;

Kamis, 13 November 2008

PROSES PEMULIAAN KELAPA SAWIT


Secara umum, pemuliaan tanaman dapat didefinisikan sebagai rangkaian kegiatan penelitian dan pengujian atau kegiatan penemuan dan pengembangan suatu varietas, sesuai dengan metode baku untuk menghasilkan varietas baru dan mempertahankan kemurnian benih varietas yang dihasilkan. Untuk dapat menghasilkan dan mengembangkan varietas kelapa sawit, setiap institusi riset kelapa sawit harus memiliki beberapa hal sebagai berikut :

a. Populasi dasar dura dan tenera/pisifera

Seluruh kegiatan pemuliaan kelapa sawit berawal dari pembentukan populasi dasar yang terdiri atas grup dura, tenera, dan pisifera dari berbagai orijin di tingkat seleksi. Jumlah dan jenis orijin/famili yang digunakan oleh setiap lembaga riset dapat berbeda, bergantung pada arah pemuliaan dan kapasitas benih yang akan dihasilkan. Ketersediaan populasi dura dan populasi tenera/pisifera menjadi penting bagi sumber benih karena berkaitan dengan kesinambungan program pemuliaan. Dengan demikian diharapkan institusi yang menjadi sumber benih dapat melakukan aktivitas pemuliaannya (perakitan dan pengembangan varietas) secara independen, tanpa bergantung pada institusi lain. Hal penting lainnya dalam pembentukan populasi dasar ini adalah ketersediaan informasi pedigree (silsilah keturunan) yang jelas dari masing-masing orijin/famili dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

b. Prosedur Pemuliaan

Dalam bidang pemuliaan tanaman dikenal berbagai skema seleksi, dan yang sering digunakan pada pemuliaan kelapa sawit adalah reciprocal recurrent selection (RRS) dan modified recurrent selection (MRS). Secara umum, di setiap prosedur pemuliaan kelapa sawit terdapat tahapan inti mencakup pembentukan populasi dasar, evaluasi, seleksi, serta rekombinasi. Dari populasi dasar yang telah dibentuk dilakukan suatu tahapan evaluasi melalui pengujian keturunan (progeny test) untuk menganalisis dan menentukan persilangan terbaik yang akan direproduksi berdasarkan nilai daya gabung umum (GCA) dan daya gabung khusus (SCA) dari tetua (progenitor) yang diuji. Berdasarkan informasi daya gabung tersebut tersebut dilakukan seleksi untuk menentukan tetua-tetua yang dapat dijadikan pohon induk untuk produksi benih. Selain untuk menentukan materi pohon induk, pada tahapan seleksi ini juga dilakukan pemilihan tetua yang akan direkombinasikan untuk mencari materi persilangan dengan potensi yang lebih baik yang digunakan pada siklus pemuliaan berikutnya. Melalui rekombinasi diharapkan dapat membentuk suatu populasi dasar baru dengan sifat-sifat yang lebih baik dari populasi dasar sebelumnya.

c. Proses pengujian keturunan (projeni)

Pengujian keturunan merupakan rangkaian percobaan yang didesain untuk menilai dengan akurat keragaan suatu hibrida (persilangan). Pengujian ini merupakan suatu hal yang mutlak untuk dilakukan oleh setiap sumber benih, karena materi yang sampai ke tangan konsumen adalah hibrida DxP. Pengujian dilakukan mengikuti metode statistik baku, mencakup perancangan percobaan (jumlah persilangan, jumlah ulangan, jumlah individu, standard cross ), masa pengamatan (minimal selama 6 tahun setelah tanam), lokasi percobaan (dilakukan minimal pada 3 lokasi), dan metode analisis data yang digunakan untuk memprediksi nilai hibrida DxP yang akan direproduksi (Razak Purba, PPKS Medan*).

Ket*: Bapak Razak Purba, breeder senior di Pusat Penelitian Kelapa Sawit Medan

Senin, 10 November 2008

INGIN MENDAPATKAN BENIH SAWIT BERMUTU?

Bagi rekan-rekan yang ingin mendapatkan benih bermutu asal sumber benih untuk penyaluran tahun 2008 maupun 2009, silahkan menghubungi kami. Anda akan kami bantu mendapatkan benih sesuai prosedur yang berlaku dan tanpa perantara. Bagi yang berminat silahkan menghubungi kami di no 085925077652

Minggu, 09 November 2008

PEMELIHARAAN BAHAN TANAM NILAM DI PESEMAIAN


Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam perbanyakan tanaman nilam

Pertama, Untuk menjaga kelembaban, setek yang baru disemai perlu disiram dengan embrat.

Kedua, Penyiraman dilakukan setelah penyemaian, kemudian disungkup dengan sungkup plastik.

Ketiga, Penyiraman selanjutnya setelah 2-3 hari. Selama di dalam sungkup, penyiraman tidak perlu dilakukan setiap hari.

Keempat, Sungkup dibuka setelah tanaman berumur 2 minggu.

Kelima, Pemberian pupuk daun dan penanggulangan hama/penyakit (kalau diperlukan) dilakukan satu kali seminggu.

Keenam, Benih siap tanam setelah 1,5 bulan dipersemaian

(Dapatkan informasi lainnya tentang lengkap Nilam dalam e-file Nilam)

MEDIA PERKEBUNAN EDISI TERBARU



Beberapa cuplikan artikel menarik pada Media Perkebunan Edisi Terbaru

Ekspor Komoditas Perkebunan Ditengah Krisis Ekonomi Global
Krisis ekonomi golobal, yang dipicu oleh krisis keuangan di Amerika Serikat bagaimanapun akan mempengaruhi ekspor non migas Indonesia. Produk ekspor non migas utama Indonesia ke AS antara lain komoditas perkebunan, tekstil, sepatu dan produk kayu olahan. Dalam kurun waktu Januari-Agustus 2008, AS masih tetap menjadi favorit tujuan ekspor Indonesia dan menduduki tempat kedua setelah Eropa. Jepang menjadi tujuan ekspor non migas terbesar dengan nilai US$ 9,19 milliar, diikuti AS sebesar US$ 8,51 milliar. Pertumbuhan ekspor non migas Indonesia ke AS periode Januari-Agustus 2008 sekitar 11,58%. Hampir mencapai target pertumbuhan ekspor Indonesia 2008 yang sebesar 12,5%.


Prof. Roy Sembel & Guntur Tri Harijanto, Msi : Optimisme ditengah Gelombang Ketidakpastian

Kondisi perekonomian Indonesia pasca kuartal kedua diwarnai oleh inflasi setahun terakhir (year-on-year / y.o.y) sebesar 12,14% untuk bulan September, dan 10,47% sepanjang tahun (Januari-September) 2008. Sementara itu, nilai suku bunga acuan Bank Indonesia (SBI) ditingkatkan menjadi 9,50%, SBI terus ditingkatkan secara bertahap oleh BI sepanjang tahun ini. Setidaknya paling tidak telah terjadi lima kali peningkatan SBI dalam tahun ini. Di sisi lain, permasalahan ketatnya likuiditas perbankan nasional juga memberikan sentuhan tersendiri bagi perekonomian saat ini, ekpansi kredit perbankan yang meningkat pesat namun kurang diimbangi dengan penghimpunan dana masyarakat yang memadai.

DR. Adler Haymans Manurung & Arga Paradita : Dampak Krisis Harga CPO Terhadap Kinerja Emiten Perkebunan di Bursa Efek Indonesia
Sebagai negara agraris yang memiliki iklim dua musim dan curah hujan yang tersedia sepanjang tahun dengan rata-rata curah hujan 2000 mm/th menjadikan sebagian besar lahan di Indonesia cocok sebagai tempat tumbuh beberapa tanaman, apalagi dengan masih tersedianya luasan areal yang dapat ditanami. Kondisi ini memungkinkan banyak investor baik asing maupun lokal menanamkan modal pada sektor perkebunan di Indonesia.

Gerakan Meningkatkan Produksi dan Mutu Kakao Indonesia
Pemerintah mulai tahun 2009 akan melancarkan Gerakan Peningkatan Produksi dan Mutu Kakao. Adalah Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla yang menetapkan gerakan ini pada pertemuan koordinasi pembangunan tanggal 6 Agustus 2008 lalu di Makassar –Sulawesi Selatan. Pertemuan ini dihadiri oleh beberapa Gubernur dan Bupati se-wilayah Sulawesi. Gerakan ini mendapat dukungan dari para Gubernur se Sulawesi, pihak perbankan, lembaga penelitian dan beberapa perguruan tinggi. Hal ini terlihat dengan adanya kesepakatan dari para pejabat berbagai instansi tersebut.

Media Perkebunan dapat diperoleh di Toko Buku Gramedia dan Gunung Agung. Untuk informasi berlangganan kunjungi website Media Perkebunan

Sabtu, 08 November 2008

ANTISIPASI TERHADAP KRISIS HARGA KELAPA SAWIT


Di bawah ini adalah beberapa poin pernyataan Direktur Jenderal Perkebunan, Ahmad Mangga Barani, tentang antisipasi pemerintah terhadap krisis harga kelapa sawit. Hal ini disampaikan beliau dalam wawancana dengan wartawan media Info-Sawit dan media Perkebunan, beberapa minggu yang lalu.

Pada awal statementnya Direktur Jenderal Perkebunan menjelaskan, bahwa yang terkena dampak kerugian terbesar adalah petani swadaya, yang menerima harga pembelian TBS 300/kg (pada saat wawancara). Karena mereka langsung berhadapan kondisi pasar yang real.

Sedangkan petani inti-plasma masih meninkmati harga yang lebih baik, yakni sekitar Rp. 600/kg (pada saat wawancara). Hal ini karena harga yang diterima petani tidak didasarkan langsung pada harga pasar melainkan penetapan harga pada bulan sebelumnya.

“Ini adalah sisi positif dari sistem kerja sama Inti-plasma, yang saat harga CPO boom dikritik karena mengurangi keuntungan ekonomi yang bisa dinikmati petani, karena harga beli Inti lebih rendah dari harga pasar”, katanya.

Namun demikian, pemerintah tetap akan berusaha berupaya mengurangi beban petani dengan mendorong peningkatkan harga beli TBS. Serta akan mengurangi kewajiban-kewajiban di tingkat pengusaha yang akhirnya ditimpakan pada petani.

Langkah pertama adalah menyerap kelebihan supply CPO yang seharusnya di ekspor ke Eropa maupun ke Amerika Serikat ke pasar domestik. Dalam hal ini diarahkan untuk penyediaan bahan bakar bio-diesel di dalam negeri. Langkah kedua adalah mencari pasar-pasar potensial baru seperti Afrika, Timur Tengah dan Rusia.

Terkait dengan beban di tingkat pengusaha, Direktur Jenderal Perkebunan mengatakan, pemerintah akan menurunkan pajak ekspor pungutan ekspor menjadi 7,5 persen dan bukan tidak mungkin menjadi 0 persen. Tentunya dengan berbagai pertimbangan yang rasional. Tujuannya mengurangi beban pengusaha dan eksportir CPO yang secara tidak langsung dibebankan kepada petani.

Namun untuk jangka panjang menurut Direktur Jenderal Perkebunan, industri sawit perlu diarahkan untuk lebih terdiversifikasi. Tidak hanya melulu ekspor dalam bentuk CPO saja namun juga produk olahan dengan nilai tambah yang lebih tinggi. Sehingga produk dari sawit yang diekspor memiliki pangsa pasar yang lebih beragam dengan tingkat harga yang berbeda-beda pula.

Untuk petani, Direktur Jenderal Perkebunan mengingatkan perlunya menabung atau menyediakan dana mengantisipasi gejolak. Harga komoditas perkebunan yang berorientasi ekspor cenderung memiliki harga yang tidak stabil. Oleh sebab itu jika petani tengah menikmati harga yang boombastik, sebaiknya tidak lupa untuk menyisihkan keuntungannya untuk menghadapi resiko di masa yang akan datang atau melakukan investasi di bidang lain.

“Pengalaman harga naik dan turun secara tidak terduga bukan hal baru untuk komoditas perkebunan. Komoditas lainnya seperti cengkeh, nilam, vanili pernah mengalami hal demikian. Bahkan ada yang berakhir dengan tragis, menjadi komoditas yang tidak lagi menarik untuk dikembangkan. Oleh sebab itu perlu selalu waspada”, ungkap Direktur Jenderal Perkebunan.

ANDA BUTUH NARASUMBER PERBENIHAN?

Bagi rekan-rekan yang membutuhkan narasumber membahas berbagai topik tentang perbenihan perkebunan khususnya untuk komoditi kelapa sawit, karet, kakao, jarak pagar, nilam, jambu mete, dapat menghubungi kami di 085925077652 atau via email hendra_has@deptan.go.id.

Kami akan mendatangkan ahli-ahli di bidang perbenihan perkebunan sesuai dengan kebutuhan Anda. Mereka berasal dari Lembaga Penelitian, Universitas maupun praktisi.

Beberapa topik yang menarik untuk diulas (waralaba benih, tata cara membangun kebun benih tanaman perkebunan, tata niaga benih sawit, benih sawit palsu, prospek bisnis benih)

PENGEMBANGAN METABOLIT SEKUNDER ASAL TANAMAN DAN STRATEGI PENGGUNAAN SEBAGAI PESTISIDA NABATI


Dalam kaitan dengan pengendalian OPT, aspek yang perlu disimak secara seksama adlah peran ”senyawa penghubung” ini (infochemicals) dalam mengatur pertumbuhan populasi dan musuh alami. Konsep ini kemudian juga berkembang menjadi konsep three-trophic-level yang percaya bahwa tumbuhan juga mengatur populasi musuh alami.

Semiokimia dapat dimanfaatkan untuk pengendalian serangga hama dalam lingkungan PHT. Dari tumbuhan, hewan dan mikrob, semiokimia dikelompokkan lagi menjadi feromon dan alelokimia. Alelokimia dikelompokkan lagi menjadi alomon, kairomon, dan sinomon, antibiotika dan mikroba.

Dampak alelokimia pada ekodinamika tumbuhan dengan serangga
1) Alomon : menolak makan, menolak menelan, menghambat reproduksi, menghambat ganti kulit, menghambat enzim proteae. menghambat enzim respirasi 2) Kairomon : menari musuh alami 3) Sinomon : saling menarik dan 4) Feromon : mengacaukan perkawinan

Pencarian senyawa kimia baru dari tumbuhan, mikroba dan hewan akan terus dilakukan sejalan dengan teknologi analisis kimia yang semakin canggih. Eludisasi struktur kimia dari senyawa-senyawa kimia produk alami terus berkembang. Studi biokomia untuk mencari target dari senyawa kimia juga. Eludisasi struktur kimia dan penemuan target kerja senyawa alomon akan terus merangsang sintesis senyawa insektisida baru.

Telaah dan pencarian senyawa bersifat kairomon terus ditingkatkan, termasuk dampaknya pada perilaku mencari inang dari musuh alami. Senyawa alomon yang terus ditelaah untuk dikembangkan menjadi insektisida adalah senyawa yang bersifat menolak makan, menolak oviposisi, menghambat enzim, menghambat kerja neurotransmiter, mengganggu pertumbuhan (kairomon) dan mengganggu proses pencernaan. Feromon baru akan terus dicari dan disintesis. Penelitian dan pencarian genpengatur produksi alomon akan terus dilakukan untuk pengembangan tanaman transgenik tahan serangga.

Teknologi

Adanya potensi dari senyawa metabolik sekunder sebagai insektisida telah mendorong pengembangannya ke segala arah. Bidang inipun tidak liput dari pengembangan secara bioteknologi. Salah satu pendekatan adalah identifikasi gen pengendali produksi senyawa bioaktif ini dan berusaha untuk menyisipkan pada tanaman ekonomi.
Keberhasilan tanaman jagung dan kapas yang telah disisipi gen dari B.t. (Bacillus thuringiensis) telah memacu pemikiran kearah tanaman transgenik yang mampu menghasilkan senyawa pertahanan terhadap serangga.

Senyawa lain diminati adalah penghambat enzim proteinase paada serangga, khitin dan senyawa yang dapat menginduksi produksi senyawa metabolit sekunder. Trikhoma yang dapat menyebaerkan ketahanan pada tumbuhan telah pula mendapat perhatian dalam kaitan dengan tanaman transgenik.

Produksi senyawa metabolit sekunder untuk insektisida telah diusahakan lewat kultur jaringan seperti nimba, piretrum dan akar tuba. Perhatian telah diutamakan pada senyawa hormon serangga, penghambattransmisi syaraf dan kairomon.

Penemuan dari kegiatan elusidasi kimia senyawabioaktif merupakan modal utama untuk sintesis insektisida dalam skala industri dan saat ini hasilnya telah memasuki pasar.

Suatu teknologi juga telah dikembangkan berupa sistem polikultur dengan komponen tanaman yang memiliki senyawa volatil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa senyawa volatil dapat menurunkan reproduksi serangga. Sintesis feromon terus berkembang atas dasar penemuan feromon baru ataupun cara sedikit memodifikasi senyawa yang mirip feromon (sumber: Bio-Fob).

Rabu, 05 November 2008

INDONESIA EKSPLORASI PLASMA NUTFAH SAWIT KE ANGOLA

Tim pemulia kelapa sawit Indonesia akan melaksanakan joint exploration dengan tim dari Malaysia ke Angola. Kegiatan yang rencananya akan dilaksanakan April 2009 diharapkan dapat memperkaya koleksi plasma nutfah di Indonesia dan Malaysia.

Direktur Perbenihan dan Sarana Produksi, Direktorat Jenderal Perkebunan, Departemen Pertanian, Darmansyah Basyaruddin, mengatakan pemerintah Indonesia dan Malaysia telah bertemu dengan pemerintah Angola untuk kegiatan tersebut. “Pertemuan itu merupakan tindak lanjut dari kerjasama G to G ketiga negara,” katanya.

Pada pertemuan itu, Pemerintah Angola mendukung sepenuhnya kegiatan joint exploration.Sebagai timbal balik dari dukungan tersebut, Pemerintah Indonesia dan Malaysia akan menyumbangkan beberapa koleksi plasma nutfah dan membantu merehabilitasi kebun koleksi plasma nutfah di Angola. Selain itu akan membiayai dan memfasilitasi training pengelolaan plasma nutfah kelapa sawit bagi pemulia dari Angola.

Menurutnya, pelaksanaan eksplorasi rencananya akan difokuskan di 10 propinsi, yang merupakan wilayah konsentrasi berbagai jenis aksesi sawit di Angola. Tim pemulia asal Indonesia dan Malaysia yang dipandu tim dari Angola akan melakukan eksplorasi selama 1 bulan. Tim tersebut akan melakukan penelitian dari mulai jenis tanaman hingga observasi karakteristik agronomis dan kondisi lingkungan.”Dari masing-masing aksesi terpilih Indonesia nantinya akan mendapatkan 500 sampai 1000 biji untuk ditanam di dalam negeri,” ujarnya.

Darmasyah menjelaskan, dalam eksplorasi tersebut tim dari Malaysia hanya akan memfokuskan penjelajahan di wilayah pedalaman Angola. Pasalnya, negara tersebut sebelumnya pernah mengadakan kegaiatan yang sama sekitar 1990-an. Sedangkan Tim pemulia Indonesia rencananya akan mengeksplorasi di wilayah pesisir dan pedalaman, sehingga wilayah penjajakan diperkirakan akan lebih luas.

Lebih lanjut Darmansyah mengatakan, materi genetis hasil eksplorasi Angola akan menjadi koleksi di kebun plasma nutfah yang akan dibangun di Kabupaten Sinjunjung, Sumatera Barat. Untuk pengembangan benih di dalam negeri, plasma nutfah tersebut juga akan diberikan ke perusahaan sumber benih di Indonesia.
Selama ini menurut Darmansyah, materi genetis asal Angola mempunyai keunggulan yakni resisten terhadap kekeringan. Dengan demikian dapat dikembangkan di Indonesia, khususnya pada wilayah yang curah hujannya rendah.

Plasma nutfah merupakan materi dasar yang disilangkan untuk menghasil varietas baru. Dengan bertambahnya koleksi plasma nutfah Indonesia, pemerintah mengharapkan akan ada varietas-varietas baru dengan karakteristik yang berbeda.
Eksplorasi ke Angola merupakan bagian dari kegiatan eksplorasi plasma nutfah ke beberapa negara. Sebelumnya tim pemulia Indonesia telah mengadakan eksplorasi ke Kamerun. Biji akses terpilih dari hasil eksplorasi tersebut tengah dibibitkan di kebun milik PT. Socfindo.

Selain ke Angola, pemerintah juga berencana akan mengadakan eksplorasi ke sejumlah di wilayah Amarika Selatan, seperti Kostarika dan Brasil. “Kita ingin dengan makin banyaknya kerjasama eksploasi, Indonesia mempunyai koleksi plasma nutfah kelapa sawit yang beragam,” kata Darmansyah.