi varietas temuannya tidak hanya teridentifikasi secara anatomi namun juga secara genetika.

Sehingga sebuah tanaman yang agak berbeda secara fisik tidak dapat diklaim pihak lain sebagai hasil pemuliaanya, jika nyatanya memiliki kesamaan genetic dari bahan tanam milik seorang.

Di Indonesia sendiri terdapat beberapa metoda melakukan marka molekuler. Antara lain RAPD (Random Amplified Polymorphic DNA), mikrosatelit, SNP (Single Nucleotide Polymorphisms) dan AFCD (Amplified Fragment Length Polymorphism).

Namun dari keempat metode tersebut mikro satelit cenderung lebih populer dan telah diterapkan pada tanaman sawit, kelapa dan kakao. Dimana matode ini tidak hanya bisa mengidentifikasi variasi genetis namun juga mengetahui jenis gen-gen yang resesif.

Langkah awal pelaksanaan marka molekuler adalah mengambil bagian tanaman, biasanya berasal dari daun muda. Kemudian diisolasi DNA-nya, kemudian dicari mana bagian yang bertanggung jawab terhadap karakter unggul pada tanaman.

Biasanya DNA yang diisolasi kemudian akan dihubungkan dengan bank data genetika, untuk mengidentifikasi gen dan menduga karakter yang diekspresikan.

Melalui marka molekuler maka kepemilikan varietas akan diperkuat dengan identitas tanamannya secara spesifik dalam bentuk gambar atau karakter gen. Dan informasi tersebut menjadi data pendukung deskripsi fisik yang diperloleh dari hasil observasi langsung di lapangan.

Analisis ini marka molekuler ini menjadi penting karena karakter tanaman pada dasarnya hasil interaksi antara faktor genetis dengan lingkungan. Sehingga tanaman yang pada dasarnya masih satu jenis menjadi berbeda secara fisik karena perbedaan perlakukan atau lingkungan.

Misalnya tanaman jarak yang ditanam di tanah marginal akan tumbuh lebih pendek dibandingkan dengan yang ditanam di tanah yang subur, meskipun kedua tanaman tersebut memiliki jenis yang sama. Sehingga bisa jadi kemudian disimpulkan kalau tanaman tersebut memiliki jenis berbeda.

Oleh sebab itu salah satu cara mengindentifikasi persamaan atau perbedaan jenis dibalik keragaman karateristik fisik adalah melihat variasi pada tingkat gen. Dan hal ini tepat untuk mencegah double claim terhadap kepemilikan sebuah varietas tanaman.

Maka para produsen benih perlu mempertimbangkan marka molekuler sebagai penanda dari bahan tanaman yang diklaim. Setidaknya ini bermanfaat untuk melindungi varietas yang dimiliki. Serta mencegah timbulnya masalah terkait hak kepemilikan sebuah temuan varietas. Agar bahan tanam yang diklaim benar-benar tidak pernah dihasilkan sebelumnya.

Salah satu lembaga pemerintah yang sudah bisa melaksanakan marka molekuler adalah BB Biogen Bogor. Dan layanan ini perlu dimanfaatkan oleh para produsen benih di Indonesia.

Alamat Balai Besar Penelitian & Pengembangan
Bioteknologi dan Sumber Daya Genetika Pertanian

Jl. Tentara Pelajar 3A, Bogor 16111
Tel. (0251) 337975, 339793
Fax (0251) 338820

Minggu, 01 Maret 2009

TERSEDIA BENIH SAWIT SOCFINDO KUALITAS UNGGUL

Ini adalah waktu yang tepat mendapatkan benih Socfindo. Karena ke depan benih unggul ini bisa saja kembali langka.

Saat ini tersedia stok benih sawit Socfindo. Konsumen bisa mendapatkannya tidak saja untuk kebutuhan dalam jumlah kecil,namun juga dalam partai besar. Untuk tahun ini benih Socfindo dijual dengan harga Rp. 9.500,-/kecambah. Dengan standar mutu benih yang terjamin kualitasnya. Seperti memiliki daya kecambah tinggi serta bebas kotoran dan hama dan penyakit.

Untuk pemesanan hingga 100 ribu kecambah dapat direalisasikan hanya dalam waktu 1 bulan. Sedangkan untuk pesanan partai besar memerlukan waktu 3 bulan.

Benih Socfindo Disukai Konsumen
Menggunakan benih Socfindo adalah pilihan yang tepat. Karena PT. Socfindo merupakan sumber benih terkemuka di tanah air. Benih produksinya telah digunakan luas, baik di dalam maupun luar negeri.

Setiap tahun jutaan kecambah disalurkan kepada konsumen. Bahkan tahun lalu, 2008, PT. Socfindo kewalahan memenuhi pesanan.

Bahkan kondisi ini dimanfaatkan oleh para oknum untuk menjual benih oplosan dengan memalsukan label Socfindo. Tujuannya untuk mendapatkan keuntungan dari kekuatan brand Socfindo.

Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat maka tahun 2009 ini PT. Socfindo mencanangkan target produksi hingga 50 juta kecambah. Dan sejak tahun lalu sumber benih tersebut telah menambah jumlah tanaman induk yang diaktifkan, untuk meningkatkan kapasitas produksi benih.

Gambar. Prosesing Benih Berteknologi PT. Socfindo

Keunggulan Benih Socfin
Benih Socfindo telah terbukti keunggulannya. Antara lain dapat diperoleh tanaman dengan produksi rata-rata hingga 28 ton TBS /ha/tahun. Sedangkan produksi optimal bisa mencapai 40 ton TBS/ha/tahun.

Lebih menariknya lagi rendemen minyak dari sawit asal Socfindo bisa mencapai 25 persen. Dengan produksi rata-rata CPO mencapai 7 ton CPO/ha/tahun.

Hal inilah yang dirasakan para petani di daerah Langkat dan Labuhan Batu yang menggunakan benih asal Socfindo. Merekapun terimbas berkah dari keunggulan tersebut.

TBS produksinya lebih disukai pabrik. Bahkan mendapatkan selisih harga pembayaran Rp. 200,- lebih tinggi dari petani lainnya. Pabrik merasa diuntungkan karena sawitnya lebih mudah diproses dan hasil minyaknya lebih tinggi.


Dan ternyata benih sawit asal Socfindo tidak hanya menjadi favorit di dalam negeri. Ternyata juga disukai di luar negeri. Terbukti sumber benih tersebut mendapatkan pesanan benih dari Amerika Latin, antara lain Colombia, Peru dan Ekuador.

Fenomena ini menarik. Jika konsumen benih di Indonesia lagi gendrung dengan benih asal Costarica, Amerika Latin. Nyatanya negara asal Amerika Selatan malah memilih impor benih asal Socfindo.

Konsumen di negara itu tertarik dengan produksi dan rendemen minyak tinggi yang bisa diraih dari bahan tanam asal Socfindo. Dan hingga saat ini saja jumlah pesanan telah mencapai 10 juta kecambah.

Jadi bagi calon konsumen benih yang ingin mendapatkan benih unggul, maka benih asal Socfindo adalah pilihan yang tepat. Dijamin akan sangat menguntungkan.

Pemesanan Benih
Untuk memesan benih Socfindo dilakukan secara tertulis dengan melampirkan SP2BKS (Surat Persetujuan Penyeluran Benih Kelapa Sawit)yang berasal dari Dinas Perkebunan Propinsi/Kabupaten dimana kebun berada. Serta persyaratan legalitas lainnya. Maka dapatkan sekarang benih unggul bermutu milik PT. Socfindo.

Untuk informasi lebih lanjut hubungi
PT. Socfin Indonesia
Jl. K.L. Yos Sudarso No. 106 Medan
Sumatera Utara Indonesia
Telp: 061-6616066 ext 128 – 129
061-6638010 (direct)
Fax: 061-6614390
dapat juga melalui pengelola blog ini

(info lengkap tentang tata cara pemesanan benih beserta contoh form isian terdapat dalam paket e-file benih sawit)

BAKRIE SUMATERA PLANTATIONS KEMBANGKAN BENIH UNGGUL SAWIT


Tren peningkatan nilai ekonomis minyak sawit dan produk turunannya di pasar internasional mendorong BSP mengembangkan material Tenera secara komersial dengan bibit dari Costa Rica di Seed Garden Project, Kisaran, Sumatra Utara.

Arie Wibisono, Support Vice President BSP, mengatakan benih unggul itu memungkinkan penanaman kelapa sawit lebih banyak yaitu dari 140 pohon per ha menjadi 160 pohon per ha.

Benih baru itu ditargetkan bisa menghasilkan 40 ton tandan buah segar per ha dengan tingkat rendemen 25% dan masa produksi lebih dari 25 tahun.

"Kalau perhitungan kami produksinya bisa dinaikkan sekitar 10 ton per ha menjadi lebih dari 40 ton per ha. Kebun benih kami akan mulai berproduksi pada 2011," katanya di Kisaran, kemarin.

Harga benih sawit di pasar, sambungnya, berada pada kisaran Rp6.000 per biji. Dia memperkirakan BSP dapat menjual di bawah harga itu pada saat benih tersebut di lempar ke pasar.

Bambang Eka Syahputra, manajer Seed Garden Project, menambahkan produksi benih dari pohon induk yang didatangkan dari Kosta Rica itu akan mencapai 3,8 juta benih pada 2012 dan melonjak menjadi 6,6 juta pada 2014.
"Potensi produksi akan dicapai pada 2018 dengan jumlah 15 juta benih. Kami juga bisa meningkatkan kapasitas produksi benih menjadi 50 juta benih,"katanya.

Proyek Kerja Sama
Seed Garden Project merupakan kerja sama BSP dengan ASD de Costa Rica sebagai penyedia tanaman induk dura dan tanaman induk psifera, yang akan menghasilkan Tenera komersial.

Pembangunan kebun induk dilakukan pada 2006-2009 dengan total areal 262 ha di Serbangan Estate, Kisaran terdiri dari 7 ha pembibitan dan kebun induk 255 ha.

Bambang menjelaskan pembangunan nursery seluas tujuh ha itu dimulai pada 1 Agustus 2006.?

"Agar kebun induk bisa berproduksi pada 2011, kami membangun DxP test cross seluas 170 ha sebagai tempat seleksi calon pohon induk.? Bibitnya akan masuk Maret 2008."

Arie melanjutkan kelapa sawit yang dibudidayakan di Indonesia biasanya tumbuh dengan daun yang panjang dan relatif tinggi sehingga pada beberapa tahun sulit dipanen karena tinggi pohon itu.? Sedangkan panjang daun membatasi populasi pohon sekitar 140 batang per ha.

Dengan bibit dari Costa Rica itu, katanya, tinggi pohon menjadi lebih lambat dan panjang daun lebih pendek sehingga mempermudah pemanenan dan memungkinkan penanaman menjadi 160 pohon per ha.??

Sifat unggul itu, ujar Arie, memungkinkan produksi yang lebih banyak dibandingkan dengan kelapa sawit yang biasa ditanam di Tanah Air.

Meski Seed Garden baru berproduksi pada 2011, jumlah produksi komersial sekitar 600.000 bibit baru cukup untuk memenuhi kebutuhan kebun BSP sendiri, Arie mengklaim sudah menerima pesanan dari sejumlah investor (Lutfi Zainudin)

Sumber: Bakrie & Brothers

Sabtu, 28 Februari 2009

TAMPILKAN TULISAN ATAU IKLAN ANDA DI BLOG INI

Bagi rekan-rekan yang memiliki informasi atau pengetahuan menarik tentang perbenihan/pembibitan tanaman perkebunan dan ingin dibagikan kepada para pembaca di dunia maya, kami memberikan kesempatan untuk menampilkannya di blog ini. Caranya cukup kirimkan via email ke hendra_has@deptan.go.id. Tulisan tersebut akan kami evaluasi sebelum kemudian kami putuskan untuk ditampilkan atau tidak.

Sedangkan rekan-rekan yang ingin mempromosikan produk perkebunan seperti bibit, pupuk atau hasil produksi, dapat mengirimkan materi iklan melalui email hendra_has@deptan.go.id. Namun terlebih dahulu menghubungi pengelola blog ini melalui nomor 085925077652. Kami juga siap membantu untuk pembuatan materi tulisan untuk promosi.

Jumat, 27 Februari 2009

MEKARSARI SUMBER BENIH KELAPA SAWIT DI PULAU JAWA


Siapa bilang benih unggul bermutu hanya bisa didapatkan di Sumatera. Saat ini para konsumen juga bisa mendapatkannya di Pulau Jawa.

Mungkin belum banyak yang mengetahui jika Mekarsari, yang lebih dikenal sebagai pengelola taman wisata buah , merupakan salah satu sumber benih sawit. Dan satu-satunya penyedia benih sawit di Pulau Jawa. Mekarsari menjalin kerjasama waralaba dengan produsen benih asal Malaysia Sasaran Ehsan Utama. Sehingga Mekar Sari memperoleh hak memproses dan memasarkan kecambah milik produsen benih sawit tersebut di Indonesia.

Tentu kehadiran Mekarsari sebagai sumber benih sangat menguntungkan bagi konsumen benih. Pertama, penyedia benih di Indonesia bertambah satu lagi, sehingga konsumen memiliki banyak pilihan untuk memperoleh benih. Kedua, konsumen tidak perlu susah-susah mendapatkan benih harus sampai ke Sumatera.

Apalagi bagi yang memiliki kebun di daerah Kalimantan, Sulawesi, Maluku maupun Papua, akan lebih efisien dari segi biaya pengiriman jika benih diperoleh dari Pulau Jawa. Karena kalau saja benih dikirim dari Sumatera ke Sulawesi setidaknya harus transit di Jakarta. Namun jika dari dari Mekarsari, benih langsung dapat dikirim ke Sulawesi atau daerah Indonesia Timur lainnya via Bandara Soekarno-Hatta.

Dan menfaat ketiga, konsumen, Dan tidak perlu repot-repot mengimpor benih unggul milik Sasaran Ehsan dari Malaysia. Cukup memesannya melalui Mekarsari.

Melalui kerjasama waralaba, benih asal Ehsan Malaysia dikirimkan ke Mekarsari dalam bentuk pre-heated. Kemudian diproses lebih lanjut hingga berkecambah dan siap disalurkan kepada konsumen. Dan proses dan penyaluran benih ini dilaksanakan oleh PT. Sasaran Ehsan Mekarsari yaitu anak perusahaan PT. Mekar Unggul Sari, pengelola Taman Wisata Mekarsari.

Gambar. Kecambah Milik Mekarsari

Untuk melakukan proses tersebut Mekarsari telah membangun fasiltas seeds processing unit (SPU) seluas 600 m2. Lokasinya berdampingan dengan taman wisata Mekarsari .

Konon benih yang dipasarkan oleh Mekar Sari adalah dari jenis tanaman sawit yang sudah terbukti keunggulannya. Yakni dapat mencapai potensi produksi hingga 35 ton TBS/ha/thn. Sehingga layak dijadikan pilihan untuk pertanaman. Dan saat ini tersedia stok yang siap disalurkan kepada konsumen yang membutuhkan benih sawit.

Gambar. Tanaman Sawit di antara Kebun Buah Mekarsari

Untuk mendapatkan benih Mekarsari tentunya mengikuti prosedur yang berlaku yakni dengan terlebih dahulu mendapatkan SP2BKS ( Surat Persetujuan Penyeluran Benih Kelapa Sawit) dari Dinas Perkebunan Kabupaten/Propinsi dimana lokasi kebun berada (info lengkap tentang tata cara pemesanan benih beserta contoh form isian terdapat dalam paket e-file benih sawit) . Setelah itu melakukan pemesanan secara tertulis ke Mekar Sari dilampirkan dengan SP2BKS tersebut.

Dengan demikian Mekarsari tidak hanya mengelola salah satu pusat pelestarian keanekaragaman hayati buah-buahan tropika terbesar di dunia, namun juga salah satu penyedia benih unggul sawit di Indonesia yang lokasinya dekat dengan ibukota Jakarta yakni, di Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

PT. Sasaran Ehsan Mekarsari
Taman Wisata Mekar Sari
Jl. Raya Cileungsi - Jonggol Km.03,
Kab. Bogor 16820.



Kamis, 26 Februari 2009

HATI-HATI MEMALSUKAN BENIH PPKS


Benih sawit asal PPKS cukup diminati konsumen. Disamping karena varietas unggul, nama “Marihat”, salah satu varietas milik Pusat Penelitian Kelapa Sawit Medan (PPKS), sudah cukup branded atau dikenal masyarakat.

Namun kondisi demikian adakalanya dimanfaatkan oleh para oknum untuk menjual benih oplosan alias benih palsu dengan label marihat. Bahkan benih Marihat palsu ini banyak ditawarkan melalui internet. Cara-cara yang mereka lakukan untuk memperdaya konsumen antara lain dengan memalsukan kemasan, label, DO (delivery order).

Hanya saja, PPKS telah menyiapkan trik-trik untuk mencegah benihnya dipalsukan di pasar. Dan setiap petugas pengawas peredaran benih juga dibekali kemampuan untuk membedakan benih palsu dan asli dari dokumen yang dimiliki.

Setiap benih bermutu asal PPKS setidaknya harus dilengkapi DO (delivery order), label, daftar persilangan serta Surat tanda serah terima. Disamping dokumen yang dikeluarkan oleh instansi pemerintah. Setiap dokumen ini memiliki kode-kode khusus yang mustahil diduplikasi.

Misalnya saja keaslian DO ditentukan oleh ciri khusus yang tidak dapat dilihat dengan kasat mata kecuali dengan alat khusus yang hanya dimiliki PPKS. Untuk label terdapat kode khusus yang akan berhubungan kode pada data base yang rumit di PPKS Medan sehingga tidak bisa ditiru. Demikian dengan daftar persilangan terdapat kode-kode spesifik yang berbeda antara benih.

Penyebaran benih palsu umumnya terdeteksi di bandara maupun pelabuhan oleh petugas karantina. Atau pada pemeriksaan kepolisian terhadap truk yang melintasi jalan-jalan utama antar propinsi.

Untuk pemeriksaan benih di lapangan, petugas dari kepolisian dan karantina senantiasa berkoordinasi dengan pengawas benih tanaman yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Dimana pengawas benih tanaman memiliki keahlian untuk mengetahui adanya pemalsuan benih, serta dapat segera menghubungi PPKS setiap saat ketika menemukan indikasi pemalsuan benih milik sumber benih tersebut.

Pengawas benih akan memeriksa dokumen dari benih yang masuk, dan kemudian mengcross check dengan PPKS untuk mengkonfirmasi apakah benih tersebut ini asli. Bahkan dalam beberapa kasus petugas sudah dapat memastikan keaslian benih dari kemasan plastik yang digunakan. Karena benih asal PPKS menggunakan plastik dengan tekstur khas dan jarang disadari para pemalsu benih.

Salah satu kasus pemalsuan benih yang pernah terjadi, dan termasuk yang cukup canggih, adalah duplikasi kemasan, label, DO (delivery order) dari benih PPKS yang baru dikirim. Artinya dokumen yang dipaslukan meniru dokumen asli dari benih PPKS yang akan disalurkan. Namun ketatnya sistem pengkodean dan pengawasan di lapangan membuat usaha ilegal tersebut terbongkar. Karena duplikasi label hanya bisa memperdaya konsumen namun tidak untuk petugas. Dan si pelaku dijebloskan ke penjara.

Sehingga saat ini perlu berpikir dua kali untuk memalsukan benih PPKS Medan. Apalagi Kepolisian RI telah melakukan kesepakatan terkait dengan pemberantasan benih palsu dengan Departemen Pertanian. Peredaran benih palsu ditetapkan menjadi salah satu kejahatan serius.

Sehingga orang yang membawa benih tanpa dokumen atau kelengkapan palsu sama statusnya dengan pelaku pembawa dan pengedar narkoba atau obat-obat terlarang. Atau dengan kata lain pengedaran benih tidak dilengkapi dokumen resmi merupakan kriminalitas yang wajib menjadi sasaran tangkap pihak kepolisian.

Dan bagi pihak-pihak yang kedapatan memalsukan benih milik PPKS, atau sumber benih lainnya sanksi hukum yang berat di depan mata. Yakni hukuman penjara hingga 5 tahun dan denda ratusan juta. Mungkin sanksi hukuman ini cukup mengejutkan bagi pelaku yang barangkali menganggap pengedaran benih sawit tidak bersertifikat adalah sebuah kejahatan kecil.

Namun ini perlu, untuk memberikan shock terapi. Apalagi pemalsuan benih sesungguhnya bukan kejahatan ringan. Mengingat kerugian yang diderita petani bisa mencapai ratusan juta, karena tanaman yang bakal diperoleh memiliki produksi rendah. Bahkan ada yang tidak berproduksi sama sekali. Kondisi demikian tentunya tidak menguntungkan petani. Apalagi modal yang dikeluarkan untuk pembangunan sawit cukup besar.

Bahkan apabila pelakunya dibalik pengedaran benih palsu adalah pejabat negara maka akan langsung diberhentikan dari jabatannya. Hal ini terbukti pada banyak kasus melibatkan pejabat daerah yang kemudian dicopot jabatannya bahkan ada yang diberhentikan dari statusnya sebagai pegawai. Dan yang lebih berat tentunya sanksi sosial karena telah melakukan tindak kriminal. Karena yang seharusnya mereka lakukan melayani masyarakat dan bukannya menyengsarakan.